December 2007


Tubuh ibarat mobil yang selalu berjalan, perlu perawatan yang baik secara berkala.

Untuk keperluan itulah, Yudono Fundigiri menawarkan pengobatan secara menyeluruh yang ia sebut Body Reflexy.

“Selama Anda dalam suatu perawatan tradisional, mekanisme tubuh distimulasi sedemikian rupa, sehingga otak dirangsang mengeluarkan cairan yang menenangkan dan menyejukkan tubuh secara alami. Teori tradisional mengatakan bahwa perawatan tubuh adalah rileksasi. Dengan demikian, Anda akan merasa nyaman dan fit,” ujar pengobat yang tinggal di daerah Tomang, Jakarta Barat ini.

Menurutnya, ketika tubuh tidak dirawat, akan terasa tidak nyaman dikarenakan mekanisme tubuh yang kurang prima.

Lantas, apa bedanya refleksi dengan body reflexy?

Yudono menjelaskan, refleksi pada kebanyakan orang adalah pijat pada telapak kaki. Sebaliknya, body reflexy adalah pemijatan yang dilakukan dari titik ujung kepala hingga titik ujung kaki.

Ditambahkan Yudono, body reflexy tak sekadar pemijatan pada titik-titik saraf saja, tapi juga pada jalur-jalur meridian tubuh. Perbedaan lain teknik yang dikembangkan Yudono, pemijatan hanya dilakukan pada titik refleks, sedangkan body reflexy juga pada titik tertentu, seperti pijat dan jalur meridian.

Menurutnya Yudono, dalam teori TCM (Traditional Chinese Medicine) ada tiga unsur penting dalam usaha mempertahankan kesehatan, kebugaran, dan kecantikan tubuh. Pertama, mempertahankan daya tahan tubuh supaya tidak dipengaruhi oleh keadaan sekeliling, seperti angin, cuaca, musim, dan lingkungan hidup.

Kedua, selalu mengontrol atau mengamati emosi, seperti perasaan marah, gembira, sedih, berpikir, khawatir, takut, dan syok. Ketiga, mengontrol dan memperhatikan gaya hidup, apakah sudah selaras dengan hukum yang berlaku.

Penanganan Pasien

Yudono mengaku, pasien yang datang ke kliniknya adalah mereka yang mengalami gangguan migrain, sering mengompol baik balita maupun orang dewasa, kista, dan pendarahan terus-menerus saat menstruasi.

Meski demikian, ia juga mampu menghilangkan keluhan susah tidur, stres, alergi, kelebihan lemak, sinusitis, nyeri punggung, kencing batu, sembelit, darah tinggi, dan sakit maag.

“Penyakit pada organ tubuh bagian dalam lainnya juga bisa saya tangani. Hanya saja, semua perlu penanganan khusus. Saya sendiri lebih senang disebut ’menghilangkan’ ketimbang ’menyembuhkan’,” katanya.

Yudono memulai menangani pasiennya dengan memeriksa nadi tangan kiri. Setelah itu, ia memulai pemijatan dari kepala atau titik 1.000 poin.

Kata Yudono, karena ujung kepala merupakan pertemuan hampir semua meridian, populer disebut titik 1.000 poin. Yudono mulai memijat-mijat secara lembut di atas ubun-ubun.

Pemijatan diteruskan di daerah daun telinga, di bawah mata, langsung ke meridian lambung dan limpa. Setelah itu dilanjutkan ke daerah leher, punggung, tangan, dan kaki. Total waktu yang dibutuhkan Yudono untuk memijat tubuh pasien sekitar 1, 5 hingga 2 jam.

“Tubuh akan lebih sehat bila titik-titik di meridian lambung dan limpa sering dipijat. Sebab, lambung dalam teknik akupuntur melambangkan tanah. Tanah itu sendiri melambangkan manusianya. Lambung adalah organ tubuh yang menyerap makanan untuk pertama kali, sedangkan limpa merupakan sarana transportasi,” paparnya.

Pijat di daerah wajah biasanya untuk mengencangkan otot-otot wajah. Pijat di daerah telinga sama dengan di kaki, untuk memperbaiki organ tubuh yang bermasalah. Pijat di daerah tangan untuk jantung dan paru-paru, sedangkan di daerah punggung berhubungan dengan tulang belakang.

Tak Buka Pakaian

Menurut Yudono, saat dipijat, pasien tidak diwajibkan membuka pakaian supaya tidak merasa risih.
“Di tempat lain, biasanya pasien diminta membuka penutup di bagian tubuh yang akan dipijat karena harus diberi krim. Padahal, bagian tubuh yang akan dipijat merupakan daerah sensual.”
Sekadar untuk perawatan tubuh, Yudono menganjurkan pasien melakukan pemijatan seminggu sekali. Untuk menghilangkan keluhan, biasanya pasien diterapi sebanyak 6 kali.

Biaya yang ditawarkan Yudono untuk sekali terapi Rp 40.000 per orang. Untuk meringankan biaya terapi, Yudono juga menerapkan sistem paket, dua orang cukup membayar Rp 70.000. Untuk tiga orang, biayanya Rp 90.000, sedangkan 4 orang Rp 100.000.

Katanya lagi, ia pun menerima jasa panggilan. Artinya, Yudono siap datang untuk pasien yang ingin dipijat di rumah. @ Hendra Priantono

Jl. Delima No. 3 (Tomang Asli)
Jakarta Barat
Telp. (021) 5684282

Sumber : kompas.com

KISAH
Liem Swie King

SETELAH 14 tahun menghilang dari jangkauan pers, sejak mengundurkan diri sebagai pemain nasional, Liem Swie King tetap sosok yang rendah hati dan ramah. Saat ditemui di kantornya di Kompleks Perkantoran Grand Wijaya Centre Jakarta Selatan pertengahan April 2002, King sendiri yang keluar dari kamar kerjanya untuk menyambut.

Meski itu adalah awal perjumpaan, King di usianya yang ke-46 tahun jauh lebih gemuk bila dibanding foto-fotonya yang banyak dimuat di koran-koran kurun 1970-an dan 1980-an, langsung menyapa ramah. Bukan sekadar basa-basi, dia menanyakan dengan sungguh-sungguh kabar rekan wartawan yang dulu biasa bergaul dengannya.

“Apa kabar Valens Doy? TD Asmadi? Mereka masih kerja di Kompas?,” tanya King. Selain ramah penampilannya juga tetap sederhana. Meski usahanya di perhotelan dan pijat kesehatan mempekerjakan lebih dari 400 karyawan, King tetap saja berkantor dengan kemeja tanpa dasi dan bersandal kulit.

Liem Swie King dulu selalu menjadi buah bibir sejak dia mampu menantang Rudy Hartono di final All England tahun 1976 dalam usianya yang ke-20. Kemudian King menjadi pewaris kejayaan Rudy di kejuaraan paling bergengsi saat itu dengan tiga kali menjadi juara ditambah empat kali menjadi finalis. Bila ditambah dengan turnamen “grand prix” yang lain, gelar kemenangan King menjadi puluhan kali. King juga menyumbang medali emas Asian Games di Bangkok 1978, dan enam kali membela tim Piala Thomas. Tiga di antaranya Indonesia menjadi juara.

Kejayaannya sebagai jawara bulu tangkis dunia di masa lalu tidak tergambar di ruang kerjanya, tidak seperti kebanyakan mantan menteri atau pejabat yang suka mengumbar foto-foto semasa mereka berkuasa. Di ruangan luas yang ditata tanpa banyak perabot itu, tidak satu pun pemanis berupa tropi, medali, atau foto-foto yang memuat dia beraksi di lapangan bulu tangkis.

Ketika hal itu ditanyakan, King berkelit kalau ruangannya itu baru selesai direnovasi. Sesudah terus dipancing, King akhirnya mengakui, dia tidak pernah memajang bukti-bukti prestasinya. Semua foto dan medali masuk dalam lemari untuk disimpan rapi. Hanya beberapa tropi saja yang ditaruh di atas meja di rumahnya. Itu pun karena ukurannya tidak muat dalam lemari.

Tidak mau jadi sombong? “Enggak jugalah. Enggak, … biasa saja. Mungkin sudah kebiasaan dari dulu saja, mungkin sudah kebiasaan,” kata King tersenyum. King ternyata bukanlah seorang yang suka membicarakan tentang keakuannya. Itu terbukti karena dua dari tiga anak King baru tahu ayahnya merupakan pahlawan olahraga Indonesia ketika mereka telah beranjak remaja. Bahkan, bisa jadi si bungsu Michele King yang masih kecil dan kelas satu sekolah dasar belum paham ayahnya seorang juara kelas dunia.

Dua anak King yang lain adalah Alexander King yang kini berusia 19 tahun dan telah kuliah bidang ekonomi di AS dan Stevani King kini siswi kelas satu sekolah menengah umum. Alexander dan Stevani sempat tercengang begitu pertama kali tahu ayahnya juara bulu tangkis kelas dunia saat menginjak usia belasan tahun.

Ceritanya, ketika mereka pelesiran bersama King, banyak orang menyapa dan menyalami King. Menjawab keheranan anak-anaknya, King hanya bilang mereka adalah teman-temannya. “Kalau benar teman-teman Papi, kok Papi tidak tahu namanya?,” cecar Alexander dan Stevani.

Akhirnya King terpaksa bercerita kalau mereka mengenalnya sebagai pemain bulu tangkis. Memperoleh jawaban seperti itu, Alexander dan Stevani justru semakin tidak percaya. “Lho, memang Papi bisa main bulu tangkis?,” celoteh mereka.

***

MULAI bermain bulu tangkis sejak kecil atas dorongan orangtuanya di kota kelahiran Kudus. King yang lahir 28 Februari 1956 akhirnya masuk ke dalam klub Djarum Kudus yang banyak melahirkan para pemain nasional.

Usai menang di pekan olahraga nasional saat berusia 17 tahun, akhir 1973, King direkrut masuk pelatnas yang bermarkas di Hall C Senayan. Selama 15 tahun berkiprah, King merasa telah cukup dan mengundurkan diri di tahun 1988.

Setahun setelah itu dapat dikatakan King menganggur dan belum tahu akan bekerja apa karena bagaimanapun keahlian dan pengetahuan yang dia miliki hanyalah olahraga bulu tangkis. Perlahan King mulai ikut mengelola sebuah hotel di Jalan Melawai Jakarta Selatan milik mertuanya.

Dia pun mulai melebarkan sayap dengan membuka usaha griya pijat kesehatan. Segalanya tidak dimulai dengan mudah. Beberapa kali dia ditipu dan uang jutaan rupiah lenyap begitu saja. Tidak kapok? “Selama saya belum menyerah artinya saya belum kalah,” kata King.

Agak aneh rasanya seorang juara yang biasa menjadi pujaan dan selalu dilayani kini bergerak di industri jasa yang harus melayani orang. Sebagai pemain bulu tangkis yang melanglang buana, King terpaut hatinya dengan keindahan penataan hotel dan keramahan para pekerjanya. Demikian juga soal griya pijat. Saat menjadi atlet, King begitu membutuhkan terapi pijat setelah lelah berlatih dan bertanding.

Sebuah griya pijat kesehatan di kawasan Mayestik Jakarta Selatan saat itu kerap dikunjunginya. “Di tempat itu, penataan ruangan begitu bagus. Saat masuk saja saya sudah merasa nyaman dan rasa lelah terobati,” katanya.

King melihat peluang bahwa kalangan eksekutif dan pengusaha Jakarta yang gila kerja butuh kesegaran fisik dan relaksasi. Itulah yang membuat dia membuka usaha griya pijat kesehatan Sari Mustika. Kini, dia telah membukanya di tiga lokasi, Grand Wijaya Centre, Jalan Fatmawati Jakarta Selatan, dan Kelapa Gading Jakarta Utara dengan total karyawan sekitar 200 orang.

Kini banyak ekspatriat menjadi pelanggan griyanya selain usahawan dan eksekutif lokal, serta keluarga-keluarga menengah atas Jakarta. King juga puas karena dia bisa membuktikan griya pijat tidak selalu berkonotasi jelek seperti yang dibayangkan kebanyakan orang. Sang juara pun tidak sungkan-sungkan menyambut sendiri tamu hotel atau griya pijatnya. (YNS)

Sumber : kompas.com

GEDE Ngurah Wididana lebih dikenal dengan nama Pak Oles. Ini gara-gara ia menemukan racikan minyak penyembuh serba guna hasil perpaduan teknologi effective microorganism, yang ia pelajari di Jepang, dengan teknik pengobatan tradisional Bali. Secara setengah bergurau ia menyebut penemuannya sebagai minyak oles karena memang salah satu cara penggunaannya dioles-oleskan.

SEBUTAN Pak Oles kemudian tidak sebatas menjadi semacam “ideologi” perlawanan terhadap kemapanan, tetapi memasuki ruang-ruang serius seperti penamaan perusahaan atau produksi. Perusahaan inti yang memayungi perusahaan-perusahaan berikut diberi nama PT Karya Pak Oles Tokcer. Nama ini, misalnya, kemudian berkembang menjadi PT Visi Media Pak Oles, yang kemudian menerbitkan Koran Pak Oles dengan motto mirip-mirip iklan jamu obat kuat “jangan anggap enteng”. Meski memakai terminologi pinggiran, Wididana bukanlah jenis orang serampangan dalam mengurus perusahaan. Buktinya, sejak tahun 1998 silam di seluruh perusahaannya telah bekerja 2.000 karyawan. Mereka tersebar di berbagai wilayah, seperti Jakarta, Lampung, Surabaya, Malang, Magelang, Makassar, Mataram, Sumbawa, Garut, Gresik, Banyuwangi, dan beberapa kota kecil lain.

Berbagai produk obat-obatan alternatif, kini ada 24 jenis, yang ia keluarkan sesungguhnya semuanya dalam kerangka menjawab tudingan bahwa teknologi effective microorganism (EM) yang ditemukan Prof Dr Teruo Higa adalah racun.

“Justru untuk menjawab tudingan miring itu, saya bikin obat dengan EM. Saya gabung dengan usada Bali. Ya hasilnya tradisional-modern,” kata Pak Oles, eh, Wididana, Kamis (26/2) di Denpasar.

Bidang usaha Wididana kemudian berkembang ke arah “tak terduga”. Belakangan ia juga membuka panti pijat dan restoran, yang semuanya menggunakan terminologi nyeleneh. Dengan menempuh jalan ini, sejak ia kembali dari Jepang membawa EM tahun 1990 sampai sekarang, ia tetap menjadi tokoh dengan predikat “miring”.

“Saya selalu dicibirkan, mungkin karena dinilai tak serius. Ini kan hanya soal cara saja. EM itu penemuan yang luar biasa dan serbaguna,” katanya.

Mungkin karena Anda memulai dan memasuki bidang-bidang bisnis yang tak lazim?

Apa salahnya saya memberi nama minyak oles. Ini kan kata yang sebenarnya sangat akrab di telinga kita, seperti juga kata “tokcer” itu.

Tetapi, kesannya jadi main-main. Padahal, Anda menggabung penemuan teknologi dengan peninggalan pengobatan tradisional?

Saya justru sangat serius dalam soal ini. EM ditemukan Prof Teruo Higa tahun 1980 sebagai jawaban atas kekhawatiran penggunaan bahan-bahan kimia di bidang pertanian dan kesehatan secara berlebihan. Saya beruntung bisa berguru langsung kepada beliau.

Anda mungkin memberi kesan asal- asalan dengan memakai nama-nama yang tak serius? (He-he…)

Bahkan, sebelum menemukan minyak oles (bokashi) itu, saya mempelajari usada Bali dengan membaca banyak lontar. Selain itu, saya juga melakukan penelitian di Busungbiu (Buleleng-Red) di mana saya dilahirkan. Akhirnya saya menemukan obat apa yang disebut lengis arak nyuh oleh masyarakat desa. Bahannya hanya minyak kelapa serta beberapa rempah yang kemudian diasapi di atas dapur tradisional.

Cara pengasapan itu sebenarnya proses permentasi secara alami yang bisa memakan waktu tiga bulan. Permentasi akan menghasilkan zat-zat antioksidan yang berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit. Permentasi tradisional yang lain dilakukan orang Bali dengan memasukkan celebingkah (pecahan gerabah yang dibakar-Red) ke dalam ramuan. Celebingkah itu sendiri telah mengandung mikroorganisme permentasi.

Adapun teknologi EM adalah proses permentasi buatan terkontrol dengan memanfaatkan mikroorganisme. Keduanya sama-sama fermentasi. Akan tetapi, dengan EM, fermentasi bisa dilakukan hanya dalam dua minggu.

Selama ini teknologi EM dan nama bokhasi itu lebih lekat dengan nama pupuk organik. Sekarang kok tiba-tiba Anda membuatnya jadi obat-obatan, apa tak menjadi kacau?

Pada awalnya saya memang mendirikan perusahaan pembuat pupuk organik (menyebut nama perusahaan-Red) yang diolah dari sampah. Bokhasi sendiri adalah bahasa Jepang yang berarti permentasi sampah dapur. Dan perusahaan pupuk organik itu masih ada sampai sekarang. Saya membangun pengolah sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung, Denpasar, untuk membuat pupuk. Semua menggunakan teknologi EM.

(Wididana secara khusus mempelajari teknologi EM dari Prof Teruo Higa ketika ia menempuh S2 di University of the Ryukyus Okinawa, Jepang. Ia kemudian menjadi orang Indonesia pertama yang memperkenalkan teknologi ini ke Tanah Air. Di Indonesia ia mendirikan beberapa yayasan yang secara khusus melatih para petani di pedesaan dalam memanfaatkan EM. Akan tetapi, awal tahun 1990-an segala upayanya mengenalkan teknologi ini seperti dicibirkan. Ia tak memperoleh dukungan sama sekali dari pemerintah. “Karena itu, kemudian saya pikir, saya harus melakukan segala sesuatunya sendirian tanpa dukungan pemerintah.”)

Apa karena itu kemudian Anda memberi nama perusahaan dan merek dagang dengan nama-nama yang marginal itu?

Oh, itu antara lain saja. Pertama, karena saya ingin produk ini cepat dikenal. Awalnya memang hanya dipasarkan dari petani ke petani. Kedua, untuk menyeruak pasar obat-obatan alternatif yang dipenuhi ramuan dari China, saya mesti menciptakan sesuatu yang lain, tetapi berkhasiat dan yang terpenting bisa dipertanggungjawabkan secara medis. Minyak oles bokhasi itu baru kemudian diuji klinis pada binatang, setelah menyembuhkan manusia… he-he-he.

Anda tak takut produk-produk itu disamakan dengan obat-obatan jalanan?

Oh itu tidak apa-apa. Saya tidak apa- apa. Obat-obatan tradisional tak pernah melewati proses uji klinis. Kita diyakinkan karena faktor keturunan kan? Saya sekarang memiliki lebih dari 350 jenis tanaman obat di kebun milik sendiri. Itu kan hasil dari mempelajari lontar-lontar usada Bali.

(Sejak tahun 1997 Wididana mendirikan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Teknologi EM di Desa Bengkel, Kecamatan Busungbiu, Buleleng, Bali, sekitar 80 kilometer di utara Denpasar. Di desa kelahirannya itulah kemudian lelaki lulusan Fakultas Pertanian Universitas Udayana, Denpasar, ini menanam pohon- pohon obat di atas tanah seluas tujuh hektar. Di desa kecil itu pula kini pabrik obatnya berlokasi).

ANDA mendirikan panti pijat, apa tidak semakin membuat produk-produk obat Anda makin diberi cap miring. Apalagi bokhasi Anda promosikan sebagai obat kuat seksual juga?

Semua usaha saya itu pengembangan untuk membangun sistem. Setelah saya belajar manajemen di American Institute Management Studies Hawaii tahun 1999, saya merumuskan apa yang saya sebut sebagai SIMT (sistem, informasi, manajemen, dan teknologi). Teknologi dan manajemen harus bergabung membentuk industri, industri melahirkan barang dan jasa, yang kalau diputar akan membentuk pasar. Semua pasar harus dikelola dengan informasi. Maka, saya membuat di antaranya panti pijat, restoran organik, dan koran. Semua itu sesungguhnya tetap dalam kerangka mengembangkan teknologi EM tadi, yang terejawantah dalam minyak oles bokhasi.

Bayangkan, dalam sebulan saya harus mengeluarkan Rp 200 juta untuk membuat koran itu, dan sekarang sudah jalan selama tiga tahun. Kalau kita tidak memiliki jaringan distribusi, pastilah koran ini sudah bangkrut. Subsidinya kita ambil dari penjualan minyak oles. Namun, sebagai pengemban informasi, koran ini harus mampu menunjang penjualan minyak oles itu. Korannya gratis. Kita cetak sebanyak 150.000 eksemplar dan diedarkan ke seluruh jaringan distribusi produk obat.

(Pak Oles menerapkan sistem yang ia sebut take and give dengan berbagai pemasok botol obat, kemasan, komputer, serta berbagai produk lain. Ia minta mereka memasang iklan di korannya. Distribusi kemudian mengikuti jaringan pemasaran obat-obatan yang ia bangun secara mandiri).

Panti pijat itu juga hal serius. Saya ingin memberi bukti bahwa perpaduan teknologi EM dengan usada Bali menghasilkan ramuan yang berkhasiat. Memang mungkin karena banyak pijat-pijat yang tidak “lurus”, lalu semua panti pijat diberi kesan ngeres. Kalau saya menyebut bokhasi memiliki kemampuan meningkatkan vitalitas seks, itu memang benar. Di dalamnya terdapat 135 jenis tanaman obat yang dipermentasi dengan EM. Tidak saja ketika pengolahan, tetapi juga saat menanam tumbuh-tumbuhan obat itu.

Apa sih sesungguhnya EM itu, Anda begitu ngotot mengembangkan ini? Apa karena Anda pernah mendapat bea siswa dari Jepang itu?

Ini tak ada hubungannya dengan bea siswa. EM adalah teknologi effective microorganism dari kultur cair. Pertama-tama memang ditemukan untuk melakukan permentasi sampah menjadi pupuk organik. Jadi, intinya organik untuk mengembangkan pertanian organik, sebagai jawaban atas ekses-ekses penggunaan bahan kimia. Lalu, memang kemudian menjadi bahan obat-obatan pertanian untuk meminimalkan penggunaan pestisida.

Ini kan teknologi yang sangat bermanfaat bagi dunia pertanian kita. Makanya, saya secara konsisten sejak awal tahun 90-an terus-menerus melatih petani di seluruh pelosok desa untuk memanfaatkan EM. Mungkin karena banyak punya massa petani, tahun 1998 saya dipinang partai. Lalu, saya menjadi anggota DPRD Bali…. (Berhenti sembari merenung sebentar) Lalu saya berhenti karena pandangan demokrasi saya dianggap melawan partai.

(Dalam pemilihan gubernur Bali beberapa waktu lalu Wididana ngotot mencalonkan diri. Padahal, partainya telah memiliki calon lain. Banyak yang menduga itu hanya trik politiknya, di mana pada saat-saat akhir ia pasti mengundurkan diri. Namun, ia tidak melakukan itu. Setelah benar-benar kalah dalam pemilihan, ia kemudian keluar dari partainya).

Demokrasi dalam pandangan saya ditentukan oleh rakyat. Kalau segala sesuatu masih mengikuti partai di pusat, siap-siap saja akan ada money politics. Saya dicalonkan dari bawah, saya harus ikuti itu. Apa pun risikonya. Saya berani karena saya memiliki apa yang saya sebut sebagai Semberani. Bagaimana kita harus berani memutuskan dan melakukan sesuatu dengan kerja keras, ditambah dengan keseimbangan pikiran dan hati nurani. Saya belajar pernapasan sejak tahun 1980. Semberani adalah gabungan antara spiritual dan materialisme. Pikiran yang terkendali dan fokus itulah sebenarnya alat untuk mencapai material.

Oleh karena ini juga, di saat semua kawan-kawan wakil rakyat seperti tak punya nyali, saya tetap hadir dengan keyakinan tadi. Bahwa demokrasi tidak bisa diciptakan dengan garis-garis partai. Saya maju terus dan menerima segala risiko untuk memberi pendidikan kepada mereka.

Apa mungkin menerapkan spiritualisme dalam pola-pola manajemen?

Visi saya adalah mengembangkan teknologi, mendapatkan keuntungan dari teknologi, menciptakan lapangan kerja, serta mewujudkan kesejahteraan karyawan dan masyarakat luas. Pikiran pemimpin yang seimbang akan menciptakan keseimbangan di dalam perusahaan, dan yang terpenting adalah konsisten dan ikhlas. Perusahaan-perusahaan yang saya dirikan jatuh-bangun, banyak ditipu. Apa yang saya bawa kemari banyak dicibir, bahkan dituduh racun, tetapi saya bergerak terus dengan dana-dana yang saya cari sendiri. Semua saya kerjakan dengan ikhlas. Syukurlah sekarang teknologi EM ini sudah banyak diterapkan di negeri ini.

Untuk mencapai keseimbangan pikiran yang fokus tadi, kita harus melatih diri dengan apa yang disebut meditasi. Pernapasan perut untuk melatih kesabaran, sedangkan pernapasan total untuk meningkatkan daya tahan tubuh, membakar racun, serta mendorong keberanian.

Bagaimana mentransformasi keseimbangan diri ke dalam perusahaan?

Kalau sudah seimbang, energi alam masuk ke dalam tubuh kita. Saya sampai seperti sekarang ini karena proses perbaikan terus-menerus, manajemen harus terus di-up-grade. Kalau kita seimbang, kita waspada, sabar, dan toleran. Misalnya rugi, memang dalam hukum dagang kan untung-rugi. Pada waktu untung jangan terlalu bergembira, rugi jangan terlalu bersedih.

Keseimbangan suatu perusahaan ditentukan oleh keseimbangan pemimpinnya. Dia memenangkan informasi, ide, secara benar. Ini yang kemudian saya sebut sebagai kecerdasan spiritual. Kecerdasan ini harus seimbang dan harus berani. Berani memperjuangkan hak orang lain dan diri sendiri serta ikhlas.

WIDIDANA setelah lulus dari Universitas Udayana, bersama istrinya Komang Dyah Setuti (37), tahun 1985 memilih hidup sebagai petani di Desa Songan, Kintamani, Bangli, sebuah desa yang terletak di lereng Gunung Agung. Ia mengontrak tanah seluas dua hektar untuk ditanami sayur-mayur.

Setiap malam tiba ia menyempatkan diri berdiskusi dengan almarhum Sutan Takdir Alisjahbana yang tinggal tak jauh dari situ. Perkenalan itu kemudian membawanya menjadi kepala laboratorium lapangan seluas 17 hektar milik Fakultas Pertanian Universitas Nasional (Unas) Jakarta.

Tahun 1987 ia memperoleh bea siswa belajar sastra Jepang di Okinawa. Namun, kesempatan itu ia gunakan untuk berkenalan dengan Prof Teruo Higa, yang kemudian menjadi guru panutannya. Pak Oles kemudian menyelesaikan studi S2 di Jepang dengan meraih master of agriculture. Kemudian ia juga menyelesaikan S3 manajemen di Hawaii.

Ia sempat menjadi dosen di Unas Jakarta, sebelum akhirnya memutuskan kembali ke Bali dengan membangun pusat penelitian dan pelatihan serta pabrik obat di desa kelahirannya, Desa Bengkel, Buleleng.

Pria yang dilahirkan pada 9 Agustus 1961 ini dikaruniai putra-putri, Luh Putri Dewi Okinawa (18), Kadek Brahmashiro Wididana (16), Komang Wibhuti Emriko (9), dan Ketut Pandu Kumara (1).

Kehadiran Pak Oles sebagai produsen dan pengelola obat-obatan alternatif (di luar obat-obatan kimia) memang penuh dengan kejutan. Ia misalnya tidak saja menempuh cara-cara pemasaran dari pintu ke pintu, berbagai pusat penjualannya juga melayani pesan antar. Perusahaannya melakukan intervensi ke daerah- daerah yang ia kategorikan potensial bagi pengembangan teknologi EM, seperti Magelang (pertanian) atau Gresik (pertambakan).

“Semua adalah cara saya menghadirkan EM di mana-mana, termasuk membuka panti pijat itu,” katanya.

Pewawancara: Putu Fajar Arcana

Sumber : kompas.com

Kenikmatan berhubungan intim tak bisa dirasakan Suparno (28 tahun) sejak awal bulan madu. Gangguan ereksi membuatnya stres, sehingga ia tak mampu memuaskan pasangannya..

Setahun kemudian barulah karyawan sebuah lembaga bahasa ini merasa perkasa, setelah ia menjalani terapi pijat urat saraf.

Setiap pasangan pengantin baru pasti mendambakan kegairahan dan manisnya malam pertama. Namun, impian itu tak bisa saya raih. Bahkan setahun sudah berlalu sejak pernikahan saya di bulan Januari 2000, tetap saja tidak saya rasakan kegairahan dan kenikmatan seksual.

Setiap kali berhubungan intim saya hanya bisa bertahan sebentar. Baru lima menit, saya sudah tak berdaya. Isteri jelas kecewa, maka saya pun jadi gelisah dan kecil hati.

Saya tidak tahu pasti apa gerangan penyebabnya. Saya berpikir mungkin kelelahan fisik biang keladinya. Sehari-hari saya pulang kerja sekitar pukul 22.00, karena masuk kantornya siang. Sementara isteri saya pulang kerja pada sore hari. Ketika kami bertemu biasanya sudah sama-sama lelah.

Meski di rumah, seringkali pikiran tidak bisa lepas dari berbagai macam persoalan di tempat kerja. Walhasil, setiap kali keinginan seksual muncul, kami langsung saja ’beraksi’ tanpa ada hasil. Begitu yang terjadi selama setahun.

Mutu Sperma Jelek

Berjalan setahun usia perkawinan kami, tentu saja isteri saya belum juga hamil. Lalu saya mencoba ke pengobat alternatif di Bekasi. Tak ada penjelasan apa-apa yang ia berikan pada saya. Saat saya datang dia langsung memberi obat yang harganya sungguh mahal, hampir satu juta rupiah. Tak ada terapi lain yang saya jalani, kecuali wajib minum obat itu. Setelah tawar-menawar, akhirnya saya terpaksa membeli obat itu.

Harganya Rp 300 ribu. Saya pikir obat ini pasti manjur, karena harganya mahal. Setelah meminumnya, saya tunggu hasilnya selama beberapa minggu. Nihil! Tak terjadi apa-apa! Saya jadi tambah stres. Sementara saya juga makin tidak enak terhadap isteri. Walau dia tidak protes, saya merasa bersalah tidak bisa memuaskannya.

Usaha pertama gagal, saya kemudian memilih periksa ke dokter. Saya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Biaya memang lebih mahal, tapi tak apalah. Saya berharap kali ini persoalan akan cepat selesai.

Melalui pemeriksaan laboratorium ketahuan kalau mutu sperma saya tidak bagus. Itulah yang juga menyebabkan isteri saya tidak bisa hamil. Dokter memberi obat dan menganjurkan saya dites hormon.

Saya mengurungkan niat untuk dites, karena biayanya begitu mahal. Obat dari dokter saya minum. Memang selama tiga bulan terjadi peningkatan kualitas, tapi belum memuaskan. Saya masih belum sanggup memuaskan isteri. Akhirnya saya hentikan upaya lewat cara medis itu.

Saya hampir putus asa. Selain minder di hadapan isteri, saya juga kasihan karena selama setahun belum pernah memuaskannya. Namun, saya belum jera menjajal pengobatan-pengobatan alternatif yang terjangkau dan cocok.

Suatu saat saya jalan-jalan di Mal Mangga Dua, Jakarta Pusat. Di sana saya menemukan tempat praktek Bu Etty, ahli pijat urat saraf spesialis lemah syahwat. Tanpa pikir panjang, saya langsung menemuinya setelah mencari informasi tentang kemampuan dia.

Ketagihan

Saat ketemu Bu Etty, langsung saya ceritakan semua keluhan. Dia membenarkan kalau mutu sperma saya jelek. Hal ini tampak dari testis saya yang tidak kencang. Dia juga bilang bahwa saya mesti rilek dan jangan stres, agar hubungan intim itu bisa bertahan lama.

Mutu sperma bisa diperbaiki dengan memperbaiki menu makanan dan olahraga. Habis itu, dia langsung melakukan terapi. Tubuh saya dipijat dan diurut selama setengah jam, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Rasanya enak sekali. Belum pernah saya merasa betul-betul senyaman itu.

Usai dipijat, saya diberi bungkus jamu berupa pil. Saya tidak tahu kandungannya. Yang jelas, pil itu harus saya minum 2-3 kali sehari. Bu Etty juga memberi tahu saya agar mengatur jadwal berhubungan seks. Tidak setiap hari, tapi dua hari sekali. Yang paling penting, saya mesti meluangkan waktu untuk berolahraga selama satu jam setiap hari, juga mengkonsumsi buah-buahan serta sayur.

Sepulang dari terapi, malam harinya saya mengajak isteri berhubungan badan. Apa yang terjadi? Saya bisa bertahan lama! Isteri saya pun puas. Malam itu jadi malam pertama yang indah bagi kami. Saya dan isteri seperti orang ketagihan dan berulang kali mereguk kenikmatan itu.

Sampai saat ini saya baru dua kali diterapi, tapi itu sudah membuat saya benar-benar puas. Seperti yang dianjurkan Bu Etty, setiap pagi saya berolahraga jalan kaki di sekitar rumah selama satu jam. Saya juga mulai makan banyak sayur dan buah.

Dua minggu terakhir ini saya sungguh-sungguh bahagia. Pijatan Bu Etty telah mengembalikan kepercayaan diri ini. Saya jadi makin bergairah, karena mampu memuaskan isteri. Namun, saya tidak lupa untuk mengatur jadwal supaya tidak kelelahan. Soalnya, kalau terlalu lelah saya akan mudah loyo lagi. @ (Abdi Susanto)

Alamat Praktek
Mal Mangga Dua Lantai II No.46, Jakarta Pusat
Telp. (021) 6126018
HP. 0811830635
Praktek: 10.00-19.00 WIB

Sumber : kompas.com

Pijat sekarang diakui sebagai bentuk terapi sedang disembuhkan yang alami. Di yang sendiri Amerika Serikat ada sekarang di atas 1000 sekolah yang mengajar seni sedang disembuhkan pijat. Macam pijat bisa baik gaya Barat atau gaya Timur. Baik gaya meliputi teknik pijat pasti yang menaikkan keluesan dan oplah dengan melumasi kertas tisu otot dan memajukan santai. Pijat gaya barat dicurahkan secara mendasar ke mengurangi gangguan fungsi dan rasa sakit fisik. Di bawah gaya ini, teknik berbeda (seperti chiropractic memijat, pijat klinis, dan terapi pijat kedokteran) terlibat aspek fisik. Gaya Timur pijat (seperti akupungtur, reflexology, Ayurveda, dan Shiatsu) memperhitungkan pikiran, badan dan jiwa pasien, dari perspektif holistis.

Sekarang pijat, pada hakekatnya adalah apa? Pijat adalah bentuk komunikasi dengan orang lain dibawa lewat sedikit. Kalau kami menyentuh orang lain, kami baik mengirim pesan cinta atau pesan bertentangan. Kita semua mempunyai kecakapan untuk memberikan pesan lewat pijat karena kita semua terdiri dari tenaga. Tenaga itu bisa positif atau negatif, bergantung pada apa yang sedang kami pikirkan. Pikiran kami memerintahkan dan badan kami melakukan perintahnya – dan di proses, hidup manusia lain diubah lewat sedikit kami.

Komunikasi seperti ini tidak benar-benar fisik – berkembang ke dalam hubungan rohani juga. Oleh sebab itu orang yang mendapat pijat dari orang yang memancarkan tenaga positif tersentuh atas derajat rohani juga. Badan, pikiran, dan hubungan penerima pijat dengan lambat sedang sembuh karena tenaga positif disediakan lewat sedikit.

Secara teknis, pijat adalah penggunaan tekanan pada lain person’s badan memakai tanganmu sendiri (dan barangkali persenjataan anda pun, siku, dan kaki. ) penerima pijat baik akan mengetahui bahwa dia beruntung di berbagai jalan darinya:. Darah dan getah bening beredar lebih baik lewat badan B. Kemampuan darah yang memajukan oksigen bertambah baik C. Limbah kami menitikberatkan-ke luar kertas tisu otot (seperti toksin) dikalahkan dan pindah dari badan lebih mudah D. Otot yang dikena santai E. Otot sangat lamban mendapat dorongan f. Susunan syaraf menjadi g yang lebih berimbang. Oplah kulit dan mempersiapkan ditingkatkan h. Yang dalam organs’ oplah dan mempersiapkan juga menjadi lebih baik.

Hal baik tentang pijat (juga dikenal sebagai karoseri) ialah bahwa baik pemberi maupun penerima keuntungan pijat waktu sesuatu diberi. Secara mendasar, pijat adalah cara luar biasa untuk mengurangi tekanan. Penelitian sudah menunjukkan bahwa sampai 80% dari penyakit entah bagaimana disebabkan oleh tekanan. Pijat adalah satu cara untuk perhatian pengambilan badan kami agar kami tidak jatuh sakit begitu mudah. Jika kami jatuh sakit, pijat menolong kami segar kembali ke negara bagian kesehatan baik.

Dikutip dari : http://www.selfhelpselfimprovement.com

Bukan karena takut bom meledak lagi di Bali, saya memilih bersih-bersih rumah saat tahun baru. Justru saat itulah saya mengalami musibah.

Hari Minggu, 1 Januari lalu, saya menglami keseleo pinggang saat berusaha menggeser sebuah kasur pegas cadangan yang seperti mau jatuh dari rak penyimpanannya. Terpaksa pekerjaan bersih-bersih rumah dihentikan. Mau pergi ke fisioterapi sudah pasti tidak ada yang buka. Saya terdiam pasrah menahan rasa nyeri pada pinggang kanan saya.

Sebetulnya saya kurang suka dipijat. Tapi karena rasa nyeri yang tidak kunjung menghilang meskipun sudah diolesi balsam panas, saya akhirnya menelepon Ibu saya minta tolong dipanggilkan tukang pijat yang biasa memijat keponakan saya.

Dua jam kemudian, Bu Nan, begitu ibu tukang pijat ini biasa dipanggil, sudah tiba di rumah saya. Saya menceritakan asal-muasal saya mendapatkan rasa nyeri di pinggang saya ini.

“Sampeyan ini Mbak! Wong, sudah tahu kasur berat kok digeser sendiri. Ya begini ini jadinya,” kata Bu Nan mengomeli saya dengan logat Maduranya yang kental.

Sebetulnya saya tidak terlalu mengenal Bu Nan. Keponakan saya yang memang doyan dipijat, yang sering menceritakan sosok Bu Nan ini. Yang pijatannya mantap lah, yang orangnya kecil lah, yang kulitnya gosong lah. Baru hari itu saya bertemu langsung dengannya.

Memang benar, pijatannya mantap. Bahasa lainnya, sakit! He…he…he.., mungkin karena saya tidak sering dipijat ya, jadi tidak tahan. Keponakan saya kalau tahu pasti tertawa habis melihat saya meringis-ringis keluar airmata waktu sedang dipijat. Tapi berangsur-angsur rasa nyeri yang saya rasakan di pinggang mulai berkurang. Saya mulai bisa menikmati ’kemantapan’ pijatan Bu Nan yang sesungguhnya. Enak juga!

“Sampeyan kalau perlu pijatan, telpon aku saja Mbak! Tadi itu waktu Ibu sampeyan telpon, anakku yang terima telponnya. Tapi jangan khawatir, pasti disampaikan kok,” katanya setengah berpromosi.

“Berapa anaknya, Bu Nan?” aku menanyainya sesudah merasa lebih nyaman.

“Anakku ada dua Mbak. Dua-duanya laki. Sudah rabi (menikah) semua. Putu-ku (cucu) sudah ada empat.”

“Hah? Bu Nan sudah punya cucu? Memang Bu Nan umur berapa?” Aku bertanya keheranan, sebab kalau kulihat, Bu Nan ini belum terlalu tua.

“Umurku 41, Mbak. Tapi umur tiga belas aku sudah dinikahkan. Umur lima belas tahun aku wes punya anak. Jaman dulu ya gitu itu Mbak, apalagi di Madura.”

“Tiga belas tahun, Bu Nan?” aku menggeleng-geleng tidak percaya.

“Iyo, Mbak. Wong aku ini ngerawat bayi masih ndak bisa kok. Ibuku yang ngurusi anak ku itu! Habis punya anak yang kedua itu aku langsung minta steril.”

Aku keheranan mendengar pernyataannya,” Kenapa kok minta disteril, Bu Nan?”

“Aku ini orang susah Mbak, aku ndak mau anakku jadi orang susah juga. Dua saja sudah cukup, aku sama bojo-ku mampunya ngerawat segitu. Sampeyan lihat ndak di tivi-tivi itu! Wes ndak punya, tapi kok manak (punya anak) terus. Anaknya kan jadi ndak terurus. Mau dikasih makan apa? Ndak ngerti aku!”

Aku semakin takjub, “Anak-anaknya Bu Nan kerja di mana?” Aku tidak bisa menyembunyikan rasa ingin tahuku.

“Anakku yang besar jadi penjahit, punya kios kecil di pasar. Yang kecilan buka usaha servis barang elektronik, tivi-tivi, radio gitu Mbak. Aku sudah seneng, mereka sudah bisa ngidupi keluarga mereka sendiri. Nek aku sendiri, sekarang lagi ngumpul-no duit buat uang muka, mau nyicil BTN daripada aku ngontrak terus, Mbak! Bayar kontrakan sama aja dengan bayar cicilan, kan bagus aku nyicil to Mbak!” Ia berkata penuh semangat. Aku ternganga mendengarkan cerita Bu Nan, pikirannya maju sekali.

“Tapi jaman sekarang susah Mbak. Apa-apa mahal, mana ada bom lagi, di mana itu? Sulawesi sana ya Mbak? Orang seng ngebom-ngebom iku yo jelas-jelas salah! Mana ada uwong mateni uwong (orang membunuh orang) bisa masuk surga? Jadi jangan ngomong orang Jawa, orang Bali, orang Islam, Kristen, Hindu, pokoke kalau sudah membunuh ya berdosa,” ia berceloteh sambil tetap memijat aku.

Dalam hati aku berpikir sendiri. Kalau saja mayoritas rakyat negeriku ini memiliki pikiran maju seperti Bu Nan, meskipun aku yakin ia tidak mengenyam bangku pendidikan yang tinggi, tentunya kesejahteraan makin dekat menjadi kenyataan.

Dari jendela kamar tidurku, aku melihat sosok Bu Nan mengayuh sepedanya keluar dari halaman rumahku. Mudah-mudahan uang muka untuk mencicil BTN bisa cepat dikumpulkannya.
(Mira, ibu rumah tangga, tinggal di Bali)

Sumber : kompas.com

Kombinasi terapi batu panas dan refleksi Jepang memberikan rileksasi yang menyegarkan. Terapi batu panas alias hot stone therapy sudah lama dikenal masyarakat di negara-negara Eropa dan Amerika. Hingga kini, suku Indian di benua Amerika menggunakan terapi ini berbarengan dengan ritual mandi keringat. Tujuannya untuk membersihkan kulit dari unsur-unsur negatif.Menurut Tony Wijaya, pemilik Klinik Shogun Reflexology, layanan hot stone therapy menjanjikan rileksasi yang dalam. Terapi batu panas memberikan efek detoksifikasi bagi tubuh, yang tersalurkan lewat keringat. Selanjutnya, efek yang ditimbulkan atau dirasakan adalah badan bugar, segar, dan peredaran darah lebih lancar.

Batu yang digunakan dalam terapi ini adalah batu vulkanik berwarna hitam. Batu ini dikenal mengandung energi dan mineral, di antara zat besi, sehingga mampu menahan panas dalam waktu cukup lama. Efek panas timbul karena batu direndam air panas dan garam mineral.

Ketika “diaplikasikan” ke tubuh, panas yang tersimpan di dalam batu bisa merata diserap tubuh. Lebih lanjut, kata Tony, batu panas bisa melebarkan pembuluh darah dan mendorong pengeluaran racun atau sampah yang tidak berguna di dalam tubuh.

Terapi ini diyakini cocok bagi Anda yang jarang berolahraga. Selain itu, juga berguna bagi mereka yang peredaran darahnya kurang lancar. Manfaat terapi ini adalah melonggarkan sesak napas serta meredakan asma, stres, cemas, dan nyeri otot.

Tony tidak menyarankan ibu hamil melakukan terapi ini. Sebaliknya, mereka yang usai melahirkan bisa mencoba terapi ini karena membuat peredaran darah lebih lancar, merilekskan otot-otot yang kaku, dan meningkatkan metabolisme tubuh.

Pijat Tsubo
Terapi dengan batu panas harus dilakukan dengan benar dan penuh perasaan, serta ada harmonisasi antara batu, pasien, dan sang terapis. Kata Tony, ada beberapa tahapan sebelum batu-batu panas ditempelkan ke tubuh pasien. Tony dan para terapisnya selalu memulainya dengan melakukan pijat tsubo.

Pijat tsubo yang dimaksud adalah teknik pijat refleksi dari Jepang. “Secara harafiah, tsubo berarti raba. Karena itu, pijat tsubo berarti teknik penentuan titik-titik saraf vital manusia dengan cara meraba, mengusap-usap, atau menstimulasinya,” ungkap Tony.

Teknik ini berbeda dengan refleksi pada umumnya. Pijat tsubo dilakukan secara bertahap dan menyeluruh. Setelah diolesi lotion, pemijatan dilakukan mulai dari telapak kaki sampai ke betis. Kemudian naik ke punggung, pundak, dan kepala.

Setelah seluruh tubuh dipijat dengan teknik tsubo, Tony menempelkan batu-batu panas di beberapa titik tubuh. Penempelan batu disesuaikan dengan kondisi pasien. Setelah batu-batu tertempel di tubuh, Tony memijat bagian tubuh lain yang “bebas” dari batu. Tujuannya untuk merilekskan otot yang kaku, melancarkan proses metabolisme, serta menyegarkan tubuh pasien.

Saat batu dipindahkan ke bagian tubuh lain, bagian yang tidak ditempeli batu dipijat, begitu seterusnya. Rasa pegal akan sirna setelah dilakukan pemijatan. Lama terapi ini 1,5 jam. Setelah diterapi dengan batu panas, pasien disuguhi minuman herbal sebagai penutup terapi. Minuman ini berisi biji-bijian tanaman obat Cina, yaitu kici dan anco. “Kici dan anco berfungsi menyehatkan organ mata dan jantung,” kata Toni.

Selain hot stone therapy, Tony memberikan layanan lain, yakni steam pocket body herbal. Layanan ini adalah pijat menggunakan campuran rempah dari Thailand. Salah satunya daun sinamaki. Manfaat steam pocket body herbal adalah melegakan pernapasan, meredakan asma, dan membuang angin. Caranya, campuran rempah-rempah yang sudah dibungkus ditekan-tekankan ke tubuh pasien, yang sebelumnya juga menjalani pijat tsubo. Lama terapi ini sekitar 2 jam. Untuk mendapatkan hasil maksimal, ia menyarankan terapi batu panas seminggu dua kali. Tarif sekali terapi Rp 50.000, sedangkan steam pocket body herbal Rp 90.000. Ingin mencoba?

Sumber: Gaya Hidup Sehat

Next Page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 64 other followers