pijat story (cerita)

Testimoni Peserta Pelatihan Pijat Keluarga Sehat

Nama saya Tio bisa dihubungi di 0857 3660 5948 dan saat ini berumur 22 tahun. Saat saya datang ke Jakarta untuk merantau, saya tidak mempunya skill apa-apa. Kemudian saya belajar pijat dan bekam dari Pijat Keluarga Sehat pada Mei 2008 karena keterbatasan skill saya. Hasilnya di luar dugaan….!!! Hanya dalam waktu 2 minggu pembelajaran pijat dan bekam, saya sudah bisa menghasilkan pendapatan dari pijat dan bekam yang saya pelajari serta mampu untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari secara mandiri.  Setelah 1 tahun dari pertama kali belajar, saya sudah bisa membiayai kuliah saya dan menyisihkan sedikit penghasilan untuk ditabung atau dikirim ke orang tua. Sekarang saya sudah bisa mandiri dan tidak tergantung dari orang tua.

Categories: pelatihan bekam, pijat pelatihan, pijat story (cerita), pijat testimoni, pijat wirausaha | Tags: , , , | 1 Comment

Pijat Tradisional Menjadi Pilihan di Belanda

Pegel…pijat..yuk, itu sering terdengar di Indonesia. Bagaimana dengan di Belanda?. Ternyata panti pijat tradisional Indonesia, di Belanda tidak kekurangan peminat.

Banyak warga Indonesia yang menjadi tukang pijat tak resmi di negeri kincir angin. Namun ada satu warga Indonesia Evita Kranenburg yang mendirikan usaha panti pijat Segar Bugar.

Namanya Segar Bugar, Evita Kranenburg yang bersuamikan pria Belanda itu mendirikan panti pijat bukan untuk kesegaran dan kebugaran. Panti pijat tradisional menerima pasien dengan keluhan tertentu. Berguru dengan seorang ahli pijat di Indonesia menjadikan Evita cukup percaya diri untuk membuka usahanya tersebut.

Berbekal dengan pengetahuan dari ahli pijat itulah Evita akhirnya mampu melayani pelanggannya yang kebanyakan datang dengan berbagai keluhan.

Evita: Keluhannya kadang beroknya turun, terus kadang lehernya ga bisa digerakkan, ada yang tangannya benar-benar tidak bisa digerakkan, sakit. Ada juga yang bahunya turun sebelah ***u lo. Tapi kebanyakan klanten saya (pelanggan–red) yang bilang mereka bisa sembuh.

Kebanyakan pelanggannya adalah warga Belanda, dan Suriname. Warga Indonesia jarang ada yang berobat ke tempatnya. Evita tidak tahu alasannya. Padahal minyak yang dipakai adalah ramuan tradisional yang dibuatnya sendiri.

Sekali berobat ke panti pijat Segar Bugar ditarik bayaran sekitar 35 euro untuk pijat selama satu jam. Kebanyakan dari pasiennya memerlukan tiga kali kunjungan supaya benar-benar sembuh. Usahanya ini termasuk langka di Belanda. Karena masyarakat Belanda sendiri biasanya berobat ke ahli fisioterapi. Namun panti pijatnya tetap memiliki peminat.

Evita: Kalau anjuran dokter mereka memang ke fisioterapi. Tapi rata-rata klanten saya (pelanggan-red), mengatakan kepada saya bahwa mereka sudah mencoba berobat kemana-mana tapi ga ada hasilnya. Nah ada juga yang campur, maksudnya ke fisioterapi dan ke saya. Kalau ke fisioterapi kan hanya dipijit paling hanya sepuluh hingga 15 menit. Nah kadang-kadang mereka bicara dengan fisioterapinya boleh ga saya ke sini? Jadi mereka juga terbuka sama fisioterapi mereka.

Pelanggan yang datang selalu dipijat dengan menggunakan minyak tradisional. Itu dibuatnya dari campuran jahe, sereh dan pala. Semua bahan dihancurkan dan digodok sampai selama empat hari dan kemudian disaring. Pelanggan yang datang rata-rata setiap harinya ada tiga orang. Itu sengaja dibatasi Evita untuk menghemat tenaga.

Sangking banyaknya pelanggan, Evita Kranenburg tidak perlu membuat reklame lagi. Padahal itu yang gencar dilakukanya ketika perusahaannya berdiri sekitar dua tahun yang lalu. Kendati demikian menurut pengakuan salah seorang pelanggannya, Rick Schuwer ia kini terbebas dari penyakit yang dideritanya.

Menurut pengakuan Rick Schuwer, terapi yang dijalaninya itu ternyata membuahkan hasil. Setelah bebeberapa kali datang ia terbebas dari gangguan bahu yang lama dialaminya.

Schuwer: Di awal-awal secara teratur saya datang ke situ (Segar Bugar-red). Nah setelah tiga atau empat kali kedatangan sakit di bahu saya berangsur hilang. Dan setelahnya pengobatan lanjutnya menjadi setiap satu bulan satu kali. Itu benar-benar manjur buat saya. Seluruh gangguan hilang.

Biasanya untuk mendirikan sebuah panti pijit apalagi dengan embel-embel mengobati penyakit diperlukan diploma khusus di Belanda. Namun lain dengan yang dialami Evita Kranenburg. Ketika mendaftarkan perusahaannya itu di kamar dagang Belanda, ia dengan mudah mendapatkan izin. Apakah itu suatu kebetulan belaka?

Evita: Saya juga heran kok bisa gampang begini. Waktu ke kamar dagang, ga ditanya macem-macem, izin saya itu bisa keluar. Saya bisa buka praktek. Saya juga heran. Teman-teman bilang kok bisa gampang. Padahal kan itu seharusnya harus memakai diploma. Saya juga ga tau. Pokoknya prosesnya tidak susah.

Sumber : http://www.rnw.nl

Categories: pijat story (cerita) | Tags: | 1 Comment

Pemijat Itu Bisa Bangun Masjid dan Kampungnya

 

SURABAYA – Menjadi tukang pijat belumlah cukup. Sumirah nyambi jadi tukang sol sepatu, penjahit, dan pekerja pabrik. Sebagian hasil keringatnya itu ia gunakan untuk membangun madrasah, masjid, mushala, dan mengurus anak yatim. Ternyata, beramal tidak harus menunggu kaya.

Penolakan halus langsung diucapkan Sumirah, pimpinan Panti Asuhan Yatim Piatu Amanah, Rungkut, Surabaya, saat akan diwawancarai Surya untuk tulisan ini. “Saya ini apalah mbak, kok pakai diwawancarai. Masih banyak yang lebih bagus, lebih pintar, dan lebih hebat,” elaknya saat ditemui di Panti Asuhan Amanah sekaligus rumahnya di Jalan Pandugo Gg II Nomor 30 B, Rungkut, Senin (15/9).

Secara materi, Sumirah memang belum bisa dibandingkan dengan pengusaha sukses. Namun, kekayaan hati Sumirah mungkin hanya dimiliki segelintir orang pada abad ini.

Perempuan kelahiran 3 April 1965 ini tak cukup mengelola panti asuhan. Ia mendirikan madrasah, masjid, dan mushala di kampungnya, Pacitan. Mungkin juga sulit dipercaya, Sumirah menghidupi anak-anak yatim dengan menjadi tukang pijat panggilan.

Rasa empati Sumirah sudah terpupuk sejak kecil. Ia terbiasa bergaul dengan anak-anak yatim asuhan almarhum Atmorejo, ayahnya. “Saat itu ada 100 anak yatim dan anak-anak lain yang berlatih ilmu kanuragan (kebatinan) di rumah. Mereka semua tinggal di rumah,” kata ibu lima anak ini.

Secara materi Sumirah kecil tercukupi, tetapi didikan ayahnya tidak membuatnya manja. Bahkan, sejak kelas II SD ia sudah menjadi tukang pijat alternatif, warisan keahlian turun temurun. Duitnya “ditabung” di mushala di Desa Kembang, Kecamatan Pacitan.

“Saat itu saya masih ingat nasihat ayah, ‘Kalau kamu punya rezeki, 50 persen untuk kamu dan 50 persen lagi untuk mushala. Pasti rezeki itu akan barokah’,” ujarnya.

Pesan almarhum ayahnya terus diingat Sumirah. Setiap rupiah yang dihasilkan selalu disisihkan untuk mushala. Begitu pula ketika orderan memijat merambah hingga Madiun, bahkan Semarang.

Saat SMP Sumirah dan kakaknya hijrah ke Jakarta. Di kota megapolitan ini Sumirah tidak tertarik mencicipi pekerjaan lain. Kebetulan, kemampuan memijatnya tersohor hingga ke Jawa Barat. Pada 1986 Sumirah dan suami mencari peruntungan di Surabaya. Di kota ini selain tetap memijat, ia bekerja di pabrik PT Horison Sintex (sekarang Lotus). Ia hanya masuk pabrik hari Selasa, Rabu, dan Kamis.

Namun, dua profesi itu belum cukup. Merasa waktunya masih senggang, Sumirah mencari pekerjaan sampingan. Ia menjadi tukang sol sepatu, menjahit baju, dan tukang keriting rambut. “Karena pekerjaan banyak, rata-rata saya hanya tidur dua jam sehari. Mijat saja sehari hingga 20 kali,” katanya sambil tersenyum.

Kerja keras itu impas dengan hasilnya. Sehari, tidak kurang ia mengantongi Rp 2 juta. Namun, limpahan uang itu tidak membuatnya mabuk. Uang itu dialirkan untuk membangun madrasah, mushala-mushala, dan masjid di desanya. Sumirah enggan menyebut nama mushala itu. “Nanti saya ndak diridaikalau pamer,” katanya.

Suatu ketika, Sumirah pulang kampung. Jalan di desanya tidak bisa dilewati karena rusak berat. Prihatin, ia dan suaminya memperkeras seluruh jalan itu dengan paving blok. Walhasil, rencana naik haji seketika batal karena simpanan Rp 60 juta habis untuk ongkos paving.

“Saya tidak pernah menyimpan uang di bank. Bukan apa-apa, tapi karena tanda tangan saya tidak pernah sama. Itu tentu tidak boleh kan?” katanya.

Hidup Sumirah teruji saat dia melihat banyak anak telantar di sekitar kampungnya. Dia nekat menampung 54 anak yatim itu di rumahnya yang berukuran 2,5 meter x 13 meter. “Sebagian dari mereka saya koskan di depan rumah. Saya sewa tiga kamar,” katanya.

Masalah datang ketika anak asuhnya ndableg dengan menghabiskan air dan sabun milik ibu kos. Sekitar pukul 21.00 anak-anak itu diusir. “Mereka saya tampung di rumah saya. Jadi, mereka tidur sambil duduk,” kata Sumirah.

Esoknya, Sumirah mencari kontrakan untuk mereka. Tawaran kontrakan Rp 4 juta ditolak karena Sumirah tak punya duit. Di tengah kesulitan ia berdoa. Mendadak ada semacam dorongan untuk menghubungi Pak Triyono, dermawan dari Barata Jaya, Surabaya. Sumirah kaget, Pak Triyono memberinya zakat maal (zakat kekayaan) sejumlah Rp 4 juta. “Agar tidak mengganggu penduduk kampung, pagi-pagi sekali kami pindahan,” katanya.

Panti Asuhan Amanah kini menampung 60 anak yatim, dibangun Sumirah pada 1996. Mereka kanak-kanak hingga remaja. Belum lama ini Sumirah mengasuh balita yang ditinggal mati bapaknya. Amelia, balita itu, sekarang berumur sembilan bulan. “Oh ya, Saya sudah menikahkan 13 anak di sini, 16 Oktober nanti saya mantu lagi,” ujarnya dengan mata berbinar.

Untuk mencukupi hidup anak asuhnya, Sumirah tidak mengandalkan bantuan donatur yang sebagian adalah pelanggan pijatnya. Selepas subuh, anak yatim itu berdagang kelapa kupas, sayuran, dan bumbu. Sumirah dan suami juga membuka toko kelontong.

Mengakhiri kisahnya, Sumirah sempat bilang, “Pergunakanlah mata hati. Banyak orang pintar yang belum tentu mengerti.” (MUSAHADAH)


ABI

Sumber : kompas.com

Categories: pijat story (cerita) | Tags: | 3 Comments

Jangan Panggil Saya Tukang Pijat…

Oleh Ingki Rinaldi

“Nanti kalau semua orang di Surabaya tahu saya masseur bisa-bisa semuanya minta dipijat, hahaha,” ucap Mohammad Madrai, salah seorang tukang pijat kesebelasan Persebaya Surabaya, pada sebuah sore yang teduh.

Madrai, yang beken di kalangan pemain Persebaya Surabaya dengan nama Cak Mad itu, sejak musim kompetisi 2006 digaet kembali oleh Persebaya atas permintaan sejumlah pemain senior.

“Orang yang telepon saya waktu itu Pak Bodro (Subodro, Asisten Manajer Bidang Teknik Persebaya),” kata Cak Mad yang sebelumnya sempat menangani Persebaya pada musim 2003/2004 sebelum kembali dilepas pada musim 2005 itu. Selain lihai memainkan jemari tangannya untuk meregangkan ketegangan urat para pemain, pria keturunan Madura kelahiran Surabaya, 10 Agustus 1947 itu, juga piawai merangkai lelucon.

Maka tak salah bila pemain senior seperti Mursyid Effendi bisa merasa berada dalam zona kenyamanan saat memasuki sesi pemijatan setiap kali usai latihan. “Selain Cak Mad, juga ada Pak Totok yang biasa memijat anak-anak. Tetapi kalau Pak Totok lebih banyak untuk mengurusi pemain yang keseleo atau cedera, sekalipun juga bisa memijat seperti Cak Mad,” tutur Mursyid.

Perawakan Cak Mad yang mungil, menurut Mursyid, memiliki dorongan tenaga yang sesuai bagi fisik sejumlah pemain lokal. “Kalau Pak Totok tenaganya lebih besar sehingga yang lebih cocok mungkin para pemain asing. Walaupun ada juga pemain lokal yang cocok dengan kekuatan pijatannya,” ujarnya.

Mursyid setuju apabila sifat humoris kedua orang itu semakin mempercepat pemulihan fisik setiap pemain usai menjalani latihan maupun pertandingan. “Mereka sangat berpengaruh bagi tim,” tuturnya serius. Mestinya humoris

Sepintas profesi para pemijat ini terlihat enteng. Namun, tak kurang tim nasional Inggris merasa perlu membajak masseur Billy McCulloch yang warga Skotlandia. McCulloch adalah tukang pijat klub kaya raya Chelsea dengan pengaruh besar bagi para pemain “The Blues” di lapangan pertandingan.

Kapten tim nasional Inggris John Terry, seperti dilansir situs thefa.com, menyebutkan kelakar yang diciptakan McCulloch mampu meredakan ketegangan dan atmosfer serius yang dibangun pelatih Steve McClaren. “Dia adalah seorang jenius dengan tangannya,” komentar Terry mengenai McCulloch.

Perihal kemampuan memasuki dimensi psikologis para pemain ini, diamini Cak Mad. “Ya, memang harus begitu, supaya para pemain tidak stress,” ucapnya.

Tekanan sebelum bertanding memang sangat dipahami Cak Mad. Sebagai bekas pemain Persebaya di era Rusdi Bahalwan dan Abdul Kadir, Cak Mad mengerti betul bahwa relaksasi merupakan salah satu faktor penting yang harus didapat pemain.

Sempat merumput bersama Niac Mitra pada era 1972-178, Cak Mad mesti rela panggungnya dirampas saat gangguan penglihatan mulai menderanya. Operasi katarak yang dijalani pun tidak lantas membuat penglihatannya kembali seratus persen.

“Harusnya memang jadi pelatih, tetapi saya tahu diri daripada malu saat melatih karena mempraktikkan operan-operan yang tidak akurat, lebih baik jadi masseur saja,” katanya ringan.

Sebuah “insiden” disebutnya sebagai awal mula keterlibatannya menjadi tukang pijat tim sepak bola. Saat itu, Joko Malis, yang melatih Persmin Minahasa di musim 2006 lalu, terserang cedera engkel berkepanjangan.

“Joko sudah berobat ke sana kemari, terus saya lihat dia dan saya tawari untuk saya pijat. Eh, dua hari kemudian Alhamdulillah dia sembuh dan bisa main. Makanya kemudian Pak Wenas (A Wenas, pemilik Niac Mitra) meminta saya terjun lagi di sepak bola sebagai masseur,” katanya.

Kini Cak Mad tengah menikmati liburan panjangnya setelah manajemen Persebaya memutuskan baru akan mulai mengumpulkan para pemain lagi usai Lebaran mendatang. Dia pun tidak risau soal apakah surat kontrak untuk musim depan bakal kembali menghampirinya.

“Hahaha, kalau klub lain di luar Surabaya sepertinya tidak karena keluarga saya ada di Surabaya. Lebih enak di Surabaya sambil mengawasi keluarga dan anak-anak,” tutupnya. Namun, sekarang semua orang di Surabaya sudah tahu lho Cak, kalau sampeyan ini tukang pijat.

Sumber : kompas.com

Categories: pijat story (cerita) | Tags: | 2 Comments

Hariono, Insinyur Sipil yang Serius di Bisnis Pijat

Minggu, 7 Oktober 2001

Kompas/retno bintarti
Hariono
KALAU kebetulan Anda menemukan Javanese Traditional Massage di Singapura, tak salah lagi, itu adalah pijat asal Indonesia. Sudah setahun ini pijat ala Jawa ini melanglang di negeri jiran tersebut.Hasilnya lumayan, terus terjadi peningkatan. Soalnya kami pasang harga tak mahal, cuma 50 dollar Singapura. Bandingkan dengan pijat di hotel di sana yang harganya 80 dollar,” begitu kata Hariono, pemilik tempat pijat di River Valley Road, kawasan Liang Road.
Untuk masyarakat Singapura, harga pijat 50 dollar atau sekitar Rp 250.000 sejam, ditambah lagi dengan jenis pijatannya yang menurut Hariono, “Jauh lebih enak dari pijat lain misalnya Thai massage.”

Hariono, pria kelahiran Malang tahun 1944, mengenal betul macam-macam jenis pijat karena salah satu usaha yang dijalaninya sejak tahun 1983 adalah di bidang pijat. Dengan merek dagang Bersih Sehat, Hariono terus mengembangkan jasa pijat ini sampai yang terakhir di Singapura.

Di Jakarta, Bersih Sehat yang mulai dirintis dari sebuah rumah kontrakan dekat Pasar Mayestik, Kebayoran Baru, kini mempunyai empat lokasi. Dalam beberapa hari ini bahkan akan bertambah lagi satu tempat di Plaza Menteng, Jakarta Pusat. Tempat serupa, dengan nama Griya Anyer Spa, dibuka beberapa tahun lalu di Anyer.

Sebelum terjadi krisis ekonomi, lokasi di Anyer itu banyak didatangi orang-orang asing yang bekerja di proyek-proyek dekat situ. “Sekarang tamunya agak berkurang karena orang-orang asing pergi. Kebanyakan sekarang orang-orang lokal,” kata Hariono.

Tamu Asia

Sebagian tamu Bersih Sehat memang orang-orang asing, khususnya Jepang, Korea, Singapura, Cina, sebagian lagi orang-orang Barat. “Biarpun begitu, jelas tamu orang Indonesia lebih besar. Tamu asing mungkin sekitar 40 persen. Kebanyakan orang-orang Asia karena memang orang Asia lebih mengenal pijat,” ucap Hariono.

Tak lama sesudah dia memberi keterangan, serombongan orang-orang asing datang secara bersamaan. “Mereka adalah crew China Airlines. Biasanya mereka pijat sampai 4,5 jam. Mulanya dua jam, lalu makan minum, lanjut lagi 2,5 jam lagi. Katanya selain murah dan merasa segar, sekalian menghilangkan jet-lag,” kata pemilik tempat pijat ini.

Dari mana orang-orang itu mengenal tempat pijat itu, Hariono kemudian menunjukkan sebuah majalah perjalanan terbitan Singapura serta buku Business Traveler in Asia 2000 terbitan Nikkei yang menyebut tempat pijat ini. Buku tersebut merupakan semacam rekomendasi buat mereka yang membutuhkan tempat-tempat khusus ketika sedang berkunjung ke negara tertentu. Hariono merasa beruntung, tempat pijatnya tercantum di situ. “Karena bukan saya yang menyodorkan diri. Mereka survei dan sama sekali saya tidak bayar,” katanya.

Di tengah makin banyak usaha serupa, lagi-lagi Hariono merasa bersyukur tempat pijatnya masih didatangi pelanggan-pelanggannya. Hari Sabtu sesudah makan siang merupakan saat puncak dalam sepekan. Kapasitas tempat di Jalan Tebah, Mayestik, sebanyak 80 kamar misalnya, biasanya sebagian besar terisi.

Meski antara tempat tidur cuma berbatas sekat kain, tamu tidak perlu khawatir mendengar suara ribut orang ngobrol. “Kami mempunyai peraturan agar tamu mematikan telepon genggam sebelum masuk dan diharapkan mereka tidak ngobrol selama dipijat,” kata Hariono.

Bukan cuma ketenangan, Hariono juga menjamin tempat pijatnya bersih dari kemesuman yang sering dikonotasikan terjadi di tempat-tempat pijat. Nama Bersih Sehat dipakai bukan tanpa maksud. Kata bersih tak cuma berarti bersih secara fisik, tetapi juga bersih dalam arti pikiran. “Kata ini sengaja saya pakai dan mempunyai arti bersayap,” jelas Hariono.

Begitu juga kata griya yang mendahuluinya dipilih untuk menciptakan konotasi positif. “Dulu ketika saya mulai membuka usaha ini kan tempat-tempat pijat menggunakan istilah panti yang kemudian berkonotasi kurang baik,” ungkap Hariono.

Doyan pijat

Sebagai seorang insinyur sipil lulusan Institut Teknologi Bandung tahun 1973, Hariono seperti tersasar ke bidang usaha jasa ini. “Dulu enggak punya pikiran untuk mengembangkan cabang. Banyaknya saingan semakin memacu saya karena kalau ada apa-apa karyawan saya yang sudah banyak itu mau diapakan,” begitu pertimbangannya sampai akhirnya dia membuka satu per satu cabangnya.

Dengan jumlah pemijat sekitar 200 orang dan karyawan lainnya sebanyak 100 orang, Hariono akhirnya memang harus mengembangkan usahanya. “Bisnis ini bukan bisnis besar, tetapi cukup memberi lapangan pekerjaan kepada banyak orang,” kata pria yang juga mempunyai usaha konsultan teknik, usaha bidang pendidikan, dan restoran ini.

Makanya kendati awalnya sekadar-sekadar saja, Hariono kemudian serius mengelola usaha jasa ini. Jika dipikir-pikir ke belakang, dia sendiri heran mengingat dulu idenya hanya gara-gara tak pernah menemukan tempat pijat yang pas.

Hariono dasarnya suka pijat. “Dari kecil kalau saya sakit ibu memanggilkan mbok-mbok pijat. Saya jadi suka sekali pijat, tetapi waktu sudah di Jakarta susah sekali cari mbok-mbok pemijat,” ungkap pria kelahiran Malang ini.

Kesulitan ini yang mendorong Hariono membuat tempat pijat. Boleh dikatakan tanpa modal berarti. Sebuah rumah sederhana di Jalan Tebah, Kebayoran Baru, dikontrak dan dijadikan tempat usaha pijat. Lantai dari semen dibiarkan cuma ditutup vinil supaya kelihatan lebih bersih.

“Saya tekankan, karena tempatnya jelek, pelihara dengan lebih baik. Yang paling saya tekankan adalah kebersihan. Kalau tempat bagus cukup dipel, karena tempatnya jelek harus ada ekstra misalnya menggosok,” ungkap Hariono mengenang awal usaha pijatnya ini.

Di luar dugaan, respons bagus. Kapasitas delapan tempat tidur yang disediakan, dalam waktu dekat tidak mampu menampung tamu yang sebagian di antaranya adalah orang-orang Jepang di Jakarta.

Penambahan tempat tidur menjadi 20 buah pun kemudian tidak cukup lagi sampai akhirnya ini memunculkan pesaing baru yang rupanya menampung limpahan tamu-tamu Bersih Sehat.

“Pesaing waktu itu punya kapasitas 30 tempat tidur. Saya harus bisa lebih dari itu, saya luaskan tempat sehingga bisa menampung 31 tempat tidur, ha…ha…ha,” ungkap Hariono.

Rumah kontrakan sederhana sudah tak berbekas lagi. Cikal bakal Bersih Sehat di Mayestik kini bukan cuma tidak lagi berlantai semen, tetapi juga menarik dengan bangunan tiga lantai. Perluasan tak hanya ke atas, juga menyamping alias ekspansi ke samping.

Lokasi yang kini banyak tertutup bangunan baru, ternyata tak mengurangi kedatangan tamu. “Mungkin karena pelanggan telanjur kenal dan usaha seperti ini kan memang lebih mengandalkan promosi mulut ke mulut. Kalau orang puas, mereka akan membawa teman-temannya,” begitu antara lain kiat yang diyakini betul oleh Hariono. (ret)

Sumber : kompas.com

Categories: pijat story (cerita) | 5 Comments

Pijat Refleksi – Dari Tenda Tepi Jalan sampai Kelas Bisnis yang Wah

30 September 2004

Soelastri Soekirno

Sarana dan arena pijat refleksi kini makin beraneka ragam dan dapat ditemukan di banyak tempat. Pijat khusus yang dulu banyak dijumpai di kampung atau kawasan Pecinan kini sudah menyebar hingga ke pusat niaga di seantero Jakarta dan sekitarnya seperti Serpong, Karawaci, Kota Tangerang, dan Bekasi. Salon kecantikan juga ikut menyediakan layanan pijat refleksi.

Peralatan pijat yang mereka gunakan beragam, ada yang hanya dengan tangan, alat dari kayu, sampai peralatan elektronik.

Para terapis (pemijat) pun tak lagi terbatas pada para sinse (ahli pengobatan dari China), melainkan sudah menyebar ke pemijat tradisional dan pemuda-pemudi yang dididik menjadi terapis pijat refleksi.

Maraknya tempat pijat refleksi yang diikuti dengan animo masyarakat pada zaman ekonomi sulit seperti sekarang tentu berdampak positif pada penyerapan tenaga kerja.

Jika satu tempat pijat rata-rata mempekerjakan tiga orang, maka 100 usaha rumah pijat refleksi setidaknya telah membuat 300 orang rata-rata lulusan sekolah menengah atas dan sederajat dapat bekerja di sektor ini. Pendapatan mereka dari Rp 650.000 (untuk penunggu alat pijat elektronik) hingga sekitar Rp 2 juta per bulan (terapis termasuk gaji dan tip dari klien).

Padahal, rumah-rumah pijat yang dikelola secara profesional seperti Nano Healthy Family di Jalan Pluit Selatan Raya, Jakarta Utara, mempekerjakan sekitar 100 terapis. Belum lagi, rumah pijat lain yang sudah lebih lama beroperasi, misalnya Oriental yang memiliki banyak cabang.

Tak salah jika usaha di bidang pijat ini makin banyak diminati para pemilik modal besar.

Berkembangnya tempat pijat refleksi tak lepas dari kebutuhan warga kota. Sudah menjadi rahasia umum, kehidupan di Ibu Kota dan sekitarnya penuh dengan masalah yang mengakibatkan stres sehingga hidup terasa kurang nyaman.

Kemacetan lalu lintas yang setiap hari dihadapi warga kota sungguh membosankan dan membuat mereka jengkel. Belum lagi persoalan kehidupan sehari-hari. Keadaan tersebut diikuti minimnya kebiasaan berolahraga secara teratur, maka lengkaplah penderitaan sebagian warga Jakarta dan sekitarnya.

Ke mana mereka bisa sejenak melepaskan stres dan gangguan pada bagian tubuhnya secara mudah? Jawabnya adalah ke tempat pijat refleksi, baik yang mempekerjakan terapis maupun yang sekadar menyediakan alat pijat elektronik. Di tempat-tempat itulah mereka mengendurkan urat, atau bahasa yang lazim dipakai para terapis, melancarkan peredaran darah.

“Badan saya sering terasa pegal. Iseng-iseng saya mencoba pijat badan dan kaki dengan alat ini. Lho hasilnya badan terasa enteng,” urai Yono, pekerja sebuah perusahaan di Muara Karang, Jakarta Utara, saat sedang pijat dengan kursi pijat badan dan kaki elektronik di ITC Roxy, Jakarta Pusat, awal pekan lalu.

Sekitar 15 menit kemudian pemijatan pun berakhir. “Wah, segar rasanya,” kata lelaki asal Wonogiri itu sembari mengulurkan uang Rp 10.000 kepada Nova, perempuan penjaga alat pijat elektronik tersebut. Pimpinan Nova menyewakan alat pijat untuk badan dan kaki masing-masing Rp 5.000 per 15 menit.

Di lantai berbeda, Endy, pemijat, tengah menunggu seorang temannya yang memijat pelanggan dengan tangan. “Pelanggan kami rata-rata orang toko. Per jam ongkosnya Rp 20.000,” kata terapis sebuah tempat pijat refleksi di ITC Roxy itu.

Kebutuhan warga kota akan alat dan sarana memperlancar peredaran darah secara alami inilah yang kemudian ditangkap para pemodal.

Pemilik Nano Healthy Family yang menjadi agen sebuah alat kesehatan asal China semula tak terpikir untuk membuka tempat pijat refleksi.

“Tempat pijat ini dibuka setahun lalu untuk menarik orang datang ke sini dengan harapan mengenal dan kemudian membeli alat kesehatan yang kami datangkan dari China tersebut,” kata Manajer Nano Healthy Family Suhardi Anggawidjaja, Rabu (27/9).

Tak disangka, tempat pijat yang didesain khusus dengan fasilitas wah bak di kabin pesawat kelas bisnis ini malah disukai pengunjung. Apalagi, tarif yang dipasang terjangkau oleh semua kalangan.

Bayangkan Anda bisa menikmati pijatan di kaki, badan, dan tangan selama 90 menit hanya dengan Rp 25.000 (pukul 10.00- pukul 13.00) atau Rp 40.000 (pukul 13.00 ke atas).

Selama dipijat, Anda bisa berbaring dengan nyaman di kursi empuk nan lebar sembari menikmati siaran televisi atau film dari layar televisi khusus untuk Anda.

Suhardi mengaku pihaknya belum menjadikan lahan pijat refleksi sebagai bisnis murni. “Dengan tarif murah seperti itu kami hanya untung sedikit,” ujarnya sambil tertawa.

Menanggapi keadaan itu, Ketua Asosiasi Praktisi Pijat Pengobatan Indonesia Baron Suwarta menyambut gembira. Namun, ia mengingatkan para terapis perlu memenuhi standar kompetensi pijat refleksi agar jangan malah membuat klien parah penyakitnya setelah dipijat.

“Kami sudah menyiapkan standar kompetensi itu dan segera menyosialisasikan kepada para terapis,” kata Baron.

Secara terpisah, Kepala Subdirektorat Bina Upaya Tradisional Departemen Kesehatan Dunanti Sianipar mengingatkan masyarakat agar berhati-hati melakukan pijat refleksi.

Kepada pengelola pijat refleksi, ia meminta izin operasinya dilengkapi. Alat pijatnya pun harus didaftarkan di Departemen Kesehatan. Diharapkan, alat-alat itu benar-benar menyehatkan.

Sumber : kompas.com

Categories: pijat story (cerita) | 21 Comments

Gede Ngurah “Pak Oles” Wididana

GEDE Ngurah Wididana lebih dikenal dengan nama Pak Oles. Ini gara-gara ia menemukan racikan minyak penyembuh serba guna hasil perpaduan teknologi effective microorganism, yang ia pelajari di Jepang, dengan teknik pengobatan tradisional Bali. Secara setengah bergurau ia menyebut penemuannya sebagai minyak oles karena memang salah satu cara penggunaannya dioles-oleskan.

SEBUTAN Pak Oles kemudian tidak sebatas menjadi semacam “ideologi” perlawanan terhadap kemapanan, tetapi memasuki ruang-ruang serius seperti penamaan perusahaan atau produksi. Perusahaan inti yang memayungi perusahaan-perusahaan berikut diberi nama PT Karya Pak Oles Tokcer. Nama ini, misalnya, kemudian berkembang menjadi PT Visi Media Pak Oles, yang kemudian menerbitkan Koran Pak Oles dengan motto mirip-mirip iklan jamu obat kuat “jangan anggap enteng”. Meski memakai terminologi pinggiran, Wididana bukanlah jenis orang serampangan dalam mengurus perusahaan. Buktinya, sejak tahun 1998 silam di seluruh perusahaannya telah bekerja 2.000 karyawan. Mereka tersebar di berbagai wilayah, seperti Jakarta, Lampung, Surabaya, Malang, Magelang, Makassar, Mataram, Sumbawa, Garut, Gresik, Banyuwangi, dan beberapa kota kecil lain.

Berbagai produk obat-obatan alternatif, kini ada 24 jenis, yang ia keluarkan sesungguhnya semuanya dalam kerangka menjawab tudingan bahwa teknologi effective microorganism (EM) yang ditemukan Prof Dr Teruo Higa adalah racun.

“Justru untuk menjawab tudingan miring itu, saya bikin obat dengan EM. Saya gabung dengan usada Bali. Ya hasilnya tradisional-modern,” kata Pak Oles, eh, Wididana, Kamis (26/2) di Denpasar.

Bidang usaha Wididana kemudian berkembang ke arah “tak terduga”. Belakangan ia juga membuka panti pijat dan restoran, yang semuanya menggunakan terminologi nyeleneh. Dengan menempuh jalan ini, sejak ia kembali dari Jepang membawa EM tahun 1990 sampai sekarang, ia tetap menjadi tokoh dengan predikat “miring”.

“Saya selalu dicibirkan, mungkin karena dinilai tak serius. Ini kan hanya soal cara saja. EM itu penemuan yang luar biasa dan serbaguna,” katanya.

Mungkin karena Anda memulai dan memasuki bidang-bidang bisnis yang tak lazim?

Apa salahnya saya memberi nama minyak oles. Ini kan kata yang sebenarnya sangat akrab di telinga kita, seperti juga kata “tokcer” itu.

Tetapi, kesannya jadi main-main. Padahal, Anda menggabung penemuan teknologi dengan peninggalan pengobatan tradisional?

Saya justru sangat serius dalam soal ini. EM ditemukan Prof Teruo Higa tahun 1980 sebagai jawaban atas kekhawatiran penggunaan bahan-bahan kimia di bidang pertanian dan kesehatan secara berlebihan. Saya beruntung bisa berguru langsung kepada beliau.

Anda mungkin memberi kesan asal- asalan dengan memakai nama-nama yang tak serius? (He-he…)

Bahkan, sebelum menemukan minyak oles (bokashi) itu, saya mempelajari usada Bali dengan membaca banyak lontar. Selain itu, saya juga melakukan penelitian di Busungbiu (Buleleng-Red) di mana saya dilahirkan. Akhirnya saya menemukan obat apa yang disebut lengis arak nyuh oleh masyarakat desa. Bahannya hanya minyak kelapa serta beberapa rempah yang kemudian diasapi di atas dapur tradisional.

Cara pengasapan itu sebenarnya proses permentasi secara alami yang bisa memakan waktu tiga bulan. Permentasi akan menghasilkan zat-zat antioksidan yang berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit. Permentasi tradisional yang lain dilakukan orang Bali dengan memasukkan celebingkah (pecahan gerabah yang dibakar-Red) ke dalam ramuan. Celebingkah itu sendiri telah mengandung mikroorganisme permentasi.

Adapun teknologi EM adalah proses permentasi buatan terkontrol dengan memanfaatkan mikroorganisme. Keduanya sama-sama fermentasi. Akan tetapi, dengan EM, fermentasi bisa dilakukan hanya dalam dua minggu.

Selama ini teknologi EM dan nama bokhasi itu lebih lekat dengan nama pupuk organik. Sekarang kok tiba-tiba Anda membuatnya jadi obat-obatan, apa tak menjadi kacau?

Pada awalnya saya memang mendirikan perusahaan pembuat pupuk organik (menyebut nama perusahaan-Red) yang diolah dari sampah. Bokhasi sendiri adalah bahasa Jepang yang berarti permentasi sampah dapur. Dan perusahaan pupuk organik itu masih ada sampai sekarang. Saya membangun pengolah sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung, Denpasar, untuk membuat pupuk. Semua menggunakan teknologi EM.

(Wididana secara khusus mempelajari teknologi EM dari Prof Teruo Higa ketika ia menempuh S2 di University of the Ryukyus Okinawa, Jepang. Ia kemudian menjadi orang Indonesia pertama yang memperkenalkan teknologi ini ke Tanah Air. Di Indonesia ia mendirikan beberapa yayasan yang secara khusus melatih para petani di pedesaan dalam memanfaatkan EM. Akan tetapi, awal tahun 1990-an segala upayanya mengenalkan teknologi ini seperti dicibirkan. Ia tak memperoleh dukungan sama sekali dari pemerintah. “Karena itu, kemudian saya pikir, saya harus melakukan segala sesuatunya sendirian tanpa dukungan pemerintah.”)

Apa karena itu kemudian Anda memberi nama perusahaan dan merek dagang dengan nama-nama yang marginal itu?

Oh, itu antara lain saja. Pertama, karena saya ingin produk ini cepat dikenal. Awalnya memang hanya dipasarkan dari petani ke petani. Kedua, untuk menyeruak pasar obat-obatan alternatif yang dipenuhi ramuan dari China, saya mesti menciptakan sesuatu yang lain, tetapi berkhasiat dan yang terpenting bisa dipertanggungjawabkan secara medis. Minyak oles bokhasi itu baru kemudian diuji klinis pada binatang, setelah menyembuhkan manusia… he-he-he.

Anda tak takut produk-produk itu disamakan dengan obat-obatan jalanan?

Oh itu tidak apa-apa. Saya tidak apa- apa. Obat-obatan tradisional tak pernah melewati proses uji klinis. Kita diyakinkan karena faktor keturunan kan? Saya sekarang memiliki lebih dari 350 jenis tanaman obat di kebun milik sendiri. Itu kan hasil dari mempelajari lontar-lontar usada Bali.

(Sejak tahun 1997 Wididana mendirikan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Teknologi EM di Desa Bengkel, Kecamatan Busungbiu, Buleleng, Bali, sekitar 80 kilometer di utara Denpasar. Di desa kelahirannya itulah kemudian lelaki lulusan Fakultas Pertanian Universitas Udayana, Denpasar, ini menanam pohon- pohon obat di atas tanah seluas tujuh hektar. Di desa kecil itu pula kini pabrik obatnya berlokasi).

ANDA mendirikan panti pijat, apa tidak semakin membuat produk-produk obat Anda makin diberi cap miring. Apalagi bokhasi Anda promosikan sebagai obat kuat seksual juga?

Semua usaha saya itu pengembangan untuk membangun sistem. Setelah saya belajar manajemen di American Institute Management Studies Hawaii tahun 1999, saya merumuskan apa yang saya sebut sebagai SIMT (sistem, informasi, manajemen, dan teknologi). Teknologi dan manajemen harus bergabung membentuk industri, industri melahirkan barang dan jasa, yang kalau diputar akan membentuk pasar. Semua pasar harus dikelola dengan informasi. Maka, saya membuat di antaranya panti pijat, restoran organik, dan koran. Semua itu sesungguhnya tetap dalam kerangka mengembangkan teknologi EM tadi, yang terejawantah dalam minyak oles bokhasi.

Bayangkan, dalam sebulan saya harus mengeluarkan Rp 200 juta untuk membuat koran itu, dan sekarang sudah jalan selama tiga tahun. Kalau kita tidak memiliki jaringan distribusi, pastilah koran ini sudah bangkrut. Subsidinya kita ambil dari penjualan minyak oles. Namun, sebagai pengemban informasi, koran ini harus mampu menunjang penjualan minyak oles itu. Korannya gratis. Kita cetak sebanyak 150.000 eksemplar dan diedarkan ke seluruh jaringan distribusi produk obat.

(Pak Oles menerapkan sistem yang ia sebut take and give dengan berbagai pemasok botol obat, kemasan, komputer, serta berbagai produk lain. Ia minta mereka memasang iklan di korannya. Distribusi kemudian mengikuti jaringan pemasaran obat-obatan yang ia bangun secara mandiri).

Panti pijat itu juga hal serius. Saya ingin memberi bukti bahwa perpaduan teknologi EM dengan usada Bali menghasilkan ramuan yang berkhasiat. Memang mungkin karena banyak pijat-pijat yang tidak “lurus”, lalu semua panti pijat diberi kesan ngeres. Kalau saya menyebut bokhasi memiliki kemampuan meningkatkan vitalitas seks, itu memang benar. Di dalamnya terdapat 135 jenis tanaman obat yang dipermentasi dengan EM. Tidak saja ketika pengolahan, tetapi juga saat menanam tumbuh-tumbuhan obat itu.

Apa sih sesungguhnya EM itu, Anda begitu ngotot mengembangkan ini? Apa karena Anda pernah mendapat bea siswa dari Jepang itu?

Ini tak ada hubungannya dengan bea siswa. EM adalah teknologi effective microorganism dari kultur cair. Pertama-tama memang ditemukan untuk melakukan permentasi sampah menjadi pupuk organik. Jadi, intinya organik untuk mengembangkan pertanian organik, sebagai jawaban atas ekses-ekses penggunaan bahan kimia. Lalu, memang kemudian menjadi bahan obat-obatan pertanian untuk meminimalkan penggunaan pestisida.

Ini kan teknologi yang sangat bermanfaat bagi dunia pertanian kita. Makanya, saya secara konsisten sejak awal tahun 90-an terus-menerus melatih petani di seluruh pelosok desa untuk memanfaatkan EM. Mungkin karena banyak punya massa petani, tahun 1998 saya dipinang partai. Lalu, saya menjadi anggota DPRD Bali…. (Berhenti sembari merenung sebentar) Lalu saya berhenti karena pandangan demokrasi saya dianggap melawan partai.

(Dalam pemilihan gubernur Bali beberapa waktu lalu Wididana ngotot mencalonkan diri. Padahal, partainya telah memiliki calon lain. Banyak yang menduga itu hanya trik politiknya, di mana pada saat-saat akhir ia pasti mengundurkan diri. Namun, ia tidak melakukan itu. Setelah benar-benar kalah dalam pemilihan, ia kemudian keluar dari partainya).

Demokrasi dalam pandangan saya ditentukan oleh rakyat. Kalau segala sesuatu masih mengikuti partai di pusat, siap-siap saja akan ada money politics. Saya dicalonkan dari bawah, saya harus ikuti itu. Apa pun risikonya. Saya berani karena saya memiliki apa yang saya sebut sebagai Semberani. Bagaimana kita harus berani memutuskan dan melakukan sesuatu dengan kerja keras, ditambah dengan keseimbangan pikiran dan hati nurani. Saya belajar pernapasan sejak tahun 1980. Semberani adalah gabungan antara spiritual dan materialisme. Pikiran yang terkendali dan fokus itulah sebenarnya alat untuk mencapai material.

Oleh karena ini juga, di saat semua kawan-kawan wakil rakyat seperti tak punya nyali, saya tetap hadir dengan keyakinan tadi. Bahwa demokrasi tidak bisa diciptakan dengan garis-garis partai. Saya maju terus dan menerima segala risiko untuk memberi pendidikan kepada mereka.

Apa mungkin menerapkan spiritualisme dalam pola-pola manajemen?

Visi saya adalah mengembangkan teknologi, mendapatkan keuntungan dari teknologi, menciptakan lapangan kerja, serta mewujudkan kesejahteraan karyawan dan masyarakat luas. Pikiran pemimpin yang seimbang akan menciptakan keseimbangan di dalam perusahaan, dan yang terpenting adalah konsisten dan ikhlas. Perusahaan-perusahaan yang saya dirikan jatuh-bangun, banyak ditipu. Apa yang saya bawa kemari banyak dicibir, bahkan dituduh racun, tetapi saya bergerak terus dengan dana-dana yang saya cari sendiri. Semua saya kerjakan dengan ikhlas. Syukurlah sekarang teknologi EM ini sudah banyak diterapkan di negeri ini.

Untuk mencapai keseimbangan pikiran yang fokus tadi, kita harus melatih diri dengan apa yang disebut meditasi. Pernapasan perut untuk melatih kesabaran, sedangkan pernapasan total untuk meningkatkan daya tahan tubuh, membakar racun, serta mendorong keberanian.

Bagaimana mentransformasi keseimbangan diri ke dalam perusahaan?

Kalau sudah seimbang, energi alam masuk ke dalam tubuh kita. Saya sampai seperti sekarang ini karena proses perbaikan terus-menerus, manajemen harus terus di-up-grade. Kalau kita seimbang, kita waspada, sabar, dan toleran. Misalnya rugi, memang dalam hukum dagang kan untung-rugi. Pada waktu untung jangan terlalu bergembira, rugi jangan terlalu bersedih.

Keseimbangan suatu perusahaan ditentukan oleh keseimbangan pemimpinnya. Dia memenangkan informasi, ide, secara benar. Ini yang kemudian saya sebut sebagai kecerdasan spiritual. Kecerdasan ini harus seimbang dan harus berani. Berani memperjuangkan hak orang lain dan diri sendiri serta ikhlas.

WIDIDANA setelah lulus dari Universitas Udayana, bersama istrinya Komang Dyah Setuti (37), tahun 1985 memilih hidup sebagai petani di Desa Songan, Kintamani, Bangli, sebuah desa yang terletak di lereng Gunung Agung. Ia mengontrak tanah seluas dua hektar untuk ditanami sayur-mayur.

Setiap malam tiba ia menyempatkan diri berdiskusi dengan almarhum Sutan Takdir Alisjahbana yang tinggal tak jauh dari situ. Perkenalan itu kemudian membawanya menjadi kepala laboratorium lapangan seluas 17 hektar milik Fakultas Pertanian Universitas Nasional (Unas) Jakarta.

Tahun 1987 ia memperoleh bea siswa belajar sastra Jepang di Okinawa. Namun, kesempatan itu ia gunakan untuk berkenalan dengan Prof Teruo Higa, yang kemudian menjadi guru panutannya. Pak Oles kemudian menyelesaikan studi S2 di Jepang dengan meraih master of agriculture. Kemudian ia juga menyelesaikan S3 manajemen di Hawaii.

Ia sempat menjadi dosen di Unas Jakarta, sebelum akhirnya memutuskan kembali ke Bali dengan membangun pusat penelitian dan pelatihan serta pabrik obat di desa kelahirannya, Desa Bengkel, Buleleng.

Pria yang dilahirkan pada 9 Agustus 1961 ini dikaruniai putra-putri, Luh Putri Dewi Okinawa (18), Kadek Brahmashiro Wididana (16), Komang Wibhuti Emriko (9), dan Ketut Pandu Kumara (1).

Kehadiran Pak Oles sebagai produsen dan pengelola obat-obatan alternatif (di luar obat-obatan kimia) memang penuh dengan kejutan. Ia misalnya tidak saja menempuh cara-cara pemasaran dari pintu ke pintu, berbagai pusat penjualannya juga melayani pesan antar. Perusahaannya melakukan intervensi ke daerah- daerah yang ia kategorikan potensial bagi pengembangan teknologi EM, seperti Magelang (pertanian) atau Gresik (pertambakan).

“Semua adalah cara saya menghadirkan EM di mana-mana, termasuk membuka panti pijat itu,” katanya.

Pewawancara: Putu Fajar Arcana

Sumber : kompas.com

Categories: pijat story (cerita) | 1 Comment

Orang Madura di Bali

Bukan karena takut bom meledak lagi di Bali, saya memilih bersih-bersih rumah saat tahun baru. Justru saat itulah saya mengalami musibah.

Hari Minggu, 1 Januari lalu, saya menglami keseleo pinggang saat berusaha menggeser sebuah kasur pegas cadangan yang seperti mau jatuh dari rak penyimpanannya. Terpaksa pekerjaan bersih-bersih rumah dihentikan. Mau pergi ke fisioterapi sudah pasti tidak ada yang buka. Saya terdiam pasrah menahan rasa nyeri pada pinggang kanan saya.

Sebetulnya saya kurang suka dipijat. Tapi karena rasa nyeri yang tidak kunjung menghilang meskipun sudah diolesi balsam panas, saya akhirnya menelepon Ibu saya minta tolong dipanggilkan tukang pijat yang biasa memijat keponakan saya.

Dua jam kemudian, Bu Nan, begitu ibu tukang pijat ini biasa dipanggil, sudah tiba di rumah saya. Saya menceritakan asal-muasal saya mendapatkan rasa nyeri di pinggang saya ini.

“Sampeyan ini Mbak! Wong, sudah tahu kasur berat kok digeser sendiri. Ya begini ini jadinya,” kata Bu Nan mengomeli saya dengan logat Maduranya yang kental.

Sebetulnya saya tidak terlalu mengenal Bu Nan. Keponakan saya yang memang doyan dipijat, yang sering menceritakan sosok Bu Nan ini. Yang pijatannya mantap lah, yang orangnya kecil lah, yang kulitnya gosong lah. Baru hari itu saya bertemu langsung dengannya.

Memang benar, pijatannya mantap. Bahasa lainnya, sakit! He…he…he.., mungkin karena saya tidak sering dipijat ya, jadi tidak tahan. Keponakan saya kalau tahu pasti tertawa habis melihat saya meringis-ringis keluar airmata waktu sedang dipijat. Tapi berangsur-angsur rasa nyeri yang saya rasakan di pinggang mulai berkurang. Saya mulai bisa menikmati ’kemantapan’ pijatan Bu Nan yang sesungguhnya. Enak juga!

“Sampeyan kalau perlu pijatan, telpon aku saja Mbak! Tadi itu waktu Ibu sampeyan telpon, anakku yang terima telponnya. Tapi jangan khawatir, pasti disampaikan kok,” katanya setengah berpromosi.

“Berapa anaknya, Bu Nan?” aku menanyainya sesudah merasa lebih nyaman.

“Anakku ada dua Mbak. Dua-duanya laki. Sudah rabi (menikah) semua. Putu-ku (cucu) sudah ada empat.”

“Hah? Bu Nan sudah punya cucu? Memang Bu Nan umur berapa?” Aku bertanya keheranan, sebab kalau kulihat, Bu Nan ini belum terlalu tua.

“Umurku 41, Mbak. Tapi umur tiga belas aku sudah dinikahkan. Umur lima belas tahun aku wes punya anak. Jaman dulu ya gitu itu Mbak, apalagi di Madura.”

“Tiga belas tahun, Bu Nan?” aku menggeleng-geleng tidak percaya.

“Iyo, Mbak. Wong aku ini ngerawat bayi masih ndak bisa kok. Ibuku yang ngurusi anak ku itu! Habis punya anak yang kedua itu aku langsung minta steril.”

Aku keheranan mendengar pernyataannya,” Kenapa kok minta disteril, Bu Nan?”

“Aku ini orang susah Mbak, aku ndak mau anakku jadi orang susah juga. Dua saja sudah cukup, aku sama bojo-ku mampunya ngerawat segitu. Sampeyan lihat ndak di tivi-tivi itu! Wes ndak punya, tapi kok manak (punya anak) terus. Anaknya kan jadi ndak terurus. Mau dikasih makan apa? Ndak ngerti aku!”

Aku semakin takjub, “Anak-anaknya Bu Nan kerja di mana?” Aku tidak bisa menyembunyikan rasa ingin tahuku.

“Anakku yang besar jadi penjahit, punya kios kecil di pasar. Yang kecilan buka usaha servis barang elektronik, tivi-tivi, radio gitu Mbak. Aku sudah seneng, mereka sudah bisa ngidupi keluarga mereka sendiri. Nek aku sendiri, sekarang lagi ngumpul-no duit buat uang muka, mau nyicil BTN daripada aku ngontrak terus, Mbak! Bayar kontrakan sama aja dengan bayar cicilan, kan bagus aku nyicil to Mbak!” Ia berkata penuh semangat. Aku ternganga mendengarkan cerita Bu Nan, pikirannya maju sekali.

“Tapi jaman sekarang susah Mbak. Apa-apa mahal, mana ada bom lagi, di mana itu? Sulawesi sana ya Mbak? Orang seng ngebom-ngebom iku yo jelas-jelas salah! Mana ada uwong mateni uwong (orang membunuh orang) bisa masuk surga? Jadi jangan ngomong orang Jawa, orang Bali, orang Islam, Kristen, Hindu, pokoke kalau sudah membunuh ya berdosa,” ia berceloteh sambil tetap memijat aku.

Dalam hati aku berpikir sendiri. Kalau saja mayoritas rakyat negeriku ini memiliki pikiran maju seperti Bu Nan, meskipun aku yakin ia tidak mengenyam bangku pendidikan yang tinggi, tentunya kesejahteraan makin dekat menjadi kenyataan.

Dari jendela kamar tidurku, aku melihat sosok Bu Nan mengayuh sepedanya keluar dari halaman rumahku. Mudah-mudahan uang muka untuk mencicil BTN bisa cepat dikumpulkannya.
(Mira, ibu rumah tangga, tinggal di Bali)

Sumber : kompas.com

Categories: pijat story (cerita) | Leave a comment

Atasi Kaku Otot dengan Massage Sport

Minggu, 5 Februari 2006
Bila otot sudah terasa pegal-pegal, memang paling enak kalau tubuh dipijat. Beragam teknik ditawarkan para pemijat, mulai dari pijat ala india, pijat oriental, pijat refleksi hingga pijat shiatsu dari Jepang. Namun, Juwaeni–praktisi pijat dari Bandung yang buka praktik di Jalan Wadas Raya, Pancoran Mas, Depok ini menawarkan teknik pijatan yang disebut massage sport atau pijat olahraga.
“Massage Sport ini bisa untuk mengatasi masalah masuk angin, keseleo hingga kaku otot,” kata Juwaeni sambil menegaskan kalau teknik pijat olahraga bukan sesuatu yang baru di Indonesia.
Kendati demikian, Uwen–sapaan akrabnya– meminta agar pijat olahraga itu dilakukan oleh praktisi yang telah berpengalaman, sehingga terasa manfaatnya. Karena pijat olahraga bertujuan mengalirkan darah ke otak dan melemaskan otot untuk menghindari cedera. Teknik itu memicu sistem pengeringan limpatik serta mendorong asam laktat dan racun keluar dari tubuh.
“Pijat olahraga sangat baik untuk mengatasi gangguan di leher, bahu, dan punggung. Pemijatan dilakukan dengan cara menarik dan mengurut bagian tubuh tersebut agar ligamen dan tendon pasien tidak tegang,” ujarnya.
Sejauh pengalaman berpraktik, Uwen hanya menerima pasien dengan gangguan penyakit ringan, bukan penyakit berat. Contohnya keluhan masuk angin, keseleo, kaku otot dan angin duduk. Sedikit bernostalgia, ia beberapa kali menjadi anggota ofisial tim untuk memijat atlet nasional yang berlaga di arena SEA Games.
Tak heran, pelanggannya kebanyakan datang dari kalangan atlet. Namun kini tak sebatas atlet, pelanggannya pun datang dari karyawan biasa hingga eksekutif muda yang menderita kaku otot akibat harus berlama-lama bekerja di ruangan bersuhu dingin alias memakai AC (air conditioning).
“Pasien kantoran sering mengalami kekakuan dan nyeri otot karena terlalu lama berada di dalam ruangan ber-AC. Kondisi ruangan dingin membuat otot menjadi kaku dan ngilu,” ujarnya.
Uwen menjelaskan, teknik pijat olahraga itu tidaklah sulit, hanya menggunakan 3 jari tangan, yakni telunjuk, tengah, dan jari manis. Tekanan berfungsi meningkatkan kemampuan, meringankan sambungan dan memperbaiki lapisan otot.
Ia menjelaskan, untuk gangguan kaku otot di kaki, pertama kali– dengan mengepalkan ketiga jari kanan– dirinya akan mengurut di daerah telapak kaki, Selanjutnya dari telapak kaki, jarinya akan bergerak ke daerah betis, paha, hingga tulang ekor.
Setelah mengurut, langkah berikutnya masih dengan ketiga jari, ia melakukan pemijatan di bagian kaki yang terasa kaku.
“Kekakuan yang terdapat di bagian ini sangatlah berbahaya. Langkah yang dikerjakannya adalah dengan mengurut dan memijat, dimulai dari tulang ekor hingga tulang leher. Gangguan kekakuan otot baik di kaki maupun di punggung biasanya karena peredaran darah tidak sempurna,” paparnya.
Untuk mengatasi otot punggung kaku, Uwen akan melemaskan sistem peredaran darah yang bekerja tidak sempurna dengan memutar-mutarkan jari dari atas ke bawah dilanjutkan ke sisi pinggir kiri dan kanan pinggang.
Katanya, pada saat melakukan pemijatan pada titik atau daerah yang bermasalah, ujung-ujung jarinya akan terasa panas. Demikian pula pasiennya akan merasakan kesakitan. Kegiatan memijat dilakukan Uwen selama 1 jam tanpa henti.
Salah seorang pasien Uwen yakni Panca (35) mengalami gangguan kaku otot dan urat terjepit di tulang belikat. Gangguan tersebut telah dirasakan selama setahun lebih.
“Bila membungkuk, rasanya sakit sekali. Uwen menyuruh saya tengkurap, lalu mengusapkan minyak dari mulai tulang ekor hingga leher. Selanjutnya jari-jemarinya melakukan gerakan memutar dan menekan-nekan.
Setelah sejam diterapi, saya bisa membungkukkan badan kembali tanpa rasa sakit. Hasil lainnya, saya dapat menengokkan kepala ke kiri dan ke kanan dengan sempurna,” tuturnya.
Untuk mengatasi gangguan keseleo atau terkilir, seperti yang sering dialami atlet sepakbola maupun atletik, Uwen hanya mengurut dan memijat dari pergelangan kaki hingga lutut. Gerakannya, dari bawah ke atas, selama satu jam.
Untuk gangguan keseleo atau terkilir, ia biasa membalurkan ramuan beras ketan hitam. “Saya tak pernah menggunakan beras kencur untuk keluhan keseleo atau terkilir, seperti yang dilakukan banyak orang. Beras kencur malah membuat pasien gatal dan panas. Sebagai gantinya, saya menggunakan beras ketan hitam yang sudah ditumbuk untuk membaluri bagian tubuh pasien yang sakit. Insya Allah, tiga hari kemudian, kondisi pasien akan membaik,” katanya.
Pada kasus pusing-pusing dan masuk angin, pijatan dilakukan di daerah tulang belikat. Bagi penderita angin duduk, Uwen tak melakukan pengurutan dan pemijatan, apalagi pengerikan.
Ia hanya menganjurkan pasien menelentangkan kakinya ke depan, duduk santai, sambil menarik napas pelan-pelan. Kemudian minum 1-4 sendok makan air teh manis hangat atau air putih hangat.
“Bagi Anda yang ingin berpergian jauh dan mengendarai mobil, jangan sekali-kali mengonsumsi kopi atau minuman energi. Kopi justru akan memacu detak jantung, Ia menganjurkan bekal 1 liter botol air mineral untuk diminum sepanjang perjalanan,” ujar Uwen memberi tips.
Anjuran lain ialah penggunaan sandal bergerigi atau sandal kesehatan yang berbenjolan-benjol. Sandal harus segera dilepas setelah menempuh jarak 5 km dan digunakan kembali setelah menempuh jarak 5 km berikutnya. Tujuannya, agar sirkulasi darah bekerja stabil.
Sebagai pengganti jasanya, pasien cukup membayar Rp. 50.000 sekali terapi. Uwen juga menerima jasa panggilan artinya mengurut dan memijat di rumah atau di kantor si pasien. (Tri Wahyuni)

Dikutip dari : http://www.suarakarya-online.com

Categories: pijat story (cerita) | 3 Comments

Mantan Mahasiswa ITB Jadi Pemijat Shiatsu

“MENJADI buta, bukanlah akhir dunia,” ujar Hikmat Firdaus (28), “mantan” mahasiswa ITB yang kini menjadi pemijat tunanetra spesialis pijat shiatsu. Lajang tampan lulusan Yayasan Wiyata Guna (YWG) Bandung itu mengaku, tak sedikit pun terbersit dalam benaknya menjadi pemijat.

HIKMAT Firdaus (28), sedang memijat ala “shiatsu” langganannya. Radang selaput otak yang menyerang saraf matanya hingga buta, membuat Hikmat berhenti kuliah dari Teknik Kimia ITB.*SATRYA/”PR”
Sebelumnya, Hikmat bisa menikmati indahnya dunia melalui kedua bola matanya. Namun, jalan hidup yang semula ia rencanakan, berubah total. Semuanya bermula di tahun 2000. Saat itu, Hikmat duduk di semester 6 jurusan Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (TK-ITB).

Saat akan memasuki semester 7, setiap mahasiswa yang sudah memenuhi seluruh SKS, mesti mengambil Kerja Praktik (KP). Biasanya KP dilakukan saat liburan panjang tiga bulan. Hikmat –oleh teman-temannya dipanggil Omeng– memilih perusahaan cat di Surabaya sebagai tempat KP. Ibunya semula melarang pergi jauh-jauh. Tapi, setelah Hikmat menjelaskan, ibunya merelakan ia pergi ke Surabaya.

Di tengah perjalanan dalam kereta api, tepatnya di Daerah Solo, tiba-tiba paru-paru Hikmat terasa sesak. “Anehnya, nggak ada rasa sakit sebelumnya,” tutur Hikmat mengenang. Tak sampai 5 menit, Hikmat muntah darah. Kondisi tubuh Hikmat kian drop.

Ia pun memilih pulang. Sampai di Bandung, ia dibawa ke rumah sakit. Dari diagnosis, Hikmat mengidap penyakit akibat virus. Dia menjalani operasi, dan sempat dinyatakan sembuh. Namun, sang virus lari menyerang otak. Hikmat divonis mengidap radang selaput otak. Penyakit itu menyerang saraf-saraf penting, salah satunya saraf mata. Akibatnya, kualitas pandangan mata Hikmat terus berkurang hingga batas minimal.

Selain itu, terjadi penyumbatan saluran cairan di otak. “Itu membikin kepala saya selalu pusing. Kalau pas kena serangan, sakitnya bukan main. Ngomong pun suka ngaco,” ucap alumni SMAN 4 Bandung itu. Solusi satu-satunya untuk mengeluarkan cairan tersebut, dengan “membuat” saluran dari otak yang disambung ke usus. “Selang” pun dipasang hingga saat ini.

**

SELAMA menderita sakit itu, Hikmat praktis tidak kuliah. Ia mengambil cuti setahun. Namun, karena tidak kunjung sembuh, Hikmat minta cuti satu tahun lagi. “Selama itu, banyak pengobatan alternatif di Pulau Jawa yang sudah saya coba agar bisa sembuh. Tapi, Alhamdulillah, hingga kini belum ada hasilnya. Tuhan masih menguji saya,” ujar Hikmat yang rajin minum jus wortel tiap hari itu.

Karena kelamaan cuti, Hikmat mulai terancam di drop out dari ITB. Pada bulan Oktober 2002, ia mengajukan keluar dari ITB. Sejak itu ia resmi menjadi “mantan” mahasiswa ITB.

Hari demi hari, Hikmat melewatinya banyak berdiam diri di rumah. Jika keluar rumah, hanya saat berobat. Rasa stres pun menghinggapi dirinya. Hingga akhirnya, di tahun 2003, muncul tekad kuat untuk melanjutkan hidup. “Saya bilang dalam hati, inilah saatnya saya berubah. Life goes on and the show must go on. Saya tidak boleh menyerah dengan keadaan,” ucapnya. Hikmat pun membuka lembaran baru dalam hidupnya. Ia memilih belajar di YWG. Hikmat belajar dari awal lagi, seperti membaca dan menulis huruf braille. Dengan cepat Hikmat menguasainya.

Hikmat lalu ikut seleksi kursus pijat shiatsu. “Sebenarnya, bisa juga daftar kuliah di beberapa universitas. Tapi, ngeliat teman-teman senasib yang susah cari kerja meskipun lulus kuliah, membuat saya milih kursus shiatsu,” tuturnya. Hikmat lulus akhir 2004 dengan nilai sangat baik. Ia praktik di YWG. Dari setiap pembayaran konsumen, pembagiannya 40%-60%.

Ia lalu membuka klinik pijat shiatsu di rumah orang tuanya di Jln. Artileri No. 32, Sangkuriang, Cimahi. “Baru buka tiga bulan lalu. Ruangannya mengambil bekas kamar ibu saya,” kata Omeng yang yatim sejak tahun 1997 itu.

Untuk modal, Hikmat merogoh tabungannya Rp 10 juta hasil praktik di YWG. Ia namakan klinik pijatnya dengan “Paradise” yang berasal dari namanya Firdaus. Di klinik itu, ia mengajak rekannya sesama alumni YWG, Aceng Mulyana asal Sukabumi. Dalam sebulan, rata-rata ada 80-90 konsumen yang datang. Untuk sekali pijat, tarifnya Rp 18.000,00.

Hikmat berharap melalui keahliannya itu, ia bisa mandiri.”Saya tidak mau terus menyusahkan orang tua. Sudah banyak biaya yang dikeluarkan orang tua saya selama ini. Dengan memijat, minimal saya bisa membiayai hidup saya sendiri, membantu orang tua atau untuk istri dan anak saya kelak,” tuturnya. (Satrya/”PR”)***

Dikutip dari : http://www.pikiran-rakyat.com

Categories: pijat story (cerita) | 5 Comments
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 66 other followers