Melirik Aktivitas Tukang Pijat Musiman di Masjid Al Markaz Al Islami

Memijat Demi Baju Lebaran

Laporan Dian Muhtadiah

Lebaran kerap identik dengan baju baru, termasuk para bocah yang jadi tukang pijat musiman. Demi baju baru, dengan sabar mereka tawarkan jasa ke para jemaah masjid. Dari waktu Lohor hingga jelang berbuka puasa. Tak ada yang mengkoordinir para tukang pijat yang rata-rata berusia belasan itu. Kehadiran mereka yang mewarnai masjid Al Markaz Al Islami, sudah berlangsung dua tahun terakhir.Umumnya, mereka bocah yang putus sekolah maupun dari kalangan keluarga tak mampu. Seperti Aldi, yang ibunya jualan sayur di Pasar Terong. “Uang pijat ini sebagian saya beri ke ibu, sisanya buat beli baju lebaran,” tutur bocah berkulit cokelat kehitaman itu.Tarif untuk pijat tersebut sebenarnya tidak menentu. Tergantung kesepakatan antara kedua belah pihak. Seperti Pandi, 10 th, yang memasang harga tergantung dari keikhlasan orang itu. “Saya seikhlasnya orang mau bayar berapa,” kata siswa SD Inpres Baraya II tersebut. Siapa yang mengajari mereka cara memijat? “Saya lihat kakakku, dia sudah duluan di sini sejak hari pertama puasa,” kata Pandi. Sementara Aldi, mengaku lebih banyak melihat cara teman-temannya. “Memijat itu gampang, kadang kalau kita salah-salah pijat, biasanya orang itu yang langsung kasih tahu,” terangnya.

Tak hanya bermodalkan balsem, ada juga yang pakai minyak gosok maupun minyak kayu putih. Seperti siang itu, salah satu perusahaan krim pijat terkenal menyambangi mereka. Membawa puluhan sampel produk, petugas tersebut membagikannya ke para bocah itu. Spontan, aksi mereka menyita perhatian jemaah.

Linda, salah satu petugas menceritakan jika perusahaannya memang sedang masa promosi. “Kebetulan kami tahu banyak tukang pijat di sini, sekalian kami promosi,” kata wanita berambut panjang itu.

Ulah para bocah yang jumlahnya sekira 30-an, boleh jadi bagi sebagian orang, cukup mengusik. Tingkah mereka kadang mengganggu kekhusyuan jemaah bertaqarrub. Dengan tumpahan minyak, lumeran balsem yang mengotori karpet maupun lantai, cukup memusingkan petugas masjid.

Tapi boleh jadi, kehadiran mereka juga dinantikan sebagian jemaah. Seperti Alimuddin, sehabis salat Lohor, memakai jasa pijat sembari merebahkan tubuhnya di lantai. “Saya sudah terbiasa dipijat, lagi pula anak-anak ini, cara pijatnya juga enak,” ungkap warga Perumnas Antang tersebut. Sementara Arfah, jemaah yang tinggal di Jl Pelanduk, mengaku hanya kasihan pada bocah tersebut. “Kalau dibilang pegel sih, tidak terlalu. Kasihan saja karena masih kecil sudah cari duit,” katanya.

Bagaimana pihak Al Markaz sendiri? Seperti Safaruddin, salah satu pengajar di Yayasan Al Markaz Al Islami, mengatakan pihak Al Markaz melarang mereka jika memijat di lantai dua, karena sangat mengganggu aktivitas ibadah. “Kasihan jemaah yang tidak suka bau minyak ataupun balsem,” ucapnya.

Usaha menghentikan aktivitas tukang pijat dadakan itu, sering dilakukan pihak Al Markaz. Misalnya dengan pengumuman kepada para jemaah agar tidak menggunakan jasa mereka di ruang ibadah. “Termasuk kami merazia balsem hampir setiap hari, tapi mereka tidak kapok-kapok juga,” papar Amiraja, salah satu security Al Markaz. *

Dikutip dari : Fajar.co.id (21 September 2007)

Advertisements
Categories: pijat story (cerita) | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: