Ngasri, Tukang Pijat Spesialis Langganan Para Pejabat di Demak

Minggu, 16 Sept 2007
 

Selalu Dampingi Mantan Wabup bila ke Luar Kota
Nasib seseorang memang sulit ditebak. Tak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah dan pernah menjadi pengayuh becak di Surabaya, Ngasri, 53, kini terbilang boleh berlega hati. Rezekinya sebagai juru pijat langganan para pejabat di Demak, cukup menghidupi diri dan keluarganya.
WAHIB PRIBADI, Demak

Sehari-hari, Ngasri masih mengayuh becak demi menghidupi keluarganya di Demak. Namun, ia memiliki kelebihan disbanding rekan-rekannya sesama pengayuh becak. Keahliannya memijat refleksi justru mengantarkannya dekat dengan para pejabat di Demak.

Ngasri mengakui, sejumlah pejabat yang pernah menggunakan jasanya adalah mantan Bupati Endang Setyaningdyah, mantan Wakil Bupati Nur Hamid Wijaya, Wakil Bupati Muhammad Asyiq, serta pejabat lainnya di dewan. Di antaranya mantan Wakil Ketua DPRD Suharmin, Ketua Komisi A Ali Masadi, dan anggota Komisi C Solikul Hadi Sidik.

“Biasanya saya diundang ke rumah mereka untuk memijat,” ungkapnya saat ditemui koran ini di rumahnya yang terletak di RT 01 RW 03, Desa Sidomulyo, Kecamatan Wonosalam, kemarin.

Pria kelahiran Bojonegoro, Jawa Timur, 12 Desember 1954 ini memang menetap di Sidomulyo bersama istrinya Kamisah, 46, dan kedua anaknya, Nurhayati, 20, dan Teguh Gatot Suseno, 17. Rumah sokopapat terbuat dari bahan kayu bengkirai berukuran sembilan kali tujuh meter persegi itu berdiri di hamparan pekarangan yang dikelilingi puluhan pohon jambu. Dengan begitu, suasana rumah Ngasri tampak sejuk dan rindang.

Letak rumahnya agak terpencil dari rumah warga lainnya. Namun, Ngasri dan keluarganya nampak menikmati hidupnya sehari-hari dengan bahagia. Sikapnya yang selalu pasrah dan bekerja keras telah membukakan pintu rezeki bagi keluarganya.

“Saya tidak menyangka dengan pemijatan yang saya pelajari tekniknya secara otodidak, ternyata diminta banyak orang,” ungkapnya menceritakan awal mula dirinya menekuni pekerjaan sampingan sebagai juru pijat.

Menurutnya, orang pertama yang ia pijat adalah Salamah, 50, warga Desa Mojo, Wonosalam. Ketika itu, yang bersangkutan mengalami pembengkakan di bagian tubuhnya. Setelah beberapa kali dipijat olehnya, keluahan bengkak itu berangsur-angsur sembuh dan kembali normal lagi.

“Setelah itu, banyak pasien yang meminta saya memijat. Sekarang setiap hari melayani 2 hingga 3 pemijatan,” katanya.

Kebanyakan warga yang meminta sentuhan tangan Ngasri mengeluhkan sakit pegal-pegal di bagian tubuh setelah seharian bekerja keras. Ada pula di antara mereka yang memiliki penyakit tertentu seperti jantung, paru-paru, sakit perut atau maag dan lainnya. Kondisi serupa juga dikeluhkan oleh sejumpah pejabat yang pernah ia tangani.

“Kalau pejabat kan banyak berpikir. Jadi, tidak hanya capek fisiknya, tapi juga pikirannya. Bahkan, ada dari dewan (DPRD) yang terkena stroke dan diabetes juga minta untuk ditangani,” katanya.

Rata-rata para pejabat tersebut meminta dipijat dua kali dalam sebulan. Ngasri menuturkan, pengalaman paling lama dalam hal pemijatan ini adalah memijat mantan Wabup Nur Hamid Wijaya. Bahkan, kini seakan menjadi keluarga sendiri.

“Setiap kali ada acara di luar daerah, saya kerap diajak untuk mendampingi beliau. Ya, kalau lagi kesal atau capek, saya kan langsung bisa memijatnya,” ungkap Ngasri yang mengaku setiap malam terbiasa tidak tidur alias begadang ini.

Dalam memijat, Ngasri mengaku tidak mematok tarif khusus untuk jasanya itu. Dengan kata lain, ia mengaku menunggu keikhlasan orang yang dipijat. Yang pasti, tips yang diberikan para pejabat yang menjadi langganan pijatnya tergolong lumayan.

Ngasri mengaku prinsip yang ia pegang selama memijat adalah niat menolong sesama tanpa pamrih. Dan rezeki itu sudah ada yang mengatur. Namun begitulah suratan takdir Ngasri di Demak.

Dalam riwayat hidupnya, Ngasri dilahirkan di Dukuh Bulu, Desa Beji Kecamatan Kasiman, Bojonegoro, Jawa Timur. Dia mengaku tidak sempat mengenyam pendidikan karena faktor ekonomi orangtuanya yang hanya berprofesi sebagai petani kecil.

“Karena tidak sekolah itulah, saya tidak dapat membaca hingga kini,” akunya.

Demi menyambung hidup, Ngasri pernah merantau ke Riau selama 2 tahun dan bekerja di kapal pursin milik nelayan setempat untuk mencari ikan di laut. Setelah itu, ia pindah ke Jakarta dan bekerja di sebuah pabrik pembuat roti serta pembuat tutup pasta gigi selama 5 tahun.

“Dulu, tiket perjalanan antara Cepu hingga Jakarta hanya Rp 1.500 sekali jalan,” terangnya.

Setelah lama di Jakarta, Ngasri kemudian melanjutkan perantauannya ke Semarang dan Surabaya . “Sebelum ke Surabaya, saya menikah dulu dengan istri saya di Demak,” tuturnya.

Di Surabaya, dia bekerja sebagai tukang becak selama beberapa tahun. Menurutnya, bekerja di kota metropolis Surabaya tidak banyak menjanjikan. Saat itu, ia banyak ngepos di rumah sakit Karangmenjangan. Setiap hari paling banter ia mendapatkan uang Rp 10 ribu. Karena itu, langsung habis untuk keperluan makan sehari-hari. Ngasri pun akhirnya bertekad balik ke rumah istrinya di Demak.

Ketiadaan biaya yang cukup membuatnya nekad untuk mengendarai becaknya dari Surabaya hingga Demak. Perjalanan pulang tersebut ia tempuh selama dua hari tiga malam. Menurutnya, meski sejumlah pejabat memanfaatkan jasa pijatannya, hal itu tidak membuatnya lantas berbangga hati.

“Saya hanya bersyukur dapat menolong sesama. Itu saja. Saya hanya orang kecil yang tak patut membanggakan diri,” katanya. (*)

Dikutip dari : Jawapos.co.id (27 September 2007)

Advertisements
Categories: pijat story (cerita) | Tags: | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Ngasri, Tukang Pijat Spesialis Langganan Para Pejabat di Demak

  1. sugiharto

    Yah kalo sempat mau nyoba…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: