Gangguan saraf kepala

Kaus oblong dan sarung, sisa kebiasaan semasa tinggal di pedesaan, agaknya masih melekat lama. Pada tahun 1980-an, Dewi Wilutomo, sahabat Mamiek (Siti Hutami Endang Adiningsih) semasa SMP dan SMA Sancta Ursula, jika menyambangi rumah temannya itu di Cendana, sering memergoki Soeharto di ruang dalam tengah membaca koran sore sambil minum teh. Tentunya bersarung dan berkaus oblong.

“Selamat sore, Om,” sapa Dewi. Laiknya bapak-bapak lain, Soeharto bereaksi lalu tersenyum ramah, bahkan menyilakan Dewi langsung menemui Mamiek.

Kaus oblong dan sarung, juga ditemui Nasori, di Cendana. Ayah dua anak asal Pekalongan ini hanyalah ‘tukang pijat’. Ia masuk Cendana sekitar tahun 1993, dikenalkan oleh mantan Kapolri Anton Sudjarwo, kepada almarhumah Ibu Tien.

Semula, ia sering memijat Ibu Tien, tiga minggu sekali. Pria 59 tahun yang aslinya paranormal ini, dijemput Paspampres berpakaian sipil ke rumah kontrakannya di Pademangan, Rajawali. Pernah, saat memenuhi panggilan Anton Sudjarwo, ia dijemput Provoost memakai jip. Para tetangga kaget, mengira Nasori ditangkap.

Setelah beberapa lama menangani ibu negara, atas saran Bu Tien, Soeharto pun tertarik minta dipijat, sebulan sekali.

Suatu hari, Nasori dipanggil khusus oleh Soeharto, yang waktu itu merasa kepalanya sakit. Sore itu, lelaki tegap berpenampilan sederhana itu memasuki Cendana, masuk ke ruang dalam. Soeharto sudah menunggu di kamarnya.

Ketika membuka pintu kamar, Soeharto tengah duduk di bibir tempat tidur berkaus oblong dan bersarung. “Monggo, Pak Ansori,” begitu Soeharto menyapanya. Sebentar kemudian ia melepas kaus dan sarung, tinggal celana pendek putih lalu berbaring tengkurap.

Untuk memperlicin gerak jari saat memijat, Nasori biasa menggunakan baby oil. Tapi Bu Tien biasa menyediakan minyak dari Arab, dalam kemasan kaleng, beraroma harum.

Setelah berdoa sejenak, Nasori melakukan pendeteksian pada telapak kaki dan betis, dengan pemijatan. Jika ada organ tubuh yang sakit, Soeharto mengaduh kesakitan, seperti juga pasien Nasori lainnya. Tapi sakit hilang setelah dinetralisasi dengan urut jari yang dilambari tenaga dalam.

Dari deteksi awal itu, Nasori melihat, Soeharto memiliki bakat penyakit rematik di sekujur tubuhnya. Yang agak berat, ada gangguan pada syaraf kepala.

Urut dan pijat dimulai dari telapak kaki, betis, naik ke paha, ke punggung, hingga kepala. Lalu terlentang, dada diurut, berikut bagian perut. Nasori merasakan, otot Soeharto tidak keras lagi, sudah agak kendor.

Untuk mencairkan suasana, seperti juga Bu Tien, Soeharto membuka obrolan. Hanya, dalam bahasa jawa ngoko, bukan kromo inggil. “Saya ditanya, asal dari mana. Pak Harto juga cerita, beliau dulu orang desa biasa. Bapaknya ulu-ulu, tukang mengalirkan air ke sawah masyarakat. Waktu bujangan, Pak Harto ikut mencangkul sawah,” cerita Nasori.

Ia melanjutkan, Pak Harto dulunya orang susah, “Katanya, ‘Demi Allah, saya dulu juga orang sengsara. Bertahun-tahun makan gaplek, ketiwul, dan ketela’. Tapi pada saya beliau tak pernah membicarakan politik atau situasi negara.”

Setelah dipijat selama sejam, “Pak Harto merasakan badannya enteng, sakit kepalanya hilang. Tapi saya kasih pantangan, jangan makan kangkung dan es.”

Setiap kali memijat istri orang, Nasori selalu meminta suaminya menemani di kamar. Ketika akan menggarap Bu Tien pun ia minta izin Soeharto, “Ndak apa-apa, Pak Ansori. Saya sudah beri izin. Bu Tien sudah ngomong kok. Sudah ngurut saja sana,” Nasori menirukan kata-kata Soeharto.

Selesai urut Soeharto, Nasori biasa diberi Rp 100.000,-. Itupun Bu Tien yang memberi. Kalau Bu Tien sendiri yang diurut, Nasori selalu diselipi uang Rp 500.000,-

Karena pasien istimewa ini bersikap sopan, tidak sombong, dan tidak memperlihatkan bahwa dirinya presiden, Nasori tidak membedakannya dengan pasien lain, “Kalau saya kasih urut dalam, Pak Harto pun melintir kesakitan, he he he ….”

Dikutip dari : http://www.intisari-online.com

Advertisements
Categories: pijat story (cerita) | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s