Undang Pengusaha Panti Pijat, Hilangkan Sindroma

Dalam HUT ke-7 yang digelar Dharma Wanita ITS, Kamis (14/12) kemarin, menghadirkan pengusaha dan pemilik panti pijat “Bersih Sehat” dari Jakarta, Ir Hariono, yang terkenal sukses. Di sini dibeberkan kiat berwirausaha dan menghilangkan sindromanya.
Graha, ITS Online – Berwirausaha merupakan salah satu cara membuka lapangan kerja bagi orang lain. Namun, tak semua orang mampu dan mau menjalaninya. Entah karena mereka takut atau karena tidak tahu resepnya. Begitulah yang dituturkan Ir Hariono, pengusaha panti pijat beken di Jakarta. ”Cara menjadi pengusaha itu yang pertama harus mempunyai pola pikir enterpreneur, sikap mental positif dan tidak takut gagal,” jelas Haryono dalam ceramahnya.

Terkadang, imbuh Hariono, yang menjadi sindroma bagi seseorang untuk mulai berwirausaha adalah harus punya modal dulu baru berbisnis. Selain itu, juga ada anggapan harus punya kantor, perusahaan dan lainnya. Tapi, menurut orang yang sukses dalam bisnis tempat pijet dan beberapa restoran di Jakarta itu, justru yang faktor tersebut bukanlah yang terpenting. “Sikap mental positif dalam berwirausaha itu adalah faktor paling dominan. Dan faktor lain seperti modal, kantor dan yang lain akan ikut dengan sendirinya atau artinya dapat dikendalikan,” paparnya.

Hariono mengaku terus terang tentang usaha yang dilakukannya dengan membuka panti pijat, karena pijat merupakan kesukannya. “Tapi ibu-ibu jangan curiga dulu dengan usaha saya ini, karena panti pijat yang saya miliki adalah panti pijat yang sesungguhnya, yang tanpa diembel-embeli dengan kegiatan prostitusi terselubung,” kata alumni dari Jurusan Teknik Sipil ITB ini.

Diungkapkan Hariono, kini usaha panti pijatnya telah memiliki lebih dari 27 cabang di Jakarta dan merupakan satu-satunya panti pijat yang memperoleh sertifikat ISO dan mempekerjakan lebih dari 500 orang. “Tentu usaha itu terus berkembang dan tidak hanya panti pijat, tapi juga rumah makan, salon, bimbingan belajar, dan juga kontraktor. Karena itu saya selalu bilang jangan takut untuk memulai berusaha, untuk menjadi enterpreuner dengan mempertimbangkan sesuatu yang memiliki unsur kebaruan atau keunikan,” tandasnya.

Dulu, kata Hariono, saat memulai usaha panti pijat, bukan tidak ada hambatan yang dihadapi, karena memang usaha itu selalu diidentikkan pada kegiatan prostitusi terselubung. ”Tapi saya melihat itu satu kelemahannya, dan saya membuat panti pijat dengan meniadakan kelemahan itu. Saya membuat panti pijat yang benar-benar bersih dan sehat, yang memang hanya orang ingin sehat sajalah yang akan datang ke panti pijat milik saya,” ujarnya sembari berpromosi.

Hariono juga memberikan motivasi, mulailah berusaha dengan skala yang kecil terlebih dahulu, dengan sesuatu yang mungkin tidak dimiliki orang lain. ”Hindari berusaha hanya dengan mencontek kesuksesan orang lain tanpa ada konsep yang matang dan jelas. Saat saya membuka panti pijat meski dicemooh, saya terus berjalan karena saya punya konsep yang matang dan jelas, bahwa panti pijat saya adalah benar-benar bersih,” saran Hariono yang kini onzet tempat pijatnya telah menghasilkan miliaran rupiah. (humas/m7/th@)

Dikutip dari : ww.its.ac.id

Categories: pijat story (cerita) | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s