Mantan Mahasiswa ITB Jadi Pemijat Shiatsu

“MENJADI buta, bukanlah akhir dunia,” ujar Hikmat Firdaus (28), “mantan” mahasiswa ITB yang kini menjadi pemijat tunanetra spesialis pijat shiatsu. Lajang tampan lulusan Yayasan Wiyata Guna (YWG) Bandung itu mengaku, tak sedikit pun terbersit dalam benaknya menjadi pemijat.

HIKMAT Firdaus (28), sedang memijat ala “shiatsu” langganannya. Radang selaput otak yang menyerang saraf matanya hingga buta, membuat Hikmat berhenti kuliah dari Teknik Kimia ITB.*SATRYA/”PR”
Sebelumnya, Hikmat bisa menikmati indahnya dunia melalui kedua bola matanya. Namun, jalan hidup yang semula ia rencanakan, berubah total. Semuanya bermula di tahun 2000. Saat itu, Hikmat duduk di semester 6 jurusan Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (TK-ITB).

Saat akan memasuki semester 7, setiap mahasiswa yang sudah memenuhi seluruh SKS, mesti mengambil Kerja Praktik (KP). Biasanya KP dilakukan saat liburan panjang tiga bulan. Hikmat –oleh teman-temannya dipanggil Omeng– memilih perusahaan cat di Surabaya sebagai tempat KP. Ibunya semula melarang pergi jauh-jauh. Tapi, setelah Hikmat menjelaskan, ibunya merelakan ia pergi ke Surabaya.

Di tengah perjalanan dalam kereta api, tepatnya di Daerah Solo, tiba-tiba paru-paru Hikmat terasa sesak. “Anehnya, nggak ada rasa sakit sebelumnya,” tutur Hikmat mengenang. Tak sampai 5 menit, Hikmat muntah darah. Kondisi tubuh Hikmat kian drop.

Ia pun memilih pulang. Sampai di Bandung, ia dibawa ke rumah sakit. Dari diagnosis, Hikmat mengidap penyakit akibat virus. Dia menjalani operasi, dan sempat dinyatakan sembuh. Namun, sang virus lari menyerang otak. Hikmat divonis mengidap radang selaput otak. Penyakit itu menyerang saraf-saraf penting, salah satunya saraf mata. Akibatnya, kualitas pandangan mata Hikmat terus berkurang hingga batas minimal.

Selain itu, terjadi penyumbatan saluran cairan di otak. “Itu membikin kepala saya selalu pusing. Kalau pas kena serangan, sakitnya bukan main. Ngomong pun suka ngaco,” ucap alumni SMAN 4 Bandung itu. Solusi satu-satunya untuk mengeluarkan cairan tersebut, dengan “membuat” saluran dari otak yang disambung ke usus. “Selang” pun dipasang hingga saat ini.

**

SELAMA menderita sakit itu, Hikmat praktis tidak kuliah. Ia mengambil cuti setahun. Namun, karena tidak kunjung sembuh, Hikmat minta cuti satu tahun lagi. “Selama itu, banyak pengobatan alternatif di Pulau Jawa yang sudah saya coba agar bisa sembuh. Tapi, Alhamdulillah, hingga kini belum ada hasilnya. Tuhan masih menguji saya,” ujar Hikmat yang rajin minum jus wortel tiap hari itu.

Karena kelamaan cuti, Hikmat mulai terancam di drop out dari ITB. Pada bulan Oktober 2002, ia mengajukan keluar dari ITB. Sejak itu ia resmi menjadi “mantan” mahasiswa ITB.

Hari demi hari, Hikmat melewatinya banyak berdiam diri di rumah. Jika keluar rumah, hanya saat berobat. Rasa stres pun menghinggapi dirinya. Hingga akhirnya, di tahun 2003, muncul tekad kuat untuk melanjutkan hidup. “Saya bilang dalam hati, inilah saatnya saya berubah. Life goes on and the show must go on. Saya tidak boleh menyerah dengan keadaan,” ucapnya. Hikmat pun membuka lembaran baru dalam hidupnya. Ia memilih belajar di YWG. Hikmat belajar dari awal lagi, seperti membaca dan menulis huruf braille. Dengan cepat Hikmat menguasainya.

Hikmat lalu ikut seleksi kursus pijat shiatsu. “Sebenarnya, bisa juga daftar kuliah di beberapa universitas. Tapi, ngeliat teman-teman senasib yang susah cari kerja meskipun lulus kuliah, membuat saya milih kursus shiatsu,” tuturnya. Hikmat lulus akhir 2004 dengan nilai sangat baik. Ia praktik di YWG. Dari setiap pembayaran konsumen, pembagiannya 40%-60%.

Ia lalu membuka klinik pijat shiatsu di rumah orang tuanya di Jln. Artileri No. 32, Sangkuriang, Cimahi. “Baru buka tiga bulan lalu. Ruangannya mengambil bekas kamar ibu saya,” kata Omeng yang yatim sejak tahun 1997 itu.

Untuk modal, Hikmat merogoh tabungannya Rp 10 juta hasil praktik di YWG. Ia namakan klinik pijatnya dengan “Paradise” yang berasal dari namanya Firdaus. Di klinik itu, ia mengajak rekannya sesama alumni YWG, Aceng Mulyana asal Sukabumi. Dalam sebulan, rata-rata ada 80-90 konsumen yang datang. Untuk sekali pijat, tarifnya Rp 18.000,00.

Hikmat berharap melalui keahliannya itu, ia bisa mandiri.”Saya tidak mau terus menyusahkan orang tua. Sudah banyak biaya yang dikeluarkan orang tua saya selama ini. Dengan memijat, minimal saya bisa membiayai hidup saya sendiri, membantu orang tua atau untuk istri dan anak saya kelak,” tuturnya. (Satrya/”PR”)***

Dikutip dari : http://www.pikiran-rakyat.com

Advertisements
Categories: pijat story (cerita) | 5 Comments

Post navigation

5 thoughts on “Mantan Mahasiswa ITB Jadi Pemijat Shiatsu

  1. muhammad rasyid

    saya juga sedang proses belajar pijak shiatsu, tetapi dengan hanya membaca buku dan praktek dikalangan keuarga sendiri

  2. muhammad rasyid

    saya meyakini hasil pijatan shiatsu, untuk diri saya sendiri, banyak keluhan penyakit yg saya rasa bisa sembuh dan berkurang dengan terapi shiatsu, tetapi saya masih belum berani untuk mempraktekan kelain orang selain keluarga,

  3. said

    Saya tinggal di Bandung, Saya tertarik untuk memiliki keahlian memijat shiatsu, dimanakah tempat belajar (les) pijat shiatsu ?? mohon informasinya, terima kasih.

  4. Acungan jempol untukmu Hikmat,sukses buatmu.
    Aku dpt merasakan apa yang kamu Tuhan punya rencana di balik semua itu.Percaya…!
    Salam hormat tuk keluarga.

  5. Maaf terpotong,
    Maksudku Aku dpt merasakan apa yg km rasakan.Tp biarlah Tuhan yg ijinkan semua itu terjadi,dan di balik semua itu ada Kado/rencana indah buatmu.Dari pd gelar setumpuk,tp hny tuk mndolimisesama umat.
    Kapan sempat,aku mampir.Ok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s