Terapi Pijat Batu, Alternatif Penyembuhan Stres

Di dunia ada puluhan bahkan mungkin ratusan teknik pengobatan atau terapi menghilangkan stres. Untuk pertama kali di Indonesia kini ada stone massage therapy atau terapi pijat dengan batu.

Di dunia ada puluhan bahkan mungkin ratusan teknik pengobatan atau terapi menghilangkan stres. Masing-masing memiliki kekhasan tersendiri. Ada yang menggunakan bau-bauan seperti pada aromatherapy, ada pula yang menggunakan warna, dan sebagainya. Untuk pertama kali di Indonesia kini ada stone massage therapy atau terapi pijat dengan batu.

Mungkin Anda akan bertanya-tanya apa guna batu untuk terapi anti stres. Batuan, terutama batu basalt vulkanik yang banyak terdapat di Indonesia, adalah penghantar elektromagnetik yang baik. “Jika dipanaskan dan ditempelkan ke tubuh sensasi kehangatan yang disampaikan bisa berfungsi untuk relaksasi dan merangsang peredaran darah dalam tubuh,” ujar Spa Manajer di Bimasena Spa Hotel Dharmawangsa.

Teknik terapi ini mulai dikembangkan di Meksiko dan Amerika. “Tapi soal asalnya mungkin sangat sulit ditelusuri. Kalau tak salah, di Yunani pun terapi ini sudah cukup dikenal.”

Tak sulit mengenali batu basalt ini. Mungkin hampir di tiap jengkal tanah di Indonesia kita bisa menemukan. Batuan basalt cirinya memiliki permukaan yang halus, dan jaringannya lebih kuat, sehingga tak mudah hancur jika digenggam.

Warnanya bermacam-macam ada yang hitam, merah, hijau dan kekuningan. Selain yang berwarna hitam, biasanya batu basalt berbentuk gepeng. Ukurannya pun beragam.

Biasanya semakin besar batu yang digunakan semakin kecil tenaga yang mesti digunakan terapis. Tapi biasanya yang digunakan untuk terapi ini maksimal seukuran setengah genggaman tangan saja.

Di Bimasena Spa batuan basalt yang digunakan berasal dari Flores. “Memang sangat mudah menemukan batuan jenis ini di Indonesia. Bahkan di Amerika pun batuan yang digunakan ternyata hasil impor dari Flores juga,” kata Utami.

Keseluruhan proses stone massage therapy diawali dengan feet compress (pengompresan telapak kaki) dengan air hangat yang dicampur dengan minyak essensial. Dengan menggunakan handuk, terapis akan memijit dengan ringan telapak kaki Anda.

Feet compress ini akan berlangsung selama 5 menit dan berfungsi untuk relaksasi. “Kami menggunakan essensial oil Lavender, karena terbukti Lavender yang terserap ke tubuh maupun aromanya berfungsi sangat baik untuk relaksasi,” kata Utami.

Setelah feet massage selesai, ada tahapan pijat pemanasaan. Tujuannya masih sama yaitu relaksasi agar tubuh tak kaget saat tahap pijat batu dimulai. Untuk tahap relaksasi ini digunakan teknik Swedish Massage yang ringan tanpa tekanan atau cubitan seperti umumnya pijatan.

Sepintas gerakannya seperti menggoyang-goyangkan tubuh saja dari betis ke arah punggung. “Orang mungkin akan bertanya ‘kok seperti dininabobokan saja’. Tapi memang teknik inilah yang cocok untuk keseluruhan stone massage therapy. Ringan tapi bertujuan melancarkan peredaran darah,” tutur Utami.

Sambil melakukan pemijatan relaksasi dan pemanasan. Batu yang akan digunakan kemudian mulai dipanaskan. “Di Amerika mereka menggunakan oven untuk memanaskannya. Karena mereka biasanya memang lebih senang jika suhunya lebih panas. Bahkan ada yang mencapai maksimal 125 derajat Fahrenheit,” kata Utami. Oleh karena itu terapi ini di Amerika lebih dikenal sebagai Hot Stone Therapy.

Tapi di Spa Bimasena, pemanas yang digunakan adalah heater. “Karena orang Indonesia umumnya menginginkan yang hangat saja sekitar 120 derajat Fahrenheit. Kecuali untuk mereka yang ekspatriat mereka tetap lebih menyukai suhu yang lebih panas,” kata Utami.

Batu yang telah dihangatkan itu lalu diletakkan di sepanjang ruas tulang punggung hingga tengkuk, setelah dibaluri terlebih dahulu dengan minyak Lavender. “Sensasi yang muncul saat batu hangat ini diletakkan di tulang punggung sangat berbeda. Karena setelah dihangatkan, batuan ini akan mengalirkan elektromagnetik ke tubuh. Maka bagi mereka yang mengalami sakit punggung terapi ini sangat menarik dan mengurangi rasa nyeri yang sering timbul,” tutur Utami.

Selain mereka yang mengalami nyeri punggung, terapi ini juga baik dicoba bagi mereka yang pernah mengalami cedera otot, pernah operasi syaraf yang terjepit, nyeri leher atau untuk mencegah rematik. Caranya dengan menekan batu dengan tekanan tertentu di area yang cedera.

Batu yang diletakkan di punggung ini dibiarkan hingga hangatnya menghilang paling tidak selama 10 menit. Di saat yang sama batu-batu lain berbentuk gepeng juga diletakkan di telapak tangan dan dijepitkan di antara jemari kaki. “Pada dasarnya batu-batu ini kami letakkan di titik-titik cakra tubuh, sehingga lebih efektif mengalirkan elektromagnetik,” jelas Utami lagi.

Saat batuan di punggung mulai berkurang hangatnya, terapis akan mulai melakukan stone massage therapy yang sebenarnya. Dengan gabungan antara regular, swedish dan accupresure massage.

Gerakan yang dilakukan juga beragam mulai dari effleurage (gerakan panjang dua arah, ke atas-bawah, kiri dan kanan) hingga friction (gerakan menggeser). Gerakan pijat ini akan berlangsung dari arah tengkuk, ke punggung terus ke paha dan kaki. Lalu dilanjutkan dengan bagian tangan.

Saat melakukan pijat batu di bagian tangan dan kaki terapis biasanya akan meletakkan satu batu di telapak tangan dan kaki sementara batu yang lain berfungsi untuk melakukan gerakan lain. “Ini penting agar tubuh tidak kehilangan kehangatan dan elektromagnetik dari kedua batu tersebut.”

Setelah selesai di bagian punggung maka dilanjutkan dengan pemijatan tubuh di bagian muka. Di bagian ini pemijatan tak terlalu banyak ditekankan. Hanya bagian bahu, tangan dan kaki saja yang dipijat.

Uniknya selama pemijatan tubuh bagian muka ini dilakukan, terapis akan menempelkan batu yang gepeng di dahi Anda. “Secara psikologis saja kalau ada beban di kening, beban itu akan memecah rasa tegang, seperti saat kita sedang pening.”

Dengan berakhirnya sesi pemijatan tubuh bagian muka maka selesai pula keseluruhan terapi yang berlangsung selama satu jam ini dengan biaya Rp 150 ribu ini. Biasanya terapi akan mengakhiri sesi ini dengan mengajak klien menarik nafas panjang beberapa kali, membantu melakukan stretching (perenggangan) dan diakhiri dengan memberikan handuk untuk melap wajah. “Semua ini penting kami lakukan, karena sifat terapi ini yang membuat rileks biasanya akan berefek dari perasaan mengantuk,” kata Utami. Untuk itu terapi ini juga akan diselesaikan dengan memberikan ramuan balancing tea.

Meskipun bernama tea tapi pada dasarnya minuman ini sama sekali tak menggunakan daun teh atau ramuan teh umumnya. Minuman penghangat atau jamu ini diinspirasikan dari budaya India. Ramuan tersebut terdiri atas jinten, jahe, kayu manis, pepermint, ketumbar, adas ditambah madu jika disukai. (utami)

Dikutip dari : http://www.tempo.co.id/kliniknet/

Advertisements
Categories: Pijat Altenatif | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: