Anak Sendiri Tidak Tahu Liem Swie King Juara All England

KISAH
Liem Swie King

SETELAH 14 tahun menghilang dari jangkauan pers, sejak mengundurkan diri sebagai pemain nasional, Liem Swie King tetap sosok yang rendah hati dan ramah. Saat ditemui di kantornya di Kompleks Perkantoran Grand Wijaya Centre Jakarta Selatan pertengahan April 2002, King sendiri yang keluar dari kamar kerjanya untuk menyambut.

Meski itu adalah awal perjumpaan, King di usianya yang ke-46 tahun jauh lebih gemuk bila dibanding foto-fotonya yang banyak dimuat di koran-koran kurun 1970-an dan 1980-an, langsung menyapa ramah. Bukan sekadar basa-basi, dia menanyakan dengan sungguh-sungguh kabar rekan wartawan yang dulu biasa bergaul dengannya.

“Apa kabar Valens Doy? TD Asmadi? Mereka masih kerja di Kompas?,” tanya King. Selain ramah penampilannya juga tetap sederhana. Meski usahanya di perhotelan dan pijat kesehatan mempekerjakan lebih dari 400 karyawan, King tetap saja berkantor dengan kemeja tanpa dasi dan bersandal kulit.

Liem Swie King dulu selalu menjadi buah bibir sejak dia mampu menantang Rudy Hartono di final All England tahun 1976 dalam usianya yang ke-20. Kemudian King menjadi pewaris kejayaan Rudy di kejuaraan paling bergengsi saat itu dengan tiga kali menjadi juara ditambah empat kali menjadi finalis. Bila ditambah dengan turnamen “grand prix” yang lain, gelar kemenangan King menjadi puluhan kali. King juga menyumbang medali emas Asian Games di Bangkok 1978, dan enam kali membela tim Piala Thomas. Tiga di antaranya Indonesia menjadi juara.

Kejayaannya sebagai jawara bulu tangkis dunia di masa lalu tidak tergambar di ruang kerjanya, tidak seperti kebanyakan mantan menteri atau pejabat yang suka mengumbar foto-foto semasa mereka berkuasa. Di ruangan luas yang ditata tanpa banyak perabot itu, tidak satu pun pemanis berupa tropi, medali, atau foto-foto yang memuat dia beraksi di lapangan bulu tangkis.

Ketika hal itu ditanyakan, King berkelit kalau ruangannya itu baru selesai direnovasi. Sesudah terus dipancing, King akhirnya mengakui, dia tidak pernah memajang bukti-bukti prestasinya. Semua foto dan medali masuk dalam lemari untuk disimpan rapi. Hanya beberapa tropi saja yang ditaruh di atas meja di rumahnya. Itu pun karena ukurannya tidak muat dalam lemari.

Tidak mau jadi sombong? “Enggak jugalah. Enggak, … biasa saja. Mungkin sudah kebiasaan dari dulu saja, mungkin sudah kebiasaan,” kata King tersenyum. King ternyata bukanlah seorang yang suka membicarakan tentang keakuannya. Itu terbukti karena dua dari tiga anak King baru tahu ayahnya merupakan pahlawan olahraga Indonesia ketika mereka telah beranjak remaja. Bahkan, bisa jadi si bungsu Michele King yang masih kecil dan kelas satu sekolah dasar belum paham ayahnya seorang juara kelas dunia.

Dua anak King yang lain adalah Alexander King yang kini berusia 19 tahun dan telah kuliah bidang ekonomi di AS dan Stevani King kini siswi kelas satu sekolah menengah umum. Alexander dan Stevani sempat tercengang begitu pertama kali tahu ayahnya juara bulu tangkis kelas dunia saat menginjak usia belasan tahun.

Ceritanya, ketika mereka pelesiran bersama King, banyak orang menyapa dan menyalami King. Menjawab keheranan anak-anaknya, King hanya bilang mereka adalah teman-temannya. “Kalau benar teman-teman Papi, kok Papi tidak tahu namanya?,” cecar Alexander dan Stevani.

Akhirnya King terpaksa bercerita kalau mereka mengenalnya sebagai pemain bulu tangkis. Memperoleh jawaban seperti itu, Alexander dan Stevani justru semakin tidak percaya. “Lho, memang Papi bisa main bulu tangkis?,” celoteh mereka.

***

MULAI bermain bulu tangkis sejak kecil atas dorongan orangtuanya di kota kelahiran Kudus. King yang lahir 28 Februari 1956 akhirnya masuk ke dalam klub Djarum Kudus yang banyak melahirkan para pemain nasional.

Usai menang di pekan olahraga nasional saat berusia 17 tahun, akhir 1973, King direkrut masuk pelatnas yang bermarkas di Hall C Senayan. Selama 15 tahun berkiprah, King merasa telah cukup dan mengundurkan diri di tahun 1988.

Setahun setelah itu dapat dikatakan King menganggur dan belum tahu akan bekerja apa karena bagaimanapun keahlian dan pengetahuan yang dia miliki hanyalah olahraga bulu tangkis. Perlahan King mulai ikut mengelola sebuah hotel di Jalan Melawai Jakarta Selatan milik mertuanya.

Dia pun mulai melebarkan sayap dengan membuka usaha griya pijat kesehatan. Segalanya tidak dimulai dengan mudah. Beberapa kali dia ditipu dan uang jutaan rupiah lenyap begitu saja. Tidak kapok? “Selama saya belum menyerah artinya saya belum kalah,” kata King.

Agak aneh rasanya seorang juara yang biasa menjadi pujaan dan selalu dilayani kini bergerak di industri jasa yang harus melayani orang. Sebagai pemain bulu tangkis yang melanglang buana, King terpaut hatinya dengan keindahan penataan hotel dan keramahan para pekerjanya. Demikian juga soal griya pijat. Saat menjadi atlet, King begitu membutuhkan terapi pijat setelah lelah berlatih dan bertanding.

Sebuah griya pijat kesehatan di kawasan Mayestik Jakarta Selatan saat itu kerap dikunjunginya. “Di tempat itu, penataan ruangan begitu bagus. Saat masuk saja saya sudah merasa nyaman dan rasa lelah terobati,” katanya.

King melihat peluang bahwa kalangan eksekutif dan pengusaha Jakarta yang gila kerja butuh kesegaran fisik dan relaksasi. Itulah yang membuat dia membuka usaha griya pijat kesehatan Sari Mustika. Kini, dia telah membukanya di tiga lokasi, Grand Wijaya Centre, Jalan Fatmawati Jakarta Selatan, dan Kelapa Gading Jakarta Utara dengan total karyawan sekitar 200 orang.

Kini banyak ekspatriat menjadi pelanggan griyanya selain usahawan dan eksekutif lokal, serta keluarga-keluarga menengah atas Jakarta. King juga puas karena dia bisa membuktikan griya pijat tidak selalu berkonotasi jelek seperti yang dibayangkan kebanyakan orang. Sang juara pun tidak sungkan-sungkan menyambut sendiri tamu hotel atau griya pijatnya. (YNS)

Sumber : kompas.com

Categories: pijat wirausaha | 9 Comments

Post navigation

9 thoughts on “Anak Sendiri Tidak Tahu Liem Swie King Juara All England

  1. rebi

    suka banget pemain susi susanti bulutangkis yang hebat

  2. bbwiyono

    TAK TERLUKISKAN PADA MASA JAYAMU AKU BEGITU MENGAGUMIMU KING, TAPI KENAPA SEMUA PRESTASI YANG TELAH KAMI TOREHKAN KEPADA MERAH PUTIH TANPA ADA SEBUAH TANDA JASA, NAMUN SEMUA SEMATA KARENA KETULUSAN DAN KERENDAHAN HATIMU, SEMOGA SUKSES DALAM MENUJU KEHIDUPAN BERSAMA KELUARGA

  3. Semoga kita menjadi juara dunia bulutangkis lagi yah….Piala Thomas dan Uber….Sukses.

  4. melly

    king at my heart…hahhahaha..i’m ur fans…always..bravo king

  5. Falcon

    Bener2 hebat Liem Swie King,
    Raja Bulutangkis Indonesia dan Dunia

  6. Misbah

    King memang luar biasa dalam bermain bulu tangkis, semua orang tahu itu. Tapi lebih luar biasa lagi anak sendiri tidak tahu akan hal itu.. Kalo saya boleh sarankan coba liem swie king jadi ketua PBSI . Biar bulu tangkis diurus sama orang yg tepat.

  7. sedih bacanya
    hampir aja netes air mata

  8. ridho di lampung

    king emang tetap king

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: