30 September 2004

Soelastri Soekirno

Sarana dan arena pijat refleksi kini makin beraneka ragam dan dapat ditemukan di banyak tempat. Pijat khusus yang dulu banyak dijumpai di kampung atau kawasan Pecinan kini sudah menyebar hingga ke pusat niaga di seantero Jakarta dan sekitarnya seperti Serpong, Karawaci, Kota Tangerang, dan Bekasi. Salon kecantikan juga ikut menyediakan layanan pijat refleksi.

Peralatan pijat yang mereka gunakan beragam, ada yang hanya dengan tangan, alat dari kayu, sampai peralatan elektronik.

Para terapis (pemijat) pun tak lagi terbatas pada para sinse (ahli pengobatan dari China), melainkan sudah menyebar ke pemijat tradisional dan pemuda-pemudi yang dididik menjadi terapis pijat refleksi.

Maraknya tempat pijat refleksi yang diikuti dengan animo masyarakat pada zaman ekonomi sulit seperti sekarang tentu berdampak positif pada penyerapan tenaga kerja.

Jika satu tempat pijat rata-rata mempekerjakan tiga orang, maka 100 usaha rumah pijat refleksi setidaknya telah membuat 300 orang rata-rata lulusan sekolah menengah atas dan sederajat dapat bekerja di sektor ini. Pendapatan mereka dari Rp 650.000 (untuk penunggu alat pijat elektronik) hingga sekitar Rp 2 juta per bulan (terapis termasuk gaji dan tip dari klien).

Padahal, rumah-rumah pijat yang dikelola secara profesional seperti Nano Healthy Family di Jalan Pluit Selatan Raya, Jakarta Utara, mempekerjakan sekitar 100 terapis. Belum lagi, rumah pijat lain yang sudah lebih lama beroperasi, misalnya Oriental yang memiliki banyak cabang.

Tak salah jika usaha di bidang pijat ini makin banyak diminati para pemilik modal besar.

Berkembangnya tempat pijat refleksi tak lepas dari kebutuhan warga kota. Sudah menjadi rahasia umum, kehidupan di Ibu Kota dan sekitarnya penuh dengan masalah yang mengakibatkan stres sehingga hidup terasa kurang nyaman.

Kemacetan lalu lintas yang setiap hari dihadapi warga kota sungguh membosankan dan membuat mereka jengkel. Belum lagi persoalan kehidupan sehari-hari. Keadaan tersebut diikuti minimnya kebiasaan berolahraga secara teratur, maka lengkaplah penderitaan sebagian warga Jakarta dan sekitarnya.

Ke mana mereka bisa sejenak melepaskan stres dan gangguan pada bagian tubuhnya secara mudah? Jawabnya adalah ke tempat pijat refleksi, baik yang mempekerjakan terapis maupun yang sekadar menyediakan alat pijat elektronik. Di tempat-tempat itulah mereka mengendurkan urat, atau bahasa yang lazim dipakai para terapis, melancarkan peredaran darah.

“Badan saya sering terasa pegal. Iseng-iseng saya mencoba pijat badan dan kaki dengan alat ini. Lho hasilnya badan terasa enteng,” urai Yono, pekerja sebuah perusahaan di Muara Karang, Jakarta Utara, saat sedang pijat dengan kursi pijat badan dan kaki elektronik di ITC Roxy, Jakarta Pusat, awal pekan lalu.

Sekitar 15 menit kemudian pemijatan pun berakhir. “Wah, segar rasanya,” kata lelaki asal Wonogiri itu sembari mengulurkan uang Rp 10.000 kepada Nova, perempuan penjaga alat pijat elektronik tersebut. Pimpinan Nova menyewakan alat pijat untuk badan dan kaki masing-masing Rp 5.000 per 15 menit.

Di lantai berbeda, Endy, pemijat, tengah menunggu seorang temannya yang memijat pelanggan dengan tangan. “Pelanggan kami rata-rata orang toko. Per jam ongkosnya Rp 20.000,” kata terapis sebuah tempat pijat refleksi di ITC Roxy itu.

Kebutuhan warga kota akan alat dan sarana memperlancar peredaran darah secara alami inilah yang kemudian ditangkap para pemodal.

Pemilik Nano Healthy Family yang menjadi agen sebuah alat kesehatan asal China semula tak terpikir untuk membuka tempat pijat refleksi.

“Tempat pijat ini dibuka setahun lalu untuk menarik orang datang ke sini dengan harapan mengenal dan kemudian membeli alat kesehatan yang kami datangkan dari China tersebut,” kata Manajer Nano Healthy Family Suhardi Anggawidjaja, Rabu (27/9).

Tak disangka, tempat pijat yang didesain khusus dengan fasilitas wah bak di kabin pesawat kelas bisnis ini malah disukai pengunjung. Apalagi, tarif yang dipasang terjangkau oleh semua kalangan.

Bayangkan Anda bisa menikmati pijatan di kaki, badan, dan tangan selama 90 menit hanya dengan Rp 25.000 (pukul 10.00- pukul 13.00) atau Rp 40.000 (pukul 13.00 ke atas).

Selama dipijat, Anda bisa berbaring dengan nyaman di kursi empuk nan lebar sembari menikmati siaran televisi atau film dari layar televisi khusus untuk Anda.

Suhardi mengaku pihaknya belum menjadikan lahan pijat refleksi sebagai bisnis murni. “Dengan tarif murah seperti itu kami hanya untung sedikit,” ujarnya sambil tertawa.

Menanggapi keadaan itu, Ketua Asosiasi Praktisi Pijat Pengobatan Indonesia Baron Suwarta menyambut gembira. Namun, ia mengingatkan para terapis perlu memenuhi standar kompetensi pijat refleksi agar jangan malah membuat klien parah penyakitnya setelah dipijat.

“Kami sudah menyiapkan standar kompetensi itu dan segera menyosialisasikan kepada para terapis,” kata Baron.

Secara terpisah, Kepala Subdirektorat Bina Upaya Tradisional Departemen Kesehatan Dunanti Sianipar mengingatkan masyarakat agar berhati-hati melakukan pijat refleksi.

Kepada pengelola pijat refleksi, ia meminta izin operasinya dilengkapi. Alat pijatnya pun harus didaftarkan di Departemen Kesehatan. Diharapkan, alat-alat itu benar-benar menyehatkan.

Sumber : kompas.com

About these ads