Kenali Sinyal Jantung Koroner

EVY RACHMAWATI

Ibarat tamu tak diundang, serangan jantung dapat terjadi tiba-tiba tanpa maupun dengan keluhan klinis. Seseorang yang sehat dan bugar pun tidak selalu dapat mengelak dari serangan jantung. Oleh karena itu, kenali berbagai faktor risiko dan gejala klinis yang menjadi sinyal adanya gangguan jantung.

Isludiro (50), warga Jalan Pramuka Raya Ashari, Kecamatan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, mengaku penyakit jantung koroner yang dideritanya diawali rasa nyeri pada bagian dada saat shalat Jumat, Maret 2005. ”Mendadak dada saya nyeri sampai susah napas. Saya segera ke rumah sakit dan didiagnosa ada kelainan detak jantung karena hipertensi,” tuturnya.

Rasa nyeri kambuh pada malam harinya. Akhirnya ia menjalani kateterisasi sepuluh bulan lalu. Namun, karena tidak menjaga pola makan seperti menjauhi makanan berlemak, pembuluh arterinya kembali menyempit sehingga terpaksa dikateterisasi ulang. Kini ada lima ring terpasang di situ.

”Saya masih rajin memeriksakan kesehatan. Tetapi, saya tidak mengontrol makanan, hanya mengonsumsi obat antihipertensi dan berhenti makan obat untuk jantung,” kata bapak dua anak ini.

Oleh karena itu, ia berencana menjaga pola makan yang sehat, mengendalikan faktor risiko hipertensi, dan membatasi aktivitas fisik yang berat.

Hal serupa diderita Ny Yulidar Djusman (53), warga Rempoa Bintaro, Jakarta Selatan. Sejak lebih dari 15 tahun lalu ia menderita tekanan darah tinggi. Lambat laun ia merasa pegal pada bagian rahang kemudian merembet ke bagian tubuh lain seperti dada, punggung, dan tangan kiri. ”Rahang terasa kaku dan badan pegal-pegal. Waktu itu saya hanya berobat ke dokter spesialis dalam,” tuturnya.

Belakangan, ia didiagnosa terkena gejala awal penyakit jantung koroner. Namun, kesibukannya menjalankan usaha transportasi umum membuat ibu tiga anak ini kurang memedulikan gejala yang muncul. Pola makan pun tidak dijaga baik. ”Kalau sejak awal memperhatikan gangguan ini, mungkin tidak parah seperti sekarang,” ujarnya.

Jika penyakit jantung koroner yang dideritanya kambuh, ia mengaku tidak kuat dan merasa nyeri begitu beraktivitas fisik— yang ringan sekalipun seperti berjalan kaki lebih dari 10 meter atau mandi dengan menggunakan gayung. ”Rasa nyeri langsung terasa kalau emosi naik seperti nonton film yang menegangkan atau bermimpi hal-hal seram,” kata Ny Yulidar.

Karena kondisi kesehatannya kian parah, aktivitas sehari-hari jadi terhambat. Ia memutuskan untuk menjual semua angkutan umum miliknya dan memilih jadi ibu rumah tangga. ”Kalau rasa nyerinya kambuh, saya langsung istirahat. Waktu mengemudi mobil sendirian, saat rasa nyeri kambuh, saya langsung meminggirkan mobil. Mengemudi di jalan memang cepat memancing emosi,” ujarnya.

Setelah diperiksa ternyata terjadi enam penyumbatan pada pembuluh arterinya. Ia pun harus menjalani operasi pintas koroner. Dengan menggunakan uang pesangon suaminya yang baru pensiun dari perusahaan perminyakan milik negara, ia dioperasi di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita pekan lalu. ”Sehat itu ternyata mahal,” ungkapnya.

Ia berharap ada kebijakan dari pemerintah untuk memberikan kartu khusus bagi penderita jantung seperti dia. ”Dalam tubuh saya kini ada logamnya sehingga akan berbunyi saat diperiksa. Ini bisa menimbulkan kecurigaan petugas di bandara. Padahal saya kadang menengok anak-anak di luar negeri,” kata Ny Yulidar.

Kendalikan risiko

Penyakit jantung merupakan gangguan kesehatan yang mematikan. Jenis gangguan jantung yang sedang populer saat ini adalah penyakit jantung koroner (PJK). PJK adalah suatu kelainan yang disebabkan penyempitan pembuluh arteri yang mengalirkan darah ke otot jantung. Ini karena timbunan lemak dan pengapuran dinding pembuluh darah.

Penyempitan itu mengakibatkan ketidakseimbangan antara kebutuhan dan pasokan darah ke otot jantung sehingga menimbulkan sejumlah gejala seperti rasa nyeri atau tidak nyaman di dada. Menurut dr Achmad Fauzi Yahya SpJP dalam bukunya Sebelum Jantung Anda Berhenti Berdetak, serangan jantung akan muncul jika pembuluh darah koroner tersumbat.

”Penyakit jantung koroner ini prosesnya panjang,” kata dr Manoefris Kasim SpJP (K) SpKN dari Rumah Sakit Jantung Harapan Kita. Proses ateroklerosis (mengeras dan menyempitnya pembuluh darah koroner karena endapan kalsium dan timbunan lemak) mulai pada masa anak- anak seiring meningkatnya tingkat konsumsi makanan siap saji (junk food), dan berkembang dengan tingkat bervariasi pada tiap orang sesuai hadirnya faktor risiko.

Ada sejumlah faktor risiko yang dapat dikurangi, diperbaiki, atau dimodifikasi untuk mencegah terjadinya PJK atau serangan jantung, yaitu kelebihan kolesterol, kencing manis (diabetes melitus), tekanan darah tinggi (hipertensi), merokok, ketegangan atau stres, kegemukan (obesitas), dan kurang aktivitas fisik. ”Agar tetap sehat, jaga pola makan dan rajin berolahraga,” tutur Manoefris.

Sayangnya, penderita kerap kali tidak menyadari hal itu selama bertahun-tahun sampai terjadi komplikasi yang berbahaya, seperti stroke, serangan jantung, atau gagal ginjal. Faktor keturunan juga berperan penting dalam menentukan risiko alamiah dari PJK. Karena itu, perlu ada pengendalian faktor- faktor risiko.

Kelainan irama

Orang yang memiliki lebih dari satu faktor risiko terkena PJK harus mewaspadai serangan jantung sejak dini. ”Gejala awal penyakit jantung koroner di antaranya sesak napas, rasa nyeri di dada saat beraktivitas fisik seperti jalan kaki, naik tangga, berlari, atau mandi dengan gayung,” tutur Manoefris.

Kelainan irama jantung, yakni terjadinya peningkatan frekuensi detak jantung, juga merupakan salah satu gejala PJK. ”Selain nyeri pada dada, penderita mengalami rasa pegal pada rahang, bahu, punggung, lengan dan leher. Sebagian penderita juga menderita rasa nyeri pada ulu hati sehingga kerap kali mengira sakit mag,” kata Manoefris.

Sayangnya, mayoritas penderita PJK justru tidak mengalami gejala klinis PJK. Padahal, hal itu merupakan sinyal awal munculnya penyakit itu sehingga bisa ditangani sejak dini. ”Ini karena ada perbedaan kepekaan tubuh terhadap sensor nyerinya. Tanpa pemeriksaan medis (check up), sulit diketahui seseorang menderita PJK,” tuturnya.

Orang dengan lebih dari satu faktor risiko terserang jantung koroner disarankan mengikuti tes jalan kaki dengan menggunakan alat (treadmill test) sebagai prosedur untuk menentukan berapa angka nadi yang aman dalam melakukan latihan fisik. Tes ini juga dapat mengetahui adanya kelainan irama jantung pada seseorang. ”Tes ini tingkat kepekaannya 52-70 persen,” kata Manoefris.

Deteksi dini penyakit ini juga dapat dilakukan lewat pemindaian (scanning) nuklir dengan tingkat akurasi mencapai 90 persen. Melalui alat yang menggunakan bahan radioaktif itu, diperoleh rekaman gambar adanya penyempitan atau penghambatan pembuluh darah koroner yang mengalirkan darah ke otot jantung.

Untuk memperoleh gambaran yang lebih terperinci lagi, penderita juga bisa diperiksa dengan ct-scan multislice dengan tingkat kepekaan hingga 90 persen. Dengan alat ini, bisa dilihat derajat pengapuran pada pembuluh darah dan penyempitannya.

Dalam perkembangannya, penyumbatan pembuluh darah ini dapat diatasi tanpa operasi. Saat ini penanganan dilakukan dengan penggunaan balon untuk membuka pembuluh darah yang tersumbat plak (PTCA). Balon dikembangkan dan digunakan untuk menyingkirkan plak sehingga jantung kembali memperoleh pasokan darah secara normal. Namun, tindakan ini masih berisiko terjadinya penyempitan kembali (restenosis).

Agar pembuluh darah tetap terbuka (tidak tersumbat plak), pada pembuluh darah yang sudah dibuka dipasang stent atau cincin, semacam kerangka metal sebagai penyangga supaya pembuluh darah tetap terbuka. Stent ini dilapisi obat (drug eluting stent/DES) untuk menghambat pertumbuhan sel sehingga pembuluh darah tak tersumbat lagi.

”Jika penyumbatan terlalu banyak, lebih dari tiga penyempitan, lebih efektif diatasi dengan operasi pintas koroner (by pass),” kata Manoefris.

Tentunya berbagai intervensi ini perlu disertai perbaikan pola hidup, yakni menerapkan pola makan yang sehat, diet rendah kolesterol, berolahraga secara teratur, dan menghindari stres.

Sumber : 64.203.71.11/kompas-cetak/0601/20/kesehatan/2376385.htm

Advertisements
Categories: terapi penyakit | 3 Comments

Post navigation

3 thoughts on “Kenali Sinyal Jantung Koroner

  1. Wiwid

    Makasi blognya,
    sudah membantu saya lebih dalam memahami PJK.

  2. kasim djusman

    Terima kasih atas infonya ,lebih elok kalau disertai cara pertolongan pertama saat terjadi serangan baik secara obat/pernafasan buatan ,daftar rumah sakit yg memiliki fasilitas utk kateter dll

    • Yth. Bapak Rudy yang baik,

      Dari cerita Bapak Rudy, dapat saya berikan beberapa saran antara lain :
      – untuk pijat refleksi hanya bisa memberikan info tentang titik saraf yang sakit di badan kita berdasarkan dari rumus-rumus titik refleksi yang bisa kita lihat di buku-buku refleksi. kesimpulannya berfungsi hanya sebagai petunjuk saja kalau ada yang sakit di posisi badan kita.
      – yang bisa memberitahukan kalo seseorang sakit atau tidak sebaiknya diperiksakan ke dokter atau tes ke lab berdasarkan referensi dokter. hal ini lebih bisa dipertanggungjawabkan secara moral dan ilmiah.
      – saran saya sebaiknya pijat dilakukan seminggu sekali atau 2 minggu sekali atau sebulan sekali, hal tergantung dari keluhan kita sendiri dimana kita lebih mengetahui / merasa capek atau tidak.
      – masalah sembuh atau tidaknya penyakit seseorang—semua itu tergantung dari ijin Alloh SWT saja, kita sebagai manusia wajib berikhtiar semampunya untuk mencari pengobatan yang tepat bagi kita.
      Atas perhatiannya, saya sampaikan terima kasih.

      Salam hangat dan sehat selalu,

      PijatKeluargaSehat !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: