Jangan Panggil Saya Tukang Pijat…

Oleh Ingki Rinaldi

“Nanti kalau semua orang di Surabaya tahu saya masseur bisa-bisa semuanya minta dipijat, hahaha,” ucap Mohammad Madrai, salah seorang tukang pijat kesebelasan Persebaya Surabaya, pada sebuah sore yang teduh.

Madrai, yang beken di kalangan pemain Persebaya Surabaya dengan nama Cak Mad itu, sejak musim kompetisi 2006 digaet kembali oleh Persebaya atas permintaan sejumlah pemain senior.

“Orang yang telepon saya waktu itu Pak Bodro (Subodro, Asisten Manajer Bidang Teknik Persebaya),” kata Cak Mad yang sebelumnya sempat menangani Persebaya pada musim 2003/2004 sebelum kembali dilepas pada musim 2005 itu. Selain lihai memainkan jemari tangannya untuk meregangkan ketegangan urat para pemain, pria keturunan Madura kelahiran Surabaya, 10 Agustus 1947 itu, juga piawai merangkai lelucon.

Maka tak salah bila pemain senior seperti Mursyid Effendi bisa merasa berada dalam zona kenyamanan saat memasuki sesi pemijatan setiap kali usai latihan. “Selain Cak Mad, juga ada Pak Totok yang biasa memijat anak-anak. Tetapi kalau Pak Totok lebih banyak untuk mengurusi pemain yang keseleo atau cedera, sekalipun juga bisa memijat seperti Cak Mad,” tutur Mursyid.

Perawakan Cak Mad yang mungil, menurut Mursyid, memiliki dorongan tenaga yang sesuai bagi fisik sejumlah pemain lokal. “Kalau Pak Totok tenaganya lebih besar sehingga yang lebih cocok mungkin para pemain asing. Walaupun ada juga pemain lokal yang cocok dengan kekuatan pijatannya,” ujarnya.

Mursyid setuju apabila sifat humoris kedua orang itu semakin mempercepat pemulihan fisik setiap pemain usai menjalani latihan maupun pertandingan. “Mereka sangat berpengaruh bagi tim,” tuturnya serius. Mestinya humoris

Sepintas profesi para pemijat ini terlihat enteng. Namun, tak kurang tim nasional Inggris merasa perlu membajak masseur Billy McCulloch yang warga Skotlandia. McCulloch adalah tukang pijat klub kaya raya Chelsea dengan pengaruh besar bagi para pemain “The Blues” di lapangan pertandingan.

Kapten tim nasional Inggris John Terry, seperti dilansir situs thefa.com, menyebutkan kelakar yang diciptakan McCulloch mampu meredakan ketegangan dan atmosfer serius yang dibangun pelatih Steve McClaren. “Dia adalah seorang jenius dengan tangannya,” komentar Terry mengenai McCulloch.

Perihal kemampuan memasuki dimensi psikologis para pemain ini, diamini Cak Mad. “Ya, memang harus begitu, supaya para pemain tidak stress,” ucapnya.

Tekanan sebelum bertanding memang sangat dipahami Cak Mad. Sebagai bekas pemain Persebaya di era Rusdi Bahalwan dan Abdul Kadir, Cak Mad mengerti betul bahwa relaksasi merupakan salah satu faktor penting yang harus didapat pemain.

Sempat merumput bersama Niac Mitra pada era 1972-178, Cak Mad mesti rela panggungnya dirampas saat gangguan penglihatan mulai menderanya. Operasi katarak yang dijalani pun tidak lantas membuat penglihatannya kembali seratus persen.

“Harusnya memang jadi pelatih, tetapi saya tahu diri daripada malu saat melatih karena mempraktikkan operan-operan yang tidak akurat, lebih baik jadi masseur saja,” katanya ringan.

Sebuah “insiden” disebutnya sebagai awal mula keterlibatannya menjadi tukang pijat tim sepak bola. Saat itu, Joko Malis, yang melatih Persmin Minahasa di musim 2006 lalu, terserang cedera engkel berkepanjangan.

“Joko sudah berobat ke sana kemari, terus saya lihat dia dan saya tawari untuk saya pijat. Eh, dua hari kemudian Alhamdulillah dia sembuh dan bisa main. Makanya kemudian Pak Wenas (A Wenas, pemilik Niac Mitra) meminta saya terjun lagi di sepak bola sebagai masseur,” katanya.

Kini Cak Mad tengah menikmati liburan panjangnya setelah manajemen Persebaya memutuskan baru akan mulai mengumpulkan para pemain lagi usai Lebaran mendatang. Dia pun tidak risau soal apakah surat kontrak untuk musim depan bakal kembali menghampirinya.

“Hahaha, kalau klub lain di luar Surabaya sepertinya tidak karena keluarga saya ada di Surabaya. Lebih enak di Surabaya sambil mengawasi keluarga dan anak-anak,” tutupnya. Namun, sekarang semua orang di Surabaya sudah tahu lho Cak, kalau sampeyan ini tukang pijat.

Sumber : kompas.com

Categories: pijat story (cerita) | Tags: | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “Jangan Panggil Saya Tukang Pijat…

  1. Teruslah berkarya sampai akhir hayat, kudoa’kan semoga sukses selalu. Dari Abdurrahman, Pemimpin Redaksi http://www.metrogaib.com

  2. enak ya habis olah raga dipijat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: