motivasi & inspirasi

Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Batin

Taqobalallahu minna wa minkum.
Selamat Merayakan Idul Fitri 1438 H.
Mohon Maaf Lahir dan Batin.

– Pijat Keluarga Sehat –

Categories: motivasi & inspirasi | Tags: , , | Leave a comment

Guru Pijat ”Lulusan” Monas Indonesia

Oleh : Mawar Kusuma

Pijat tradisional menarik hati Onny Arifin Yuwono. Memulai karier sebagai tukang pijat jalanan dengan upah seikhlasnya di kawasan Monumen Nasional, Jakarta, Yuwono terus berkembang. Ia mendirikan sekolah pijat yang kini telah menyebar hingga ke beberapa daerah. Keahlian memijat akhirnya membawanya keliling Indonesia, bahkan ke luar negeri.

Yuwono sejak dulu gemar dipijat dan belajar memijat. Karena itu, ketika berhenti bekerja di bidang pariwisata dan uang pesangonnya ludes, ia langsung berpikir terjun ke dunia pijat tradisional pada awal 2000-an. Ia tidak malu meski saat itu mengantongi ijazah sarjana ekonomi (akuntansi) dari Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya.

Pria yang murah senyum itu pun meninggalkan keluarga di Madiun, Jawa Timur, menuju Jakarta untuk menjadi pemijat. Menjelang akhir pekan, ia selalu beroperasi di kawasan Monumen Nasional (Monas). ”Tempatnya di sekitar lapangan refleksi dekat kandang rusa. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi, dilarang,” cerita Yuwono saat ditemui pada pertengahan Desember lalu di Jakarta.

Calon pelanggan mengenali Yuwono dari selembar kertas yang ditaruh di atas tas ransel miliknya. Kertas itu bertuliskan: tukang pijat! Kegiatan pijat-memijat itu dilakukan di udara terbuka dengan hanya menghamparkan terpal plastik sebagai alas pijat. Yuwono memijat bersama sekitar 20 pemijat pinggir jalan lainnya.

Bayaran untuk mereka jumlahnya tak tentu, bergantung pada kebaikan hati pelanggan. Biasanya pelanggan membayar Rp 20.000. Dalam sebulan, Yuwono bisa memijat lebih dari 100 orang. Pelanggannya pada akhir pekan bisa 15 orang per hari.

”Kami mengandalkan kertas tulisan pijat sambil duduk manis menanti pelanggan. Demonstrasi selalu jadi sumber rezeki buat kami. Kami bisa memijat pengunjuk rasa hingga tentara. Kalau Monas sepi, kami lari ke sekitar Masjid Istiqlal mencari pelanggan. Sekarang sudah dilarang.”

Berbeda dengan kebanyakan pemijat lainnya, Yuwono tekun belajar. Di sela-sela waktu senggangnya, ia rajin membaca buku tentang aneka teknik pijat. Yuwono yang tidak lahir dari keluarga pemijat sangat yakin bahwa ilmu pijat bisa dipelajari dan terus dilatih.

Tidak hanya dari buku, ia juga berusaha mendalami ilmu memijat dari lembaga kursus atau sekolah khusus. Namun, ia kesulitan mendapatkan lembaga yang mengajarkan pijat tradisional. ”Dulu belum ada sekolah pijat. Saya nyari saja enggak ada.”

Dari situ, Yuwono berpikir untuk mendirikan sekolah pijat. ”Jadi tukang pijat pun harus punya mimpi,” katanya.

Sekolah pijat

Ia pun berusaha mati-matian untuk mewujudkan mimpinya. Duit yang diperoleh dari hasil memijat di jalanan ia kumpulkan lalu digunakan untuk mendirikan kursus pijat. Pada 2010, Yuwono akhirnya berhasil mendirikan sekolah pijat bernama Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Pijat Sehat (LP3S) sekaligus tempat pijat.

Ia pun mengakhiri kariernya sebagai tukang pijat jalanan dan memulai karier sebagai guru pijat dan pengelola tempat pijat tradisional.

”Ternyata gampang bikin sekolah pijat dan menguntungkan. Jadi pemijat, 100 pasien cuma dapat Rp 3 juta. Dengan jadi guru, saya bisa dapat lebih banyak uang,” ujar Yuwono.

Selain memimpin LP3S, Yuwono belakangan menjadi Pemimpin Yumeiho Indonesia Foundation serta Ketua Standard dan Akreditasi Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Para Pemijat Pengobatan Indonesia.

Lembaga pijat yang didirikan Yuwono cepat berkembang. Dalam waktu beberapa tahun, ia bisa mengembangkan 30 cabang dengan sistem waralaba. ”Tapi sekarang tinggal 10 cabang. Susah karena banyak pemijat yang dibajak. Kita ajari, lalu pindah di tengah jalan,” lanjutnya.

Keuntungan yang diperoleh Yuwono sebagian digunakan untuk mendalami lagi ilmu memijat. ”Pokoknya, kalau punya duit, saya pakai untuk belajar lagi, sampai ke Thailand dan Jepang. Saya berusaha berkembang terus, harus belajar terus. Enggak bisa asal mijit. Harus holistik. Tidak hanya fisik, tapi juga spiritual. Saya juga belajar psikologi pasien, belajar hipnoterapi bekam dan lain-lain. Keterampilan memijat saja enggak cukup. Saya ketagihan belajar,” tuturnya.

Yuwono, antara lain, menimba ilmu beberapa kali di International Institute of Practical Preventive Medicine, Jepang, dan Thai Massage, Wat Po, Thailand. Ia juga mengikuti beragam pelatihan, seperti Pelatihan Calon Auditor Bidang SPA Kementerian Pariwisata, Pelatihan Calon Auditor Bidang Panti Pijat Kementerian Pariwisata, serta Pelatihan Pendidik dan Pelatihan Penguji di Lembaga Sertifikasi Kompetensi Pijat Refleksi Indonesia. Ia juga mendalami ilmu marketing secara formal dan lulus S-2 manajemen pada 2005.

Meski telah belajar ilmu pijat dan sekolah formal di mana-mana, Yuwono selalu mengatakan dengan setengah berkelakar, ”Saya ini hanyalah pemijat lulusan ’Universitas Monas’.”

Pijat mendunia

Ambisi Yuwono untuk mengembangkan LP3S yang didirikannya terus menyala. Kini, ia berusaha memopulerkan pijat tradisional ke dunia internasional. Ketika ditemui Desember lalu, Yuwono sedang mengajarkan teknik memijat kepada Herlovina dan Mila Tolenaars dari Belanda. Mereka berdua membayar Rp 4 juta untuk empat hari pelatihan.

Setelah selesai merampungkan pelatihan, Herlovina akan mempraktikkan ilmu pijat itu di spa untuk anak yang dia kelola di Bali. Sementara itu, Mila akan mempraktikkannya di tempat pijat tradisional bali di Belanda yang telah memiliki lebih dari 100 pelanggan.

”Saya datang ke Jakarta khusus untuk belajar pijat. Saya sempat kesulitan cari sekolah pijat yang terakreditasi dan resmi,” kata Mila.

Yuwono lantas menunjukkan perbedaan pijat yang benar-benar tradisional dengan pijat yang dipelajari di sekolah pijat. Jika pijat tradisional biasa sering kali terasa menyakitkan, pijat tradisional yang sudah diolah terasa lebih lembut.

”Khasiatnya sama, rasanya berbeda, tergantung jam terbang,” ujar Yuwono yang berencana membuka lembaga pelatihan pijat dan tempat pijat tradisional di Brunei dan Hongkong.

Melalui pijat, Yuwono ingin membawa nama Indonesia ke kancah dunia.

Sumber :

http://print.kompas.com/baca/sosok/2017/01/21/Guru-Pijat-Lulusan-Monas?utm_source=bacajuga

Categories: motivasi & inspirasi, pendidikan pijat profesional, Pijat News, pijat story (cerita) | Tags: , | Leave a comment

PLEASE … BUNDA TOLONG MANDIKAN AKU SEKALI SAJA

Dewi adalah sahabat saya, ia adalah seorang mahasiswi yang berotak cemerlang dan memiliki idealisme yang tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. ”Why not to be the best?,” begitu ucapan yang kerap kali terdengar dari mulutnya, mengutip ucapan seorang mantan presiden Amerika.

Ketika Kampus, mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht-Belanda, Dewi termasuk salah satunya.

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Dewi mendapat pendamping hidup yang ”selevel”; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi. tak lama berselang lahirlah Bayu, buah cinta mereka, anak pertamanya tersebut lahir ketika Dewi diangkat manjadi staf diplomat, bertepatan dengan suaminya meraih PhD. Maka lengkaplah sudah kebahagiaan mereka.

Ketika Bayu, berusia 6 bulan, kesibukan Dewi semakin menggila. Bak seekor burung garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain. Sebagai seorang sahabat setulusnya saya pernah bertanya padanya, “Tidakkah si Bayu masih terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal oleh ibundanya ?” Dengan sigap Dewi menjawab, “Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya dengan sempurna”. “Everything is OK !, Don’t worry Everything is under control kok !” begitulah selalu ucapannya, penuh percaya diri.

Ucapannya itu memang betul-betul ia buktikan. Perawatan anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter termahal. Dewi tinggal mengontrol jadwal Bayu lewat telepon. Pada akhirnya Bayu tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas mandiri dan mudah mengerti.

Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang betapa hebatnya ibu-bapaknya. Tentang gelar Phd. dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang berlimpah. “Contohlah ayah-bundamu Bayu, kalau Bayu besar nanti jadilah seperti Bunda”. Begitu selalu nenek Bayu, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya.

Ketika Bayu berusia 5 tahun, neneknya menyampaikan kepada Dewi kalau Bayu minta seorang adik untuk bisa menjadi teman bermainnya dirumah apa bila ia merasa kesepian.

Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Dewi dan suaminya kembali meminta pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Bayu. Lagi-lagi bocah kecil inipun mau ”memahami” orangtuanya.

Dengan Bangga Dewi mengatakan bahwa kamu memang anak hebat, buktinya, kata Dewi, kamu tak lagi merengek minta adik. Bayu, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek dan sangat mandiri. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Bahkan, tutur Dewi pada saya , Bayu selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Dewi sering memanggilnya malaikat kecilku. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super sibuk, namun Bayu tetap tumbuh dengan penuh cinta dari orang tuanya. Diam-diam, saya jadi sangat iri pada keluarga ini.

Suatu hari, menjelang Dewi berangkat ke kantor, entah mengapa Bayu menolak dimandikan oleh baby sitternya. Bayu ingin pagi ini dimandikan oleh Bundanya,” Bunda aku ingin mandi sama bunda…please…please bunda”, pinta Bayu dengan mengiba-iba penuh harap.

Karuan saja Dewi, yang detik demi detik waktunya sangat diperhitungkan merasa gusar dengan permintaan anaknya. Ia dengan tegas menolak permintaan Bayu, sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Bayu agar mau mandi dengan baby sitternya. Lagi-lagi, Bayu dengan penuh pengertian mau menurutinya, meski wajahnya cemberut.

Peristiwa ini terus berulang sampai hampir sepekan. “Bunda, mandikan aku !” Ayo dong bunda mandikan aku sekali ini saja…?” kian lama suara Bayu semakin penuh tekanan. Tapi toh, Dewi dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Bayu sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Bayu bisa ditinggal juga dan mandi bersama Mbanya.

Sampai suatu sore, Dewi dikejutkan oleh telpon dari sang baby sitter, “Bu, hari ini Bayu panas tinggi dan kejang-kejang. Sekarang sedang di periksa di Ruang Emergency”.

Dewi, ketika diberi tahu soal Bayu, sedang meresmikan kantor barunya di Medan. Setelah tiba di Jakarta, Dewi langsung ngebut ke UGD. Tapi sayang… terlambat sudah…Tuhan sudah punya rencana lain. Bayu, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh Tuhannya.. Terlihat Dewi mengalami shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah untuk memandikan putranya, setelah bebarapa hari lalu Bayu mulai menuntut ia untuk memandikannya, Dewi pernah berjanji pada anaknya untuk suatu saat memandikannya sendiri jika ia tidak sedang ada urusan yang sangat penting. Dan siang itu, janji Dewi akhirnya terpenuhi juga, meskipun setelah tubuh si kecil terbujur kaku.

Ditengah para tetangga yang sedang melayat, terdengar suara Dewi dengan nada yang bergetar berkata “Ini Bunda Nak…., Hari ini Bunda mandikan Bayu ya…sayang….! akhirnya Bunda penuhi juga janji Bunda ya Nak..” . Lalu segera saja satu demi satu orang-orang yang melayat dan berada di dekatnya tersebut berusaha untuk menyingkir dari sampingnya, sambil tak kuasa untuk menahan tangis mereka.

Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, para pengiring jenazah masih berdiri mematung di sisi pusara sang Malaikat Kecil. . Berkali-kali Dewi, sahabatku yang tegar itu, berkata kepada rekan-rekan disekitanya, “Inikan sudah takdir, ya kan..!” Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya di panggil, ya dia pergi juga, iya kan?”. Saya yang saat itu tepat berada di sampingnya diam saja. Seolah-olah Dewi tak merasa berduka dengan kepergian anaknya dan sepertinya ia juga tidak perlu hiburan dari orang lain.

Sementara di sebelah kanannya, Suaminya berdiri mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pucat pasi dengan bibir bergetar tak kuasa menahan air mata yang mulai meleleh membasahi pipinya.

Sambil menatap pusara anaknya, terdengar lagi suara Dewi berujar, “Inilah konsekuensi sebuah pilihan!” lanjut Dewi, tetap mencoba untuk tegar dan kuat.

Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja yang menusuk hidung hingga ke tulang sumsum. Tak lama setelah itu tanpa di duga-duga tiba-tiba saja Dewi jatuh berlutut, lalu membantingkan dirinya ke tanah tepat diatas pusara anaknya sambil berteriak-teriak histeris. “Bayu maafkan Bunda ya sayaang..!!, ampuni bundamu ya nak…? serunya berulang-ulang sambil membenturkan kepalanya ketanah, dan segera terdengar tangis yang meledak-ledak dengan penuh berurai air mata membanjiri tanah pusara putra tercintanya yang kini telah pergi untuk selama-lamanya.

Sepanjang persahabatan kami, rasanya baru kali ini saya menyaksikan Dewi menangis dengan histeris seperti ini.

Lalu terdengar lagi Dewi berteriak-teriak histeris “Bangunlah Bayu sayaaangku….Bangun Bayu cintaku, ayo bangun nak…..?!?” pintanya berulang-ulang, “Bunda mau mandikan kamu sayang…. Tolong Beri kesempatan Bunda sekali saja Nak…. Sekali ini saja, Bayu.. anakku…?” Dewi merintih mengiba-iba sambil kembali membenturkan kepalanya berkali-kali ke tanah lalu ia peluki dan ciumi pusara anaknya bak orang yang sudah hilang ingatan. Air matanya mengalir semakin deras membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Bayu.

Senja semakin senyap, aroma bunga kamboja semakin tercium kuat manusuk hidung membuat seluruh bulu kuduk kami berdiri menyaksikan peristiwa yang menyayat hati ini…tapi apa hendak di kata, nasi sudah menjadi bubur, sesal kemudian tak berguna. Bayu tidak pernah mengetahui bagaimana rasanya dimandikan oleh orang tuanya karena mereka merasa bahwa banyak hal yang jauh lebih penting dari pada hanya sekedar memandikan seorang anak ….

Sumber : CERITA KISAH NYATA KEHIDUPAN (NOVEL ONLINE)

Categories: motivasi & inspirasi | Tags: | 1 Comment

Cerita Kisah Nyata Kehidupan (Novel Online)

Kisah seorang gadis yatim piatu yang dirawat dan dibesarkan oleh laki-laki miskin. Gadis penderita leukemia yang memutuskan melepaskan biaya pengobatan senilai 540.000 dollar. Dana pengobatan tersebut berhasil dihimpun dari perkumpulan orang Chinese di seluruh dunia. Dia rela melepaskan dana pengobatan terserbut dan membaginya kepada tujuh anak miskin yang juga sedang berjuang menghadapi kematian.

Kalimat terakhir yang dia tinggalkan dalam surat wasitnya adalah “Saya pernah datang dan saya sangat patuh”. Seorang gadis berusia delapan tahun yang mempersiapkan pemakamannya sendiri. Sejak lahir dia tidak pernah mengetahui siapa kedua orang tua kandungnya. Dia hanya memiliki seorang ayah angkat yang memungutnya dari sebuah lapangan rumput. Seorang pria miskin berusia 30 tahun. Karena miskin, tak ada perempuan yang mau menikah dengannya.

30 Nop 1996, adalah saat dimana pria miskin tersebut menemukan bayi yang sedang kedinginan di atas hamparan rumput. Di atas dadanya terdapat selembar kartu kecil tertuliskan tanggal “20 Nop 1996, Jam 12”.

Ketika ditemukan, suara tangisnya sudah melemah. Pria tersebut khawatir jika tak ada yang memperhatikannya, maka bayi tersebut akan mati kedinginan. Dia memutuskan untuk memungutnya. Dengan berat hati karena takut tak dapat menghidupinya kelak karena kemiskinannya, dia memeluk bayi tersebut sambil berkata “apa yang saya makan, itulah yang kamu makan”. Kemudian dia memutuskan untuk merawat bayi tersebut dan memberinya nama YU YUAN.

YU YUAN akhirnya dirawat dan dibesarkan oleh seorang pria lajang dan miskin yang tak mampu membeli susu. YU YUAN hanya diberi minum air tajin (Air hasil cucian beras). Keadaan yang berat tersebut membuat YU YUAN tumbuh menjadi anak yang lemah dan sakit-sakitan karena kurangnya asupan gizi. Pun bertambah besar dan memiliki kepintaran yang luas biasa. Para tetangga sering memuji YU YUAN sangat pintar, mereka sangat menyukai YU YUAN tumbuh ditengah kekhawatirans ayahnya.

YU YUAN sadar dia berkata dengan anak-anak lain. Teman-temanya memiliki sepasang orang tua, sedangkan dia hanya memiliki seorang ayah angkat. Dia sadar bahwa dia harus menjadi anak penurut dan tidak boleh membuat ayahnya sedih.

YU YUAN sangat mengerti bahwa dia harus giat belajar dan menjadi juara di sekolah bisa merasa bangga. Dia tidak pernah mengecewakan ayahnya. YU YUAN sering bernyanyi untuk ayahnya. Semua hal lucu yang terjadi di sekolahnya diceritakan kepada ayahnya. Senyum sang ayahlah yang bisa membuatnya bahagia.

Pada suatu pagi di bulan Mei-2005, ketika YU YUAN sedang membasuh mukanya, dia terkejut karena air bekas basuhan mukanya berubah menjadi berwarna merah akibat darah yang menetes dari hidungnya. Darah dari hidungnya terus mengalir tanpa bisa dihentikan.

Ayahnya segera melarikan YU YUAN ke puskesmas nuntuk mendapatkan pertolongan doker. Di puskesmas dia diberi suntikan sebagai pertolongan awal. Namun, ternyata dari bekas suntikan tersebut juga mengeluarkan darah yang terus mengalir di ikuti dengan munculnya bintik-bintik merah dipahanya. Sang Dokter menyarankan ayahnya untuk membawa YU YUAN ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, YU YUAN dan ayahnya masih harus menunggu karena tak mendapatkan nomor antrian.

Selama menunggu, darah dari hidung YU YUAN terus mengalir. Dia hanya bisa menunggu di kursi panjang ruang tunggu sambil menutup hidungnya agar darahnya tidak mengotori lantai. Tetapi banyaknya darah yang keluar tak bisa dihentikan dan mulai mengotori lantai sehingga perlu tamping dalam sebuah baskom. Dalam waktu singkat, baskom tersebut telah dipenuhi oleh darah YU YUAN.

Dokter yang melihat keadaan ini cepat-cepat membawa YU YUAN untuk diperiksa. Setelah di diagnose, Dokter menyatakan bahwa YU YUAN terkena leukemia ganas. Pengobatan penyakit tersebut sedikitnya membutuhkan biaya sebesar 300.000 yen. Ayahnya mulai cemas melihat anaknya yang terbaring lemah di ranjang. Dia hanya ingin menyelamatkan anaknya. Ayahnya berusaha mencari pinjaman dari saudara-sudaranya. Setelah jerih payah yang dilakukan, uang yang dia peroleh jumlahnya sangat sedikit. Dia memutuskan untuk menjual rumahnya. Namun, sangat sulit untuk menjual rumahnya yang kumuh dalam waktu cepat.

Beban pikiran yang ditanggung membuat ayah YU YUAN semakin kurus. Kesedihannya terlihat oleh YU YUAN. Melihat keadaan ayahnya, YU YUAN menjadi sangat sedih. Di ruang perawatan, dia menatap ayahnya dan menggenggam tangan sang ayah bermaksud mengatakan sesuatu kepada ayahnya. Air mata YU YUAN mulai menetes. Bibirnya bergetar. “Ayah, saya ingin mati” kata YU YUAN dengan suara yang sangat lemah. Ayahnya terkejut mendengar apa yang dikatakan anak angkatnya itu. “Kamu masih terlalu muda, kenapa kamu ingin mati saying ?”. “Aku hanya anak yang dipungut dari lanpangan rumput. Nyawaku tak berharga. Biarlah aku keluar dari rumah sakit ini”.

Karena keadaan yang teramat sulit, dengan terpaksa ayahnya menyetujui permintaan anaknya. Sadar dengan sisa hidupnya yang singkat, gadis yang masih berusia delapan tahun itupun mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pemakaman untuk dirinya. Sejak kecil YU YUAN tak pernah menuntut apapun pada ayahnya. Namun hati itu, setelah dia keluar rumah sakit dia mengajukan beberapa permintaan kepada ayahnya. Dia ingin mengenakan baju baru dan berfoto dengan ayahnya. Sang ayah memenuhi permintaan YU YUAN, dia membelikan baju baru untuk anaknya itu dan pergi ke studio foto untuk berfoto bersama anaknya.

Dengan baju barunya YU YUAN berpose bersama ayahnya. Dalam sakit yang di deritanya YU YUAN berusaha senyum sambil menahan air matanya yang menetes membasahi pipi. “Kalau ayah merindukanku setelah aku tidak ada, lihatlah foto ini”, ujar YU YUAN kepada ayahnya.

Keadaan YU YUAN diketahui oleh seluruh warga desa tempat tinggal YU YUAN. Selama ini, dia dikenal sebagai anak yang baik dan cerdas. Penderitaan yang ditanggung YU YUAN dan ayahnya membuat penduduk desa versimpati dan berupaya membantu mereka dengan berusaha menggalang dana dari banyak orang.

Berita tentang YU YUAN pun meluas sampai akhirnya terdengar oleh seorang wartawati bernama Chun Yuan. Berkat laporan yang ditulis di surat kabar tempat wartawati itu bekerja. Cerita tentang anak yang mempersiapkan pemakamannya sendiri itu dengan cepat tersebar ke seluruh kota Rong Ceng. Banyak orang tergugah dengan pemberitaan di surat kabar tersebut. Kabar tentang YU YUAN akhirnya tersebar hingga ke seluruh dunia. Orang-orang yang mengetahui cerita tentang YU YUAN mulai menyebarkan email kebanyak orang di seluruh dunia untuk menggalang dana.

Hanya dalam waktu sepuluh hari, dari perkumpulan orang Chinese di dunia saja, telah terkumpul 560.000 dollar. BIaya operasipun telah tercukupi. Titik kehidupan YU YUAN sekali lagi dihidupkan oleh cinta kasih semua orang.
Sumbangan dana masih terus mengalir dari segala penjuru dunia meskipun pengumuman dihentikannya penggalangan dana telah disebarkan. Segala yang dibutuhkan telah tersedia untuk pengobatan YU YUAN, semua orang menunggu kabar baik tentang YU YUAN. Seseorang bahkan mengatakan dalam emailnya,“YU YUAN anakku yang tercinta, saya mengharapkan kesembuhanmu. Saya mendoakanmu cepat kembali sekolah. Saya mendambakanmu bisa tumbuh besar dan sehat. YU YUAN anakku tercinta”.

Pada tanggal 21-Juni, YU YUAN akhirnya dibawa kembali ke ibu kota. Dana yang sudah terkumpul, membuat jiwa yang lemah ini memiliki harapan dan alasan untuk terus bertahan hidup. YU YUAN akhirnya menerima pengobatan. Dokter Shii Min yang menangani YU YUAN memintanya untuk menjadi anak perempuannya. Air mata YU YUAN pun mengalir deras karena merasa bahagia.

Hari kedua saat dokter Shii Min dating, YU YUAN dengan malu-malu memanggilnya MAMA. Suara itu, Dokter Shii Min kaget, dia tersenyum sambil berkata “anak yang baik”. Semua orang mendambahkan sebuah keajaiban dan menunggu momen dimana YU YUAN hidup dan sembuh kembali. Banyak masyarakat dating untuk menjenguk YU YUAN. Banyak juga orang yang menanyakan kabar YU YUAN melalui email. Selama dua bulan YU YUAN melakukan terapi. Fisik YU YUAN semakin lemah.

YU YUAN pernah bertanya kepada Fu Yuan, wartawati, “Tante kenapa mereka mau menyumbang uang untuk saya ?” warta wati tersebut menjawab, “karena mereka semua adalah orang baik hati”. “Tante saya juga mau menjadi orang yang baik hati” ujar YU YUAN. Dari bawah bantal tidurnya gadis kecil itu mengambil sebuah buku dan diberikan kepada Fu Yuan “Tante ini adalah surat wasiat saya”.

Fu Yuan kaget setelah membaca surat wasiat dari YU YUAN. Ternyata gadis tak berdaya itu telah mempersiapkan pemakamannya sendiri. Seorang anak berumur delapan tahun yang sedang menghadapi kematian menulis tiga halaman surat wasiat yang dibagi menjadi enam bagian.

Lewat surat wasiatnya itu YU YUAN menyampaikan rasa terima kasih sekaligus mengucapkan selamat tinggal kepada nsemua orang yang telah sangat peduli dengan keadaannya. Kalimat terakhir dalam surat wasiat tersebut berbunyi, “sampai jumpa tante, kita berjumpa lagi dalam mimpi, tolong jaga papa saya dan sedikit dari dana pengobatan ini bisa disumbangkan untuk sekolah saya dan katakana kepada palang merah, setelah saya meninggal, sisa biaya pengobatan itu dibagikan kepada orang-orang yang sakit seperti saya agar mereka lekas sembuh”.

Surat wasiat ini membuat Fu Yuan tidak bisa menahan tangis yang membasahi pipinya “Saya pernah dating, Saya sangat patuh”, itulah kata-kata terakhir yang keluar dari bibir YU YUAN. Pada tanggal 22-Agustus, akibat pendarahan di bagian pencernaan, YU YUAN tidak bisa makan dan hanya mengandalkan infuse untuk bertahan hidup. YU YUAN yang telah menderita karena penyakit itu, akhirnya menutup mata untuk selamanya. Berita ini merupakan pukulan bagi banyak orang yang mengharapkan kesembuhan YU YUAN ……

Categories: motivasi & inspirasi | Tags: | 4 Comments

Garam dan Telaga

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia. Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..”, ujar Pak tua itu.

“Pahit. Pahit sekali”, jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.

Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.

Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu. “Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”.

“Segar.”,… sahut tamunya. “Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?”, tanya Pak Tua lagi.
“Tidak”, …jawab si anak muda.

Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama.

“Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. “Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”

Categories: motivasi & inspirasi | Tags: , , | Leave a comment

Memetik Manfaat Ragam Puasa

1352533p

Sumber : KOMPAS.com

Puasa Senin Kamis hanya salah satu dari banyak jenis atau cara berpuasa yang dijalani oleh warga masyarakat kita, antara lain masyarakat tradisional Jawa. Pernak-perniknya mungkin berbeda-beda, namun esensinya sama, yaitu berlatih untuk menemukan diri sejati, sekaligus memberi manfaat sehat. Mana yang paling pas untuk Anda?

Berikut ini beberapa jenis puasa yang dikenal dan sering dilakukan oleh masyarakat kita. Mungkin beberapa di antaranya juga cocok dan baik untuk Anda jalankan.

Puasa Mutih
Puasa mutih bukan berarti makan dan minum apa pun serba putih, seperti susu, nasi, mpek-mpek, bihun. Yang benar adalah bahwa ketika menjalani puasa ini orang hanya diperkenankan makan nasi putih dan minum air saja, selama 24 jam sehari. Biasanya puasa dimulai pukul 18.00 dan diakhiri pada pukul 18.00 keesokan harinya.

Ada dua cara menjalaninya. Yang pertama ialah boleh makan dan minum beberapa kali sehari sesuai waktu makan. Cara kedua adalah hanya makan satu kali pada saat berbuka puasa; dan berlanjut hingga saat bangun tidur di hari kedua baru kembali makan dan minum seperti biasa.

Puasa mutih ini biasanya dlakukan sesuai hari lahir. Hari lahir ini bisa dalam arti sesuai hari weton (40 hari sekali) atau seminggu sekali mengikuti hari saja. Ada yang melakukannya satu hari, tiga hari, tujuh hari, bahkan sampai 40 hari. Artinya, selama itu hanya makan nasi putih dan air saja.

Dalam konsep puasa tradisional ini tidak dikenal istilah makan sahur. Jadi, makan hanya dilakukan petang hari, ditambah malam sebelum tidur.

Puasa Ngrowot
Ini adalah jenis puasa dengan cara hanya makan umbi-umbian plus minum air putih saja selama 24 jam sehari. Puasa biasanya dimulai petang hari hingga petang hari lagi, dan tidak memerlukan sahur; sama dengan puasa mutih.

Biasanya umbi-umbian yang dimakan adalah singkong, ketela, ubi, kentang, termasuk jagung yang direbus atau dikukus tanpa tambahan garam maupun bahan-bahan lainnya.

Menjalani puasa ini jauh lebih ringan dibanding puasa mutih karena masih dapat merasakan aneka bahan pangan. Dengan demikian, biasanya orang bisa mengonsumsi makanan lebih banyak, dibanding kalau hanya makan nasi putih saja. Namun, bagi mereka yang tidak menyukai umbi-umbian, puasa ngrowot ini akan dirasakan cukup berat.

Puasa ngrowot juga dilakukan dengan dua cara, tergantung kebiasaan masing-masing orang, yaitu selama 24 jam tidak makan dan minum apa pun sampai waktunya berbuka, setelah berbuka juga tetap hanya makan umbi-umbian dan air putih sampai bangun tidur di hari kedua.

Puasa Nganyep
Puasa nganyep minp puasa ngrowot, yaitu hanya makan makanan serba direbus atau dikukus. Bedanya dengan puasa ngrowot adalah bahan pangan yang dimakan tidak hanya umbi-umbian, melainkan dapat ditambah sayuran dan tempe rebus atau kukus. Sesuai dengan namanya, yaitu nganyep, semua bahan yang dimakan tidak mendapat tambahan bumbu apa pun, termasuk garam.

Puasa nganyep juga dijalankan seperti puasa yang lain, yaitu dimulai pada petang hari dan diakhiri petang hari pula, sekitar pukul 18.00 hingga 18.00 hari berikutnya. Untuk puasa selama 24 jam sehari itu juga tidak diperlukan sahur. Anda bisa memilih sepanjang 24 jam itu hanya makan dan minum setelah berbuka dan bangun tidur keesokan harinya baru makan dan minum seperti biasa. Atau, Anda bisa tetap makan dan minum seperti biasa, tapi makanan dan minuman yang disesuaikan.

Puasa Nyodot
Puasa nyodot yang dimaksudkan adalah menirukan cara codot (kalong) makan, yaitu hanya buah-buahan segar saja ditambah air putih, tanpa tambahan apa pun. Puasa bisa dilakukan sejak petang hari sehari sebelumnya hingga petang keesokan harinya, tanpa sahur karena yang menjalani bisa makan dan minum kapan saja sepanjang hanya buah segar dan air. Puasa jenis ini sangat menyenangkan karena biasanya tidak begitu merasakan kelaparan dan kehausan.

Puasa Ngebleng
Ini adalah jenis puasa lengkap. Yang bersangkutan hanya tinggal di dalam kamar tanpa penerangan sama-sekali, tidak makan maupun minum, bahkan tidak tidur, tidak berbicara, dan tidak mandi.

Jadi apa yang dilakukan di dalam kamar? Hanya melakukan perenungan, berdoa dan terhubung selalu dengan Tuhan Yang Maha Esa. Lamanya puasa bisa sehari, tiga hari atau tujuh hari jika sanggup.

Puasa Rabu Sabtu
Puasa pada hari Rabu Sabtu relatif kurang dikenal dibanding puasa Senin Kamis. Ada pendapat yang diturunkan oleh para sesepuh, bahwa puasa Senin Kamis tidak tepat dilakukan oleh mereka yang belum menikah karena konon kelak dapat menyebabkan gemuk. Karena itu, puasa Rabu Sabtu lebih disarankan untuk dilakukan oleh para gadis dan jejaka.

Puasa Nabi Daud
Ini adalah jenis puasa mengikuti cara Nabi Daud, yaitu sehari puasa dan sehari tidak puasa. Ada yang pakai makan sahur, tapi sebagian orang juga tidak merasa perlu makan sahur.

Puasa Senin Kamis
Puasa ini banyak dilakukan oleh masyarakat kita. Puasa Senin Kamis biasanya dimulai pada saat magrib Minggu petang diakhiri pada magrib Senin petang. Dilanjutkan pada saat magrib Rabu petang diakhiri magrib Kamis petang.

Untuk puasa Senin Kamis ini ada yang memakai makan sahur, tapi ada juga yang tidak makan sahur, tergantung pada kebiasaan atau keyakinan masing-masing. Mana yang lebih baik dan lebih benar? Tidak ada yang lebih, karena semuanya benar dan baik.

Puasa Ngapit Weton
Yang dimaksud ngapit weton adalah mengapit hari lahir. Contohnya, lahir hari Senin Pon, maka puasa dimulai pada petang hari Sabtu Legi dan berakhir pada petang hari Selasa Wage. Puasa jenis ini biasanya dilakukan lebih sebulan sekali, sesuai hari pasaran. Bagaimana cara puasanya? Ada yang makan dan minum biasa saat berbuka, tapi ada yang menggunakan cara puasa mutih.

(GHS/Widya Saraswati)

Categories: motivasi & inspirasi | Tags: , , , , , , , | Leave a comment

Doa untuk Putraku

Tuhanku…

Bentuklah putraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk mengetahui kelemahannya. Dan, berani menghadapi dirinya sendiri saat dalam ketakutan

Manusia yang bangga dan tabah dalam kekalahan

Tetap Jujur dan rendah hati dalam kemenangan

Bentuklah putraku menjadi manusia yang berhasrat mewujudkan cita-citanya dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja

Seorang putra yang sadar bahwa mengenal Engkau dan dirinya sendiri adalah landasan segala ilmu pengetahuan

Tuhanku…

Aku mohon, janganlah pimpin putraku di jalan yang mudah dan lunak. Namun, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan

Biarkan putraku belajar untuk tetap berdiri di tengah badai dan senantiasa belajar untuk mengasihi mereka yang tidak berdaya

Ajarilah dia berhati tulus dan bercita-cita tinggi, sanggup memimpin dirinya sendiri, sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain

Berikanlah hamba seorang putra yang mengerti makna tawa ceria tanpa melupakan makna tangis duka

Putra yang berhasrat untuk menggapai masa depan yang cerah

namun tak pernah melupakan masa lampau

Dan, setelah semua menjadi miliknya…

Berikan dia cukup rasa humor sehingga ia dapat bersikap sungguh-sungguh namun tetap mampu menikmati hidupnya

Tuhanku…

Berilah ia kerendahan hati…

Agar ia ingat akan kesederhanaan dan keagungan yang hakiki…

Pada sumber kearifan, kelemahlembutan, dan kekuatan yang sempurna…

Dan, pada akhirnya bila semua itu terwujud, hamba, ayahnya, dengan berani berkata “hidupku tidaklah sia-sia”

“ Puisi  Douglas Mac Arthur ”

Categories: motivasi & inspirasi | Tags: | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.