pijat story (cerita)

Orang Madura di Bali

Bukan karena takut bom meledak lagi di Bali, saya memilih bersih-bersih rumah saat tahun baru. Justru saat itulah saya mengalami musibah.

Hari Minggu, 1 Januari lalu, saya menglami keseleo pinggang saat berusaha menggeser sebuah kasur pegas cadangan yang seperti mau jatuh dari rak penyimpanannya. Terpaksa pekerjaan bersih-bersih rumah dihentikan. Mau pergi ke fisioterapi sudah pasti tidak ada yang buka. Saya terdiam pasrah menahan rasa nyeri pada pinggang kanan saya.

Sebetulnya saya kurang suka dipijat. Tapi karena rasa nyeri yang tidak kunjung menghilang meskipun sudah diolesi balsam panas, saya akhirnya menelepon Ibu saya minta tolong dipanggilkan tukang pijat yang biasa memijat keponakan saya.

Dua jam kemudian, Bu Nan, begitu ibu tukang pijat ini biasa dipanggil, sudah tiba di rumah saya. Saya menceritakan asal-muasal saya mendapatkan rasa nyeri di pinggang saya ini.

“Sampeyan ini Mbak! Wong, sudah tahu kasur berat kok digeser sendiri. Ya begini ini jadinya,” kata Bu Nan mengomeli saya dengan logat Maduranya yang kental.

Sebetulnya saya tidak terlalu mengenal Bu Nan. Keponakan saya yang memang doyan dipijat, yang sering menceritakan sosok Bu Nan ini. Yang pijatannya mantap lah, yang orangnya kecil lah, yang kulitnya gosong lah. Baru hari itu saya bertemu langsung dengannya.

Memang benar, pijatannya mantap. Bahasa lainnya, sakit! He…he…he.., mungkin karena saya tidak sering dipijat ya, jadi tidak tahan. Keponakan saya kalau tahu pasti tertawa habis melihat saya meringis-ringis keluar airmata waktu sedang dipijat. Tapi berangsur-angsur rasa nyeri yang saya rasakan di pinggang mulai berkurang. Saya mulai bisa menikmati ’kemantapan’ pijatan Bu Nan yang sesungguhnya. Enak juga!

“Sampeyan kalau perlu pijatan, telpon aku saja Mbak! Tadi itu waktu Ibu sampeyan telpon, anakku yang terima telponnya. Tapi jangan khawatir, pasti disampaikan kok,” katanya setengah berpromosi.

“Berapa anaknya, Bu Nan?” aku menanyainya sesudah merasa lebih nyaman.

“Anakku ada dua Mbak. Dua-duanya laki. Sudah rabi (menikah) semua. Putu-ku (cucu) sudah ada empat.”

“Hah? Bu Nan sudah punya cucu? Memang Bu Nan umur berapa?” Aku bertanya keheranan, sebab kalau kulihat, Bu Nan ini belum terlalu tua.

“Umurku 41, Mbak. Tapi umur tiga belas aku sudah dinikahkan. Umur lima belas tahun aku wes punya anak. Jaman dulu ya gitu itu Mbak, apalagi di Madura.”

“Tiga belas tahun, Bu Nan?” aku menggeleng-geleng tidak percaya.

“Iyo, Mbak. Wong aku ini ngerawat bayi masih ndak bisa kok. Ibuku yang ngurusi anak ku itu! Habis punya anak yang kedua itu aku langsung minta steril.”

Aku keheranan mendengar pernyataannya,” Kenapa kok minta disteril, Bu Nan?”

“Aku ini orang susah Mbak, aku ndak mau anakku jadi orang susah juga. Dua saja sudah cukup, aku sama bojo-ku mampunya ngerawat segitu. Sampeyan lihat ndak di tivi-tivi itu! Wes ndak punya, tapi kok manak (punya anak) terus. Anaknya kan jadi ndak terurus. Mau dikasih makan apa? Ndak ngerti aku!”

Aku semakin takjub, “Anak-anaknya Bu Nan kerja di mana?” Aku tidak bisa menyembunyikan rasa ingin tahuku.

“Anakku yang besar jadi penjahit, punya kios kecil di pasar. Yang kecilan buka usaha servis barang elektronik, tivi-tivi, radio gitu Mbak. Aku sudah seneng, mereka sudah bisa ngidupi keluarga mereka sendiri. Nek aku sendiri, sekarang lagi ngumpul-no duit buat uang muka, mau nyicil BTN daripada aku ngontrak terus, Mbak! Bayar kontrakan sama aja dengan bayar cicilan, kan bagus aku nyicil to Mbak!” Ia berkata penuh semangat. Aku ternganga mendengarkan cerita Bu Nan, pikirannya maju sekali.

“Tapi jaman sekarang susah Mbak. Apa-apa mahal, mana ada bom lagi, di mana itu? Sulawesi sana ya Mbak? Orang seng ngebom-ngebom iku yo jelas-jelas salah! Mana ada uwong mateni uwong (orang membunuh orang) bisa masuk surga? Jadi jangan ngomong orang Jawa, orang Bali, orang Islam, Kristen, Hindu, pokoke kalau sudah membunuh ya berdosa,” ia berceloteh sambil tetap memijat aku.

Dalam hati aku berpikir sendiri. Kalau saja mayoritas rakyat negeriku ini memiliki pikiran maju seperti Bu Nan, meskipun aku yakin ia tidak mengenyam bangku pendidikan yang tinggi, tentunya kesejahteraan makin dekat menjadi kenyataan.

Dari jendela kamar tidurku, aku melihat sosok Bu Nan mengayuh sepedanya keluar dari halaman rumahku. Mudah-mudahan uang muka untuk mencicil BTN bisa cepat dikumpulkannya.
(Mira, ibu rumah tangga, tinggal di Bali)

Sumber : kompas.com

Advertisements
Categories: pijat story (cerita) | Leave a comment

Atasi Kaku Otot dengan Massage Sport

Minggu, 5 Februari 2006
Bila otot sudah terasa pegal-pegal, memang paling enak kalau tubuh dipijat. Beragam teknik ditawarkan para pemijat, mulai dari pijat ala india, pijat oriental, pijat refleksi hingga pijat shiatsu dari Jepang. Namun, Juwaeni–praktisi pijat dari Bandung yang buka praktik di Jalan Wadas Raya, Pancoran Mas, Depok ini menawarkan teknik pijatan yang disebut massage sport atau pijat olahraga.
“Massage Sport ini bisa untuk mengatasi masalah masuk angin, keseleo hingga kaku otot,” kata Juwaeni sambil menegaskan kalau teknik pijat olahraga bukan sesuatu yang baru di Indonesia.
Kendati demikian, Uwen–sapaan akrabnya– meminta agar pijat olahraga itu dilakukan oleh praktisi yang telah berpengalaman, sehingga terasa manfaatnya. Karena pijat olahraga bertujuan mengalirkan darah ke otak dan melemaskan otot untuk menghindari cedera. Teknik itu memicu sistem pengeringan limpatik serta mendorong asam laktat dan racun keluar dari tubuh.
“Pijat olahraga sangat baik untuk mengatasi gangguan di leher, bahu, dan punggung. Pemijatan dilakukan dengan cara menarik dan mengurut bagian tubuh tersebut agar ligamen dan tendon pasien tidak tegang,” ujarnya.
Sejauh pengalaman berpraktik, Uwen hanya menerima pasien dengan gangguan penyakit ringan, bukan penyakit berat. Contohnya keluhan masuk angin, keseleo, kaku otot dan angin duduk. Sedikit bernostalgia, ia beberapa kali menjadi anggota ofisial tim untuk memijat atlet nasional yang berlaga di arena SEA Games.
Tak heran, pelanggannya kebanyakan datang dari kalangan atlet. Namun kini tak sebatas atlet, pelanggannya pun datang dari karyawan biasa hingga eksekutif muda yang menderita kaku otot akibat harus berlama-lama bekerja di ruangan bersuhu dingin alias memakai AC (air conditioning).
“Pasien kantoran sering mengalami kekakuan dan nyeri otot karena terlalu lama berada di dalam ruangan ber-AC. Kondisi ruangan dingin membuat otot menjadi kaku dan ngilu,” ujarnya.
Uwen menjelaskan, teknik pijat olahraga itu tidaklah sulit, hanya menggunakan 3 jari tangan, yakni telunjuk, tengah, dan jari manis. Tekanan berfungsi meningkatkan kemampuan, meringankan sambungan dan memperbaiki lapisan otot.
Ia menjelaskan, untuk gangguan kaku otot di kaki, pertama kali– dengan mengepalkan ketiga jari kanan– dirinya akan mengurut di daerah telapak kaki, Selanjutnya dari telapak kaki, jarinya akan bergerak ke daerah betis, paha, hingga tulang ekor.
Setelah mengurut, langkah berikutnya masih dengan ketiga jari, ia melakukan pemijatan di bagian kaki yang terasa kaku.
“Kekakuan yang terdapat di bagian ini sangatlah berbahaya. Langkah yang dikerjakannya adalah dengan mengurut dan memijat, dimulai dari tulang ekor hingga tulang leher. Gangguan kekakuan otot baik di kaki maupun di punggung biasanya karena peredaran darah tidak sempurna,” paparnya.
Untuk mengatasi otot punggung kaku, Uwen akan melemaskan sistem peredaran darah yang bekerja tidak sempurna dengan memutar-mutarkan jari dari atas ke bawah dilanjutkan ke sisi pinggir kiri dan kanan pinggang.
Katanya, pada saat melakukan pemijatan pada titik atau daerah yang bermasalah, ujung-ujung jarinya akan terasa panas. Demikian pula pasiennya akan merasakan kesakitan. Kegiatan memijat dilakukan Uwen selama 1 jam tanpa henti.
Salah seorang pasien Uwen yakni Panca (35) mengalami gangguan kaku otot dan urat terjepit di tulang belikat. Gangguan tersebut telah dirasakan selama setahun lebih.
“Bila membungkuk, rasanya sakit sekali. Uwen menyuruh saya tengkurap, lalu mengusapkan minyak dari mulai tulang ekor hingga leher. Selanjutnya jari-jemarinya melakukan gerakan memutar dan menekan-nekan.
Setelah sejam diterapi, saya bisa membungkukkan badan kembali tanpa rasa sakit. Hasil lainnya, saya dapat menengokkan kepala ke kiri dan ke kanan dengan sempurna,” tuturnya.
Untuk mengatasi gangguan keseleo atau terkilir, seperti yang sering dialami atlet sepakbola maupun atletik, Uwen hanya mengurut dan memijat dari pergelangan kaki hingga lutut. Gerakannya, dari bawah ke atas, selama satu jam.
Untuk gangguan keseleo atau terkilir, ia biasa membalurkan ramuan beras ketan hitam. “Saya tak pernah menggunakan beras kencur untuk keluhan keseleo atau terkilir, seperti yang dilakukan banyak orang. Beras kencur malah membuat pasien gatal dan panas. Sebagai gantinya, saya menggunakan beras ketan hitam yang sudah ditumbuk untuk membaluri bagian tubuh pasien yang sakit. Insya Allah, tiga hari kemudian, kondisi pasien akan membaik,” katanya.
Pada kasus pusing-pusing dan masuk angin, pijatan dilakukan di daerah tulang belikat. Bagi penderita angin duduk, Uwen tak melakukan pengurutan dan pemijatan, apalagi pengerikan.
Ia hanya menganjurkan pasien menelentangkan kakinya ke depan, duduk santai, sambil menarik napas pelan-pelan. Kemudian minum 1-4 sendok makan air teh manis hangat atau air putih hangat.
“Bagi Anda yang ingin berpergian jauh dan mengendarai mobil, jangan sekali-kali mengonsumsi kopi atau minuman energi. Kopi justru akan memacu detak jantung, Ia menganjurkan bekal 1 liter botol air mineral untuk diminum sepanjang perjalanan,” ujar Uwen memberi tips.
Anjuran lain ialah penggunaan sandal bergerigi atau sandal kesehatan yang berbenjolan-benjol. Sandal harus segera dilepas setelah menempuh jarak 5 km dan digunakan kembali setelah menempuh jarak 5 km berikutnya. Tujuannya, agar sirkulasi darah bekerja stabil.
Sebagai pengganti jasanya, pasien cukup membayar Rp. 50.000 sekali terapi. Uwen juga menerima jasa panggilan artinya mengurut dan memijat di rumah atau di kantor si pasien. (Tri Wahyuni)

Dikutip dari : http://www.suarakarya-online.com

Categories: pijat story (cerita) | 3 Comments

Mantan Mahasiswa ITB Jadi Pemijat Shiatsu

“MENJADI buta, bukanlah akhir dunia,” ujar Hikmat Firdaus (28), “mantan” mahasiswa ITB yang kini menjadi pemijat tunanetra spesialis pijat shiatsu. Lajang tampan lulusan Yayasan Wiyata Guna (YWG) Bandung itu mengaku, tak sedikit pun terbersit dalam benaknya menjadi pemijat.

HIKMAT Firdaus (28), sedang memijat ala “shiatsu” langganannya. Radang selaput otak yang menyerang saraf matanya hingga buta, membuat Hikmat berhenti kuliah dari Teknik Kimia ITB.*SATRYA/”PR”
Sebelumnya, Hikmat bisa menikmati indahnya dunia melalui kedua bola matanya. Namun, jalan hidup yang semula ia rencanakan, berubah total. Semuanya bermula di tahun 2000. Saat itu, Hikmat duduk di semester 6 jurusan Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (TK-ITB).

Saat akan memasuki semester 7, setiap mahasiswa yang sudah memenuhi seluruh SKS, mesti mengambil Kerja Praktik (KP). Biasanya KP dilakukan saat liburan panjang tiga bulan. Hikmat –oleh teman-temannya dipanggil Omeng– memilih perusahaan cat di Surabaya sebagai tempat KP. Ibunya semula melarang pergi jauh-jauh. Tapi, setelah Hikmat menjelaskan, ibunya merelakan ia pergi ke Surabaya.

Di tengah perjalanan dalam kereta api, tepatnya di Daerah Solo, tiba-tiba paru-paru Hikmat terasa sesak. “Anehnya, nggak ada rasa sakit sebelumnya,” tutur Hikmat mengenang. Tak sampai 5 menit, Hikmat muntah darah. Kondisi tubuh Hikmat kian drop.

Ia pun memilih pulang. Sampai di Bandung, ia dibawa ke rumah sakit. Dari diagnosis, Hikmat mengidap penyakit akibat virus. Dia menjalani operasi, dan sempat dinyatakan sembuh. Namun, sang virus lari menyerang otak. Hikmat divonis mengidap radang selaput otak. Penyakit itu menyerang saraf-saraf penting, salah satunya saraf mata. Akibatnya, kualitas pandangan mata Hikmat terus berkurang hingga batas minimal.

Selain itu, terjadi penyumbatan saluran cairan di otak. “Itu membikin kepala saya selalu pusing. Kalau pas kena serangan, sakitnya bukan main. Ngomong pun suka ngaco,” ucap alumni SMAN 4 Bandung itu. Solusi satu-satunya untuk mengeluarkan cairan tersebut, dengan “membuat” saluran dari otak yang disambung ke usus. “Selang” pun dipasang hingga saat ini.

**

SELAMA menderita sakit itu, Hikmat praktis tidak kuliah. Ia mengambil cuti setahun. Namun, karena tidak kunjung sembuh, Hikmat minta cuti satu tahun lagi. “Selama itu, banyak pengobatan alternatif di Pulau Jawa yang sudah saya coba agar bisa sembuh. Tapi, Alhamdulillah, hingga kini belum ada hasilnya. Tuhan masih menguji saya,” ujar Hikmat yang rajin minum jus wortel tiap hari itu.

Karena kelamaan cuti, Hikmat mulai terancam di drop out dari ITB. Pada bulan Oktober 2002, ia mengajukan keluar dari ITB. Sejak itu ia resmi menjadi “mantan” mahasiswa ITB.

Hari demi hari, Hikmat melewatinya banyak berdiam diri di rumah. Jika keluar rumah, hanya saat berobat. Rasa stres pun menghinggapi dirinya. Hingga akhirnya, di tahun 2003, muncul tekad kuat untuk melanjutkan hidup. “Saya bilang dalam hati, inilah saatnya saya berubah. Life goes on and the show must go on. Saya tidak boleh menyerah dengan keadaan,” ucapnya. Hikmat pun membuka lembaran baru dalam hidupnya. Ia memilih belajar di YWG. Hikmat belajar dari awal lagi, seperti membaca dan menulis huruf braille. Dengan cepat Hikmat menguasainya.

Hikmat lalu ikut seleksi kursus pijat shiatsu. “Sebenarnya, bisa juga daftar kuliah di beberapa universitas. Tapi, ngeliat teman-teman senasib yang susah cari kerja meskipun lulus kuliah, membuat saya milih kursus shiatsu,” tuturnya. Hikmat lulus akhir 2004 dengan nilai sangat baik. Ia praktik di YWG. Dari setiap pembayaran konsumen, pembagiannya 40%-60%.

Ia lalu membuka klinik pijat shiatsu di rumah orang tuanya di Jln. Artileri No. 32, Sangkuriang, Cimahi. “Baru buka tiga bulan lalu. Ruangannya mengambil bekas kamar ibu saya,” kata Omeng yang yatim sejak tahun 1997 itu.

Untuk modal, Hikmat merogoh tabungannya Rp 10 juta hasil praktik di YWG. Ia namakan klinik pijatnya dengan “Paradise” yang berasal dari namanya Firdaus. Di klinik itu, ia mengajak rekannya sesama alumni YWG, Aceng Mulyana asal Sukabumi. Dalam sebulan, rata-rata ada 80-90 konsumen yang datang. Untuk sekali pijat, tarifnya Rp 18.000,00.

Hikmat berharap melalui keahliannya itu, ia bisa mandiri.”Saya tidak mau terus menyusahkan orang tua. Sudah banyak biaya yang dikeluarkan orang tua saya selama ini. Dengan memijat, minimal saya bisa membiayai hidup saya sendiri, membantu orang tua atau untuk istri dan anak saya kelak,” tuturnya. (Satrya/”PR”)***

Dikutip dari : http://www.pikiran-rakyat.com

Categories: pijat story (cerita) | 5 Comments

Pengobatan akupunktur tanpa jarum

Pengobatan acupoint relatif aman dan mudah digunakan, serta bisa melancarkan sirkulasi darah. Betapa bahagianya hati Susiana, 50, bisa berjalan lagi tanpa ditopang oleh tongkat yang selama satu setengah tahun menyanggah dirinya ke mana-mana. Malam itu dia menjadi tontonan ratusan peserta Training Acupoint, alat akupunktur tanpa jarum.

Training tersebut disampaikan oleh Abdullah Wira’i, yang sekaligus melakukan terapi acupoint kepada perempuan yang datang dengan kursi roda dan naik ke panggung memakai tongkat itu. Susiana dibaringkan di atas matras dengan suhu tertentu yang bisa mengaktifkan molekur air dalam tubuh dan membersihkan darah, serta menyeimbangkan pH darah.

Sekitar 15 menit dia diterapi dengan pijat dan totok di beberapa titik saraf tubuh dengan alat acupoint. Kemudian dia diminta berdiri dan jalan sendiri. Apa yang terjadi?

Semua mata hadirin menatap ke panggung, dan tercengang melihat Susiana bisa jalan sendiri tanpa tongkat. Padahal sebelumnya kaki sebelah kanannya lumpuh terserang stroke begitu juga dengan tangan kanannya.

Dengan tertatih-tatih, dia melangkah terus berjalan mengelilingi panggung yang ada di sebuah hotel berbintang di Jakarta. Tepuk tangan pun riuh, bahkan ada yang menangis dan terharu melihat pemandangan yang berlangsung baru-baru ini.

“Sangat mengagumkan. Orang stroke menahun, kini bisa berjalan sendiri hanya dalam 15 menit. Padahal dia sudah berobat ke berbagai dokter dan pakar pengobatan alternatif, tapi belum ada hasilnya,” ungkap seorang laki-laki yang sangat antusias melihat hal itu.

Abdullah Wira’I, kelahiran Sragen, Jawa Tengah, 16 Juni 1975, kini dikenal sebagai pelatih dan entrepreneur di bidang kesehatan, terutama akupunktur tanpa jarum dan totok darah. Nama aslinya Edi Sutrisno. Ketika menunaikan ibadah haji pada 2001, oleh seorang syekh di Mekah dia diberi nama baru Abdullah Wira’i. “Saya suka nama itu,” ujar laki-laki yang akrab disapa dengan Pak Edi ini.

Kepiawaian Edi dalam memijat sudah ada sejak kecil, tapi dia tidak menyadarinya. Dia bisa membantu orang yang lumpuh total bertahun-tahun, sembuh kembali. “Semua ini berkat bantuan Allah SWT. Saya hanya mediator saja,” ujarnya merendah.

Edi bukan hanya mampu membantu orang terkena stroke, tapi juga bisa mengobati penderita
kanker, tumor, diabetes, kelelahan, stres, dan berbagai macam penyakit lainnya termasuk pecandu narkoba.

Sudah banyak orang yang dibantunya mulai dari rakyat biasa, sampai gubernur, artis, dan pengusaha. Sebut saja nama Gubernur Gorontalo Fadel Mohamad, artis terkenal Didi Petet, pengusaha Trisulo, keluarga Sultan Brunai Darussalam, dan lainnya.

Lumpuh saat balita
Anak kesepuluh dari 13 bersaudara ini, semasa bayi sampai usia empat tahun adalah balita sehat dan ceria. Suatu hari dia terserang demam panas tinggi. Oleh ibunya dia dibawa ke seorang mantri. “Mantri itu menyuntik saya. Setelah sampai di rumah, saya mengalami lumpuh total. Orangtua saya panik dan tidak bisa menerima keadaan itu. Mereka lalu membawa saya berobat ke mana-mana,” ungkap Edi yang setahun lebih jalan merangkak.

Setelah berobat dan menjalani berbagai terapi, akhirnya Edi bisa berdiri dan berjalan kembali, tapi harus dibantu oleh tongkat karena kaki kirinya mengecil dan tidak kuat menopang tubuhnya (pincang). Sebagai orang yang tidak normal, Edi banyak mendapat ledekan, cemoohan, dan perlakuan yang merendahkan dirinya.

Pada usia delapan tahun, kenang Edi, ada tetangganya minta dipijat karena mengalami sakit tulang belakang. “Saya lalu memijat dia selama satu jam. Eh, Bapak itu bilang sakitnya hilang. Ketika di SMP ada teman keseleo seusai main bola, kakinya bengkak dan sakit. Lalu saya pijat sebentar, kakinya langsung baik.”

Edi merasa benar-benar mempunyai ilmu mengobati orang, setelah dia berhasil membantu dokter kena stroke. “Dia lumpuh dan sulit bicara. Dua bulan saya merawatnya, akhirnya dia sembuh dan bisa berpraktik lagi. Waktu itu saya masih kelas dua SMA. Saya baru yakin bisa membantu kesembuhan orang lain,” ungkap sarjana sastra Inggris dari sebuah universitas di Yogya ini.

Ada berbagai komunitas yang diikutinya, di antaranya sejak 1999 dia menjadi Relawan Club Stroke RS Bethesda Yogyakarta, mengikuti Konferensi Fisioterapi dan workshop se-Asia Tenggara. Dia juga belajar totok darah dengan profesor dari Jepang, kursus akupuntur di Singapura dan Kuala Lumpur, serta pernah membuka praktik di Mekah. Dia melakukan studi banding, praktik dan ikut training acupoint and matras di Brunai Darussalam selama satu bulan.

“Acupoint ini bagus, aman dan mudah digunakan. Bisa melancarkan sirkulasi darah. Begitu juga dengan matras, rasanya cocok bila dikombinasikan dengan ilmu pijat yang saya miliki,” tutur Edi yang dari kecil selalu bekerja keras untuk menggapai cita-citanya. Menurut dia, alat dari China ini dibuat dengan teknologi tinggi memiliki efek untuk mengorek meridian dan mengaktifkan kolateral, serta meningkatkan mikro sirkulasi. Peralatan 3 in 1 ini, katanya, dirancang berdasarkan penelitian tentang terapi jarum sendok metode Sembilan Jarum China kuno, menggabungkan sinar magnetis energi tinggi modern dan denyut-denyut listrik.
Jika ujung magnetisnya ditekan pada titik akupunktur, ujarnya, fokus sinar magnetis energi tinggi akan bekerja melalui kulit dan denyut listrik, sehingga dapat mengorek meridian dan kolateral, mengatur fungsi qi dan darah, memperlancar mikro sirkulasi pusat penyakit, dan mencegah penyakit, serta memelihara kesehatan dan kecantikan.

Edi menuturkan hal yang membanggakan baginya adalah ketika dia diundang oleh para dokter di Kualalumpur, sebagai pembicara dalam sebuah seminar stroke di Konferensi Internasional Tianshi yang diadakan di negeri jiran itu pada 2004.

Kini dia sering terbang ke berbagai daerah bahkan luar negeri, diundang oleh perguruan tinggi, instansi pemerintah dan swasta, memberi ceramah di depan kepala dinas dan awak medis tentang terapi stroke dan mengatasi berbagai penyakit lainnya dengan pijat dan akupunktur. (yuli.saleh@bisnis.co.id)

(Oleh Rahmayulis Saleh, Wartawan Bisnis Indonesia)

Sumber: Bisnis Indonesia

Categories: pijat story (cerita) | 6 Comments

Gangguan saraf kepala

Kaus oblong dan sarung, sisa kebiasaan semasa tinggal di pedesaan, agaknya masih melekat lama. Pada tahun 1980-an, Dewi Wilutomo, sahabat Mamiek (Siti Hutami Endang Adiningsih) semasa SMP dan SMA Sancta Ursula, jika menyambangi rumah temannya itu di Cendana, sering memergoki Soeharto di ruang dalam tengah membaca koran sore sambil minum teh. Tentunya bersarung dan berkaus oblong.

“Selamat sore, Om,” sapa Dewi. Laiknya bapak-bapak lain, Soeharto bereaksi lalu tersenyum ramah, bahkan menyilakan Dewi langsung menemui Mamiek.

Kaus oblong dan sarung, juga ditemui Nasori, di Cendana. Ayah dua anak asal Pekalongan ini hanyalah ‘tukang pijat’. Ia masuk Cendana sekitar tahun 1993, dikenalkan oleh mantan Kapolri Anton Sudjarwo, kepada almarhumah Ibu Tien.

Semula, ia sering memijat Ibu Tien, tiga minggu sekali. Pria 59 tahun yang aslinya paranormal ini, dijemput Paspampres berpakaian sipil ke rumah kontrakannya di Pademangan, Rajawali. Pernah, saat memenuhi panggilan Anton Sudjarwo, ia dijemput Provoost memakai jip. Para tetangga kaget, mengira Nasori ditangkap.

Setelah beberapa lama menangani ibu negara, atas saran Bu Tien, Soeharto pun tertarik minta dipijat, sebulan sekali.

Suatu hari, Nasori dipanggil khusus oleh Soeharto, yang waktu itu merasa kepalanya sakit. Sore itu, lelaki tegap berpenampilan sederhana itu memasuki Cendana, masuk ke ruang dalam. Soeharto sudah menunggu di kamarnya.

Ketika membuka pintu kamar, Soeharto tengah duduk di bibir tempat tidur berkaus oblong dan bersarung. “Monggo, Pak Ansori,” begitu Soeharto menyapanya. Sebentar kemudian ia melepas kaus dan sarung, tinggal celana pendek putih lalu berbaring tengkurap.

Untuk memperlicin gerak jari saat memijat, Nasori biasa menggunakan baby oil. Tapi Bu Tien biasa menyediakan minyak dari Arab, dalam kemasan kaleng, beraroma harum.

Setelah berdoa sejenak, Nasori melakukan pendeteksian pada telapak kaki dan betis, dengan pemijatan. Jika ada organ tubuh yang sakit, Soeharto mengaduh kesakitan, seperti juga pasien Nasori lainnya. Tapi sakit hilang setelah dinetralisasi dengan urut jari yang dilambari tenaga dalam.

Dari deteksi awal itu, Nasori melihat, Soeharto memiliki bakat penyakit rematik di sekujur tubuhnya. Yang agak berat, ada gangguan pada syaraf kepala.

Urut dan pijat dimulai dari telapak kaki, betis, naik ke paha, ke punggung, hingga kepala. Lalu terlentang, dada diurut, berikut bagian perut. Nasori merasakan, otot Soeharto tidak keras lagi, sudah agak kendor.

Untuk mencairkan suasana, seperti juga Bu Tien, Soeharto membuka obrolan. Hanya, dalam bahasa jawa ngoko, bukan kromo inggil. “Saya ditanya, asal dari mana. Pak Harto juga cerita, beliau dulu orang desa biasa. Bapaknya ulu-ulu, tukang mengalirkan air ke sawah masyarakat. Waktu bujangan, Pak Harto ikut mencangkul sawah,” cerita Nasori.

Ia melanjutkan, Pak Harto dulunya orang susah, “Katanya, ‘Demi Allah, saya dulu juga orang sengsara. Bertahun-tahun makan gaplek, ketiwul, dan ketela’. Tapi pada saya beliau tak pernah membicarakan politik atau situasi negara.”

Setelah dipijat selama sejam, “Pak Harto merasakan badannya enteng, sakit kepalanya hilang. Tapi saya kasih pantangan, jangan makan kangkung dan es.”

Setiap kali memijat istri orang, Nasori selalu meminta suaminya menemani di kamar. Ketika akan menggarap Bu Tien pun ia minta izin Soeharto, “Ndak apa-apa, Pak Ansori. Saya sudah beri izin. Bu Tien sudah ngomong kok. Sudah ngurut saja sana,” Nasori menirukan kata-kata Soeharto.

Selesai urut Soeharto, Nasori biasa diberi Rp 100.000,-. Itupun Bu Tien yang memberi. Kalau Bu Tien sendiri yang diurut, Nasori selalu diselipi uang Rp 500.000,-

Karena pasien istimewa ini bersikap sopan, tidak sombong, dan tidak memperlihatkan bahwa dirinya presiden, Nasori tidak membedakannya dengan pasien lain, “Kalau saya kasih urut dalam, Pak Harto pun melintir kesakitan, he he he ….”

Dikutip dari : http://www.intisari-online.com

Categories: pijat story (cerita) | Leave a comment

Teknik Sentuh Agar Sehat

Alternatif Mon, 01 Oct 2007 13:31:00 WIB
Mencegah lebih baik daripada mengobati, demikian bunyi sebuah pepatah lama. Hal ini berlaku pada penanganan kesehatan dengan teknik Touch for Health (TFH), suatu metode pencegahan dan penyembuhan secara holistik.

TFH menggabungkan pengetahuan chiropractic, akupresur, ilmu gizi, dan kinesiologi. Dalam praktik pengobatannya, TFH menyeimbangkan energi dalam tubuh dan merangsang daya penyembuhan dari dalam diri sendiri. TFH menggunakan otot sebagai mekanisme bio-feedback (umpan balik biologis).

Menurut Elisabeth Demuth, praktisi dan instruktur kinesiologi, brain gym, dan TFH, otot adalah tempat berlangsungnya interaksi antara tubuh dan pikiran. Ia mencontohkan, “Ketegangan yang Anda rasakan di leher sewaktu merasa tertekan bisa saja menetap walaupun masalah sudah terselesaikan. Itu karena situasi tersebut atau situasi sejenis bisa saja mengaktivasi kembali masalah tegang leher sebelumnya. Sebab, otot adalah bagian luar dari pikiran yang dapat diperlihatkan.”

Metode TFH tidak bekerja pada otot yang kaku, tetapi justru untuk menguatkan otot yang lemah. Bila kekakuan tetap bertahan, diperlukan upaya melemaskan atau menenangkan otot yang kaku. Dengan menggunakan kinesiologi terapan, yaitu teknik keseimbangan otot, Elisabeth menguji kelemahan otot spesifik kemudian memperbaikinya.

Tubuh Koheren

Elis, demikian terapis itu biasa disapa, mengingatkan bahwa TFH tidak hanya mengobati otot semata. Menurutnya, tubuh adalah suatu kesatuan yang koheren, dengan sistem dan fungsinya yang berbeda-beda.

Beberapa otot berhubungan dengan sistem organ tertentu karena otot-otot tersebut menggunakan saluran limfa atau berada pada meridian akupuntur yang sama. Bila fungsi otot itu diperbaiki dengan memulihkan aliran energi pada sistem tersebut, tindakan itu juga akan memperbaiki organ yang menggunakan sistem yang sama.

“Meski demikian, TFH tidak mengobati organ atau penyakit atau gejala itu sendiri. TFH hanya memperbaiki dan menguatkan saluran energi agar tubuh mampu mengobati diri sendiri,” ujarnya.

Untuk itulah, Elis dengan teknik TFH mencoba untuk berpikir tentang tubuh seutuhnya, sebagai satu kesatuan. Dicontohkan, bila ada otot yang tegang pada pinggul, dari otot pasangannya yang melemah akan muncul gangguan pada pinggul akibat ketegangan yang menghambat gerakan. Gangguan itu akan memberikan tingkat ketegangan yang berbeda pada kaki. Dan bila kaki berada pada posisi berbeda, akan memberikan ketegangan pada kelompok otot yang lain.

Hal ini akan mengakibatkan perubahan pada sikap tubuh secara umum, yang selanjutnya akan memengaruhi posisi organ internal. “Akibatnya, akan terjadi hambatan pada gizi organ dan perubahan pada ekskresi dan fungsi hormonal. Keseimbangan kimia dan
psikologi akan berubah, yang bakal memengaruhi sel-sel dalam tubuh,” katanya.

Ditambahkan, pada saat tubuh dan pikiran terganggu, seseorang akan mengalami perbedaan dalam pikir dan rasa. Demikian juga dengan sikap tubuh. Selanjutnya akan terjadi ketegangan baru di bagian tubuh lain, sehingga siklus akan berulang kembali. Jadi, katanya, apa pun yang kita perbuat pasti akan memengaruhi bagian tubuh lain.

Uji Kekuatan Otot

TFH, kata Elis, memberi solusi yang sederhana, alami, efektif, dan murah. Hanya dengan dua tangan, Anda sudah memperoleh penyeimbangan energi dan mengaktifkan daya sembuh dari dalam diri sendiri.

Namun, perlu dipahami juga, TFH tidak melakukan diagnosis, memberikan resep, atau merawat penyakit tertentu, melainkan hanya menyeimbangkan energi tubuh. Sebab, menurut Elis, kenyataannya tidak ada penyembuh yang menyembuhkan, yang ada hanyalah tubuh yang melakukan proses penyembuhan.

“Setiap sel mengandung cetak biru yang lengkap untuk membangun seluruh tubuh. Semua sel dalam tubuh, kecuali sel dalam sistem saraf pusat, berganti setiap 7 tahun.

Beberapa peneliti malah punya keyakinan pergantian sel jauh lebih cepat dari 7 tahun. Contohnya, sel saluran usus berganti tiap 36 jam. Karena itu, tak ada satu hal pun yang melebihi kemampuan tubuh untuk menyembuhkan dirinya sendiri,” paparnya.

Pada awal penyeimbangan, Elis menggunakan tes otot, yang ditujukan sekali untuk menentukan kelancaran energi dalam tubuh. Caranya, tangan kirinya memegang tangan kanan pasien, dan tangan kanannya memegang titik-titik meridian.

Ada 14 otot yang dites. Masing-masing berhubungan dengan salah satu meridian. Tes pertama dilakukan pada otot sentral. Kemudian berturut-turut otot teres mayor, lambung, limpa dan pankreas, jantung, usus kecil, kandung kemih, ginjal, perikardium, san ciao, deltoideus anterior, hati, paru-paru, dan usus besar.

Bila tes otot menunjukkan otot lemah, Elis akan melakukan penguatan. Begitu seterusnya sampai diyakini bahwa otot yang telah dikuatkan tidak lagi mengalami kelemahan.

Banyak Minum

Pada saat menguatkan otot yang lemah, Elis biasa menggunakan salah satu atau kombinasi dari teknik refleks spinal (digunakan bila otot kiri dan kanan lemah), titik pijat neurolimfatis, titik neurovaskular, meridian, titik tekan akupresur, dan origin insersio.

Elis mencontohkan, kombinasi refieks spinal harus dilakukan bila ditemukan kelemahan otot pada kedua sisi tubuh. Bila otot yang lemah hanya satu sisi saja, penguatannya dimulai dengan memijat titik neurolimpatis di dada dan punggung. Titik pijat ini berfungsi sebagai pemutus aliran atau sekering yang akan menutup bila sistem kelebihan beban.

Saat praktik, Elis menasihati pasien untuk mengonsumsi makanan sealami mungkin. Makanan segar adalah yang terbaik. Aturan sederhananya, hanya mengonsumsi makanan utuh, hindari makanan yang diproses terlebih dahulu atau diolah dalam bentuk lain.

Elis juga menganjurkan pasien minum air sebanyak mungkin. Orang sehat harus minum sekurang-kurangnya 30 cc untuk tiap kg berat badan, dan dilipatgandakan pada saat stres atau sakit. Contohnya, orang sehat dengan berat badan 50 kg, memerlukan 1,5
liter air tiap hari. Bila sakit, stres, atau berkeringat banyak, ia membutuhkan sampai 3 liter air sehari.

Dari Perawat Hingga Pelajar

Adalah Johanna Elisabeth Demuth, orang yang mengembangkan Touch for Health (TFH) di Indonesia, khususnya di Tomohon, Sulawesi Utara. Ia belajar langsung dari penemu TFH, Dr. john Thie, DC, di California, Amerika Serikat.

Awalnya perempuan kelahiran Swiss, 3 Desember 1951 ini bidan yang bekerja di Tomohon, Sulewesi Utara. Pekerjaan itu dilakoni dari tahun 1980 hingga 1994. selanjutnya tahun 1994 hingga sekarang, Elis menjadi instruktur pelatihan kinesiologi, brain gym (senam otak), dan TFH di Indonesia.

Di awal pekejaannya, sambil memberikan pelayanan kebidanan di wilayah Indonesia bagian tengah itu, ia banyak menimba ilmu pengobatan. Salah satu yang dipelajarinya adalah teknik kinesiologi, ilmu mengaktifkan otot dengan menggunakan teknik tes otot untuk menentukan kebutuhan dan keberhasilan penanganan.

Hal ini dilakukan saat ia pulang ke kampung halamannya di Swiss. Ia kursus kinesiologi, di Zurich, Swiss, tahun 1993, dilanjutkan belajar TFH tahun 1994.

Kata lulusan perawat dan bidan di Universitas Zurich, Swiss ini, TFH sangat cocok untuk segala umur. Ia bercita-cita mneyebarkan teknik ini agar banyak orang tidak perlu ke rumah sakit atau ke dokter.”Kalau bisa ditangani sedini mungkin kenapa tidak?” kata perempuan yang masih melajang ini.

Cita-cita Elis cukup masuk akal. Sebab, teknik TFH atau yang di Indonesiakan sebagai teknik sentuh agar sehat ini merupakan teknik deteksi badan sekaligus penyembuhan. Kalau badan Anda kekurangan air misalnya, Anda bisa mengecek sendiri kemudian mengatasinya dengan minum air.

Sejak mengenalkan teknik ini tahun 1994, permintaan mengajar terus-menerus mengalir. Manado, Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, dan beberapa kota di Kalimantan sudah ia jelajahi, karena ingin berbagi ilmu TFH ini. Untuk memayungi kegiatannya ini ia mendirikan Yayasan Kinesiologi Indonesia pada 8 Agustus 2002.

anda yang ingin mengikuti pelatihan TFH, tunggu saja pengumumannya karena klinik GHS segera akan menyelenggarakannya untuk Anda.

Sumber: Senior

Categories: pijat story (cerita) | 2 Comments

Undang Pengusaha Panti Pijat, Hilangkan Sindroma

Dalam HUT ke-7 yang digelar Dharma Wanita ITS, Kamis (14/12) kemarin, menghadirkan pengusaha dan pemilik panti pijat “Bersih Sehat” dari Jakarta, Ir Hariono, yang terkenal sukses. Di sini dibeberkan kiat berwirausaha dan menghilangkan sindromanya.
Graha, ITS Online – Berwirausaha merupakan salah satu cara membuka lapangan kerja bagi orang lain. Namun, tak semua orang mampu dan mau menjalaninya. Entah karena mereka takut atau karena tidak tahu resepnya. Begitulah yang dituturkan Ir Hariono, pengusaha panti pijat beken di Jakarta. ”Cara menjadi pengusaha itu yang pertama harus mempunyai pola pikir enterpreneur, sikap mental positif dan tidak takut gagal,” jelas Haryono dalam ceramahnya.

Terkadang, imbuh Hariono, yang menjadi sindroma bagi seseorang untuk mulai berwirausaha adalah harus punya modal dulu baru berbisnis. Selain itu, juga ada anggapan harus punya kantor, perusahaan dan lainnya. Tapi, menurut orang yang sukses dalam bisnis tempat pijet dan beberapa restoran di Jakarta itu, justru yang faktor tersebut bukanlah yang terpenting. “Sikap mental positif dalam berwirausaha itu adalah faktor paling dominan. Dan faktor lain seperti modal, kantor dan yang lain akan ikut dengan sendirinya atau artinya dapat dikendalikan,” paparnya.

Hariono mengaku terus terang tentang usaha yang dilakukannya dengan membuka panti pijat, karena pijat merupakan kesukannya. “Tapi ibu-ibu jangan curiga dulu dengan usaha saya ini, karena panti pijat yang saya miliki adalah panti pijat yang sesungguhnya, yang tanpa diembel-embeli dengan kegiatan prostitusi terselubung,” kata alumni dari Jurusan Teknik Sipil ITB ini.

Diungkapkan Hariono, kini usaha panti pijatnya telah memiliki lebih dari 27 cabang di Jakarta dan merupakan satu-satunya panti pijat yang memperoleh sertifikat ISO dan mempekerjakan lebih dari 500 orang. “Tentu usaha itu terus berkembang dan tidak hanya panti pijat, tapi juga rumah makan, salon, bimbingan belajar, dan juga kontraktor. Karena itu saya selalu bilang jangan takut untuk memulai berusaha, untuk menjadi enterpreuner dengan mempertimbangkan sesuatu yang memiliki unsur kebaruan atau keunikan,” tandasnya.

Dulu, kata Hariono, saat memulai usaha panti pijat, bukan tidak ada hambatan yang dihadapi, karena memang usaha itu selalu diidentikkan pada kegiatan prostitusi terselubung. ”Tapi saya melihat itu satu kelemahannya, dan saya membuat panti pijat dengan meniadakan kelemahan itu. Saya membuat panti pijat yang benar-benar bersih dan sehat, yang memang hanya orang ingin sehat sajalah yang akan datang ke panti pijat milik saya,” ujarnya sembari berpromosi.

Hariono juga memberikan motivasi, mulailah berusaha dengan skala yang kecil terlebih dahulu, dengan sesuatu yang mungkin tidak dimiliki orang lain. ”Hindari berusaha hanya dengan mencontek kesuksesan orang lain tanpa ada konsep yang matang dan jelas. Saat saya membuka panti pijat meski dicemooh, saya terus berjalan karena saya punya konsep yang matang dan jelas, bahwa panti pijat saya adalah benar-benar bersih,” saran Hariono yang kini onzet tempat pijatnya telah menghasilkan miliaran rupiah. (humas/m7/th@)

Dikutip dari : ww.its.ac.id

Categories: pijat story (cerita) | Leave a comment

Pijat Refleksi Aroma Terapi

TINGGINYA aktivitas kerja menyebabkan orang mudah stres dan lekas capek. Kondisi ini berakibat pada menurunnya potensi diri, sehingga akan berpengaruh pada turunnya produktivitas kerja, keceriaan hilang, wajah nampak lesu, dan lelah.

Untuk mengatasinya diperlukan istirahat cukup dan terapi kesehatan. Dan terapi refleksi kaki dan tangan ini sebagai salah satu solusi. Cara ini sudah terbukti sejak ribuan tahun lalu, seperti yang diajarkan para tabib dari bangsa China, India, Jepang, dan Arab.

Pada zaman Romawi dan Yunani, para dokter menganggap pijat sebagai bagian penting dalam proses penyembuhan dan menghilangkan rasa sakit. Sentuhan tangan memiliki keajaiban tersendiri. Setiap manusia membutuhkan sentuhan itu untuk merangsang saraf agar kembali seperti semula.

Melihat kebutuhan penting itu, kini banyak tempat menawarkan fasilitas terapi refleksi dan relaksasi. Shizuka, misalnya. Tempat pijat yang membuka praktik di Java Supermall lantai semi basement ini memberikan pengobatan cukup dengan sentuhan tangan dan aroma terapi yang dapat membangkitkan saraf kembali bugar.

Tempat itu dilengkapi fasilitas memadai, seperti 5 kursi/balai-balai tempat pemijatan nyaman, ber-AC, dan pemijat berpengalaman. “Walaupun letaknya di mal namun tempat kami cukup tenang, sehingga pengunjung basa santai menikmati pijatan refleksi yang kami lakukan,” tutur Peni, pemilik Shizuka.

Tarif

Paket pijat refleksi di Shizuka dipatok tarif Rp 40.000 selama satu jam. Setiap pelanggan Shizuka akan mendapat kartu stamp untuk digunakan sebagai bonus pemijatan setelah 10 kali pijat di tempat itu.

Pemijatannya dilakukan secara refleksi dengan krim dan olesan minyak aroma terapi. Bagian tubuh yang dipijat, yaitu kaki, tangan, dan punggung. Sebab daerah ini yang banyak berhubungan dengan saraf yang bisa langsung menembus ke pusat sakit.

Manfaat yang dirasakan dari pijat refleksi dan aroma terapi, antara lain meredakan beberapa penyakit, baik fisik maupun mental. Dapat pula memperlancar peredaran darah, mencegah dan menyembuhkan kolesterol, hipertensi, asam urat, ginjal, jantung, sakit kepala, susah tidur, stress, sering letih, kurang semangat, lesu, dan menambah gairah.

Peni, menambahkan manfaat lainnya dari terapi sentuhan dan terapi wewangian tersebut bila dinikmati berbarengan, yaitu mempelancar peredaran darah, menyehatkan otot, menawarkan racun, dan membebaskan enegi yang terperangkap akibat tegangnya otot. Sedangkan wewangian memicu rasa menyenangkan dan sehat. Minyak sari itu akan meresap ke dalam kulit selagi dipijat cukup tinggi.

Selama pemijatan dilakukan pelanggan juga dapat menikmati alunan musik sebagai relaksasi, sehingga dapat mengurangi ketegangan otot tubuh dan memperlancar sirkulasi darah. (ega-33)

Dikutip dari : http://www.suaramerdeka.com

Categories: pijat story (cerita) | Tags: | 4 Comments

Shiatsu Memulihkan Saraf Terjepit

Alternatif Mon, 25 Jun 2007 13:30:00 WIB Terapi shiatsu menenangkan sistem saraf somatik (saraf sadar} dan sistem saraf otonom (saraf tidak sadar). Terapi ini sukses mengobati gangguan saraf terjepit yang dialami Herry dan Sofyan.Januari 1991, Herry Suhartono (56) mengalami gangguan saraf terjepit. Saat itu ia sedang membantu tukang bangunan mengangkat balok kayu ukuran 8 x 12 meter.”Saat angkatan pertama, di punggung saya terdengar suara ‘kretek’. Tubuh terasa nyeri dan sakit sekali. Saya tak lagi bisa berdiri, apalagi bergerak secara normal. Saya lalu dibawa keluarga berobat pada seorang ahli patah tulang di daerah Sukabumi. Selama satu jam saya mendapat perawatan. Hasiinya, tubuh dapat digerakkan dan kembali ke posisi semula,” papar Herry.

Empat tahun kemudian, Herry kembali mengalami gangguan saraf. Saat sedang mengendarai mobil, tiba-tiba kaki kanannya tak bisa digerakkan untuk menginjak pedal rem. Mobilnya baru bisa berhenti setelah menabrak kendaraan yang berada di depannya.

Ketika itu ia merasa kedua kakinya panas dan susah digerakkan. Dari pinggang hingga betis terasa seperti ditarik-tarik. Anehnya, beberapa jam kemudian gangguannya hilang.

“Kejadian itu tak cuma sekali terjadi. Lebih dari 3 kali saya menabrak mobil gara-gara kaki tak mampu digerakkan untuk menginjak pedal rem. Ini membuat saya harus bolak-balik berurusan dengan polisi dan bengkel mobil. Gangguan ini datang dan pergi. Akhirnya, awal tahun 1995 saya pergi pada seorang dokter spesialis bedah tulang di Bogor,” tutur bapak dua anak ini.

Tiga Kapal

Dari pemeriksaan dokter, Herry dinyatakan mengalami gangguan saraf terjepit di lumbal nomor 4. la dianjurkan untuk menjalani operasi di daerah tulang ekor. Karena takut, ia tidak menjalani anjuran itu.

Sejak saat itu, pria sumringah ini hanya mengonsumsi obat antinyeri saraf. Ia pun mulai mencari pengobatan alternatif. Ia mengaku berbagai praktisi pengobatan pernah didatangi, dari Bogor, Sukabumi, Jakarta, hingga Cirebon. Mulai dari yang menggunakan terapi air putih, pijat, pemanasan, fisioterapi, hingga penyinaran dan terapi diet, pernah dijalani.

Sayangnya, semua itu belum membuahkan hasil maksimal, bahkan sakitnya makin sering kambuh. Selama empat tahun ia tak lagi bisa menggerakkan anggota tubuh.

“Untuk mandi dan buang air mesti dipapah. Makan dan minum hanya bisa dilakukan d atas tempat tidur. Ke mana-mana harus pakai kursi roda. Sudah tak terhitung biaya yang keluar. Tiga kapal pengangkut ikan, masing-masing seberat 580 ton, ikut terjual hanya untuk biaya pengobatan,” kenang mantan eksportir ikan ke Jepang, yang pernah mempunyai karyawan 150 orang ini.

Beruntung, tahun 2000 ia bertemu dengan Nina Radinah Taryaman di Gadog, Puncak, Bogor. Setelah diterapi shiatsu, kondisinya berangsur pulih.

Ceritanya, tiga kali ditangani Oma, demikian Herry memanggil Nina, ia sudah bisa makan sendiri di meja makan. Sebulan diterapi shiatsu, ia sudah bisa mengemudikan mobil sendiri. Hingga kini, gangguan saraf terjepit tak lagi menyerang tubuhnya.

Tiga Bulan

Pengalaman serupa dialami Sofyan (45), karyawan perusahaan Indosement. Menurut Sofyan, gangguan saraf terjepit di daerah tulang belakang dialami ketika sedang bertanding tenis meja di kantornya, media Agustus 2005,

“Saya salah langkah saat mengembalikan bola pingpong lawan. Tiba-tiba saja tubuh ini kaku dan sakit untuk digerakkan. Selama tiga bulan saya berbaring di rumah sakit. Keluar dari rumah sakit, tubuh terasa belum normal. Bila digerakkan ke kiri dan kanan masih sakit,” kenang Sofyan.

Beruntung Sofyan mengenal Nina di Klinik GHS. Perawatan shiatsu yang diberikan Nina mengembalikan kelenturan saraf-saraf di tulang belakangnya. Seperti halnya Herry, ia tak lagi mengalami sakit. Hingga kini Sofyan masih sering diterapi shiatsu.

Naluri Cegah Penyakit

Shiatsu, kata Nina Radinah Taryaman, berasal dari kata shi (jari) dan atzu (pijat).” Shiatsu yang dipraktikkan selama ini adalah teknik pijat yang dikembangkan Tokujiro Namikoshi, pendiri Nippon Shiatzu Shool di Jepang. Menurut teori shiatsu, titik utama dalam pemijatan mempunyai hubungan dengan titik bagian tubuh lainnya.

Dengan demikian, ketika memijat titik-titik utama akan terjadi kesembuhan pada bagian-bagian yang sakit,” ungkap pemilik pusat pendidikan dan pelatihan pengobatan tradisional di kawasan Gadog, Puncak, Ciawi, Bogor ini.

Pemijatan dengan shiatsu mempengaruhi fungsi seluruh tubuh, dari kelenjar hingga otot dan organ bagian dalam tubuh. Dijabarkan ketua II Asosiasi Penyembuh Alternatif Indonesia (Apali) ini, shiatsu bekerja atas dasar naluri manusia untuk mencegah penyakit.

Saat diterapi, tubuh akan dibuat sedemikian rupa, sehinnga gejala penyakit yang membutuhkan perawatan dokter tak jadi muncul.
Secara khusus, gangguan saraf terjepit bisa terjadi di berbagai tempat pada tubuh. Ada sejumlah titik perawatan untuk menyembuhkan gangguan saraf terjepit dengan menggunakan teknik shiatsu.

Hal yang paling baik, kata penghusada yang berpraktik di Klinik GHS ini, untuk gangguan saraf terjepit, lakukan pemijatan terlebih dahulu di titik-titik dekat daerah yang sakit. Setelah itu, pijat titik-titik lain yang lebih jauh dari lokasi yang sakit. Namun, pada praktiknya, pijatan di daerah yang lebih jauh dari sumber sakit justru lebih efektif dibandingkan dengan titik-titik yang dekat dengan lokasi sakit.

Berikut gambaran langkah-langkah untuk mengatasi gangguan saraf terjepit seperti yang dialami Herry dan Sofyan. Dengan menggunakan ibu jari atau tiga jari (manis, tengah dan telunjuk) dilakukan penekanan-penekanan awal.

Pertama, pijat di semua titik daerah wajah dan kepala. Dimulai dari titik ubun-ubun, lalu turun tiga titik di belakang kepala. Pemijatan pada lokasi ini diulang sebanyak tiga kali, masing-masing tiga sampai lima detik.

“Selanjutnya, selama 3 detik dilakukan pemijatan pada daerah kedua sisi belakang leher. Lalu pemijatan diarahkan pada bagian atas bahu kiri dan kanan, serta lima titik antara tulang punggung dan belikat. Turun kebawah, pijat 6 titik antara daerah punggung dan pinggang. Setelah itu pijatan dilakukan pada titik-titik kedua disisi luar pinggul.

Pijatan diakhiri di daerah ketiak, lalu pangkal lengan, dada dan perut. Untuk menyembuhkan gangguan saraf terjepit, terapi shiatsu bisa dilakukan seminggu dua kali,”kata perempuan kelahiran Bandung, 30 Agustus 1934 ini.

Alamat Praktek:
Klinik GHS
Jl. Palmerah Barat 33-37
Jakarta Pusat
telp. (021) 536778353
Ext. 4368

Sumber: Senior

Categories: pijat story (cerita) | 13 Comments

Pengunjung Masjid Istiqlal Dapatkan Layanan Pijat Refleksi

Jakarta-RoL — Selama bulan puasa, pengunjung Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, mendapatkan pelayanan pijat refleksi dari tukang pijat yang membuka praktik di kompleks masjid tersebut.

Semula para tukang pijat itu berpraktik di areal Monumen Nasional (Monas) setiap Sabtu dan Minggu, namun seiring memasuki bulan puasa mereka memindahkan sementara lokasi praktiknya ke Masjid Istiqlal.

Salah seorang tukang pijat asal Batusangkar, Sumbar, Yasmanto (38), di Jakarta, Kamis (20/9), mengatakan, dirinya memang sengaja membuka praktik selama puasa ini di Masjid Istiqlal.

“Setidaknya pengunjung masjid yang merasa nyeri badan dan masuk angin, akan dilayani oleh kita. Tujuan kita itu baik, untuk menolong mereka yang tengah beribadah puasa,” katanya.

Demikian pula halnya dengan biaya pemijatan, dirinya tidak mematok biayanya asalkan jamaah yang sedang berpuasa dapat segar kembali badannya melalui pijat refleksi.

“Saya tidak mematok biaya, tapi membiarkan mereka yang dipijat untuk seikhlasnya memberikan uang yang dimilikinya,” katanya.

Bapak beranak dua anak ini, mengaku sejak membuka praktik pada bulan puasa di Masjid Istiqlal, paling tidak setiap hari mendapatkan antara tiga sampai empat orang konsumen.

“Kalau bukan bulan puasa, saya praktik pijat setiap Sabtu dan Minggu saja, itu pun paling banyak konsumen yang minta dipijat antara satu sampai dua orang saja,” katanya.

Ia mengaku dirinya menjalani praktik pijat pada bulan puasa di Masjid Istiqlal kali ini, merupakan yang kedua kalinya sejak 2005.

Hal senada dikatakan pemijat lainnya, Taufik (28), bahwa saat ini konsumennya adalah mereka yang habis beribadah atau tengah beristirahat menunggu bedug buka puasa. “Mungkin konsumen ingin menikmati ngabuburit dengan dipijat,” katanya.

Sementara itu, salah seorang jamaah Masjid Istiqlal, Anjar, mengatakan, kehadiran tukang pijat di kompleks masjid terhitung unik, karena setiap pengunjung dapat menikmati pijatan refleksi dengan tenang.

“Saya sendiri jadi ketagihan untuk dipijat, karena baru seminggu puasa sudah dua kali dipijat refleksi,” kata Anjar yang bekerja di salah satu pertokoan kawasan Pasar Baru. antara

Dikutip dari : www.republika.co.id (20 September 2007)

Categories: pijat story (cerita) | Leave a comment